Perempuan Indonesia Diajak Deteksi Dini Kanker Payudara Lewat Program Skrining Nasional
Jum'at, 07 November 2025 - 21:31 WIB
loading...
Deteksi dini adalah langkah paling efektif untuk menekan angka kematian akibat kanker payudara. Foto/Ist.
A
A
A
JAKARTA - Dalam rangka memperingati Bulan Kesadaran Kanker Payudara yang jatuh setiap Oktober, PT Cetta Satkaara (Satkaara Communications) berkolaborasi dengan SELANGKAH (Semangat Lawan Kanker) by Siloam International Hospitals (Siloam) menginisiasi program skrining kanker payudara gratis bagi perempuan Indonesia, khususnya para guru, insan media, dan keluarganya.
Inisiatif tersebut merupakan bentuk kepedulian Satkaara terhadap dua mitra utamanya yakni tenaga pendidik dan media, yang selama ini merupakan garda depan dalam membangun kesadaran publik.
Kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan edukasi kesehatan nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran pentingnya deteksi dini kanker payudara serta memperluas akses skrining bagi masyarakat.
Dari pihak rumah sakit, SELANGKAH by Siloam menyambut baik kemitraan ini sebagai langkah nyata memperluas akses layanan kesehatan preventif di Indonesia. Untuk itu, Satkaara Communications bersama tim SELANGKAH menyelenggarakan Webinar bertajuk Health Talk “Langkah Nyata Lawan Kanker Payudara: Dari Edukasi ke Aksi” pada Kamis malam, 6 November 2025.
“Deteksi dini adalah langkah paling efektif untuk menekan angka kematian akibat kanker payudara. Namun deteksi dini tidak akan berjalan tanpa kesadaran kolektif. Karena itu, kami sangat mengapresiasi inisiatif Satkaara Communications yang menggerakkan komunitas guru dan media, dua kelompok yang memiliki pengaruh besar dalam membangun budaya peduli kesehatan,” ujar PMO SELANGKAH, Vania Lundina, melalui siaran pers, Jumat (7/11/2025).
Dalam paparannya, General Practitioner - Breast Cancer Care Alliance MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, dr. Rosary menegaskan “Kanker payudara masih menjadi kasus kanker terbanyak pada perempuan di Indonesia. Kemudian 70% angka kematian pada penderita kanker payudara disebabkan karena sudah stadium lanjut.
Padahal, ketika ditemukan pada stadium awal, peluang kesembuhannya bisa mencapai hampir 100 persen. Karena itu, deteksi dini adalah langkah nyata paling penting untuk menyelamatkan lebih banyak perempuan.
Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dan pemeriksaan klinis oleh tenaga medis (SADANIS) sebaiknya dilakukan secara rutin. Selain deteksi dini, menjaga gaya hidup sehat seperti menjaga berat badan ideal, berolahraga teratur, dan menghindari alkohol dapat membantu menurunkan risiko kanker payudara. Edukasi seperti ini perlu terus digerakkan agar kesadaran masyarakat semakin kuat,” ujar dr. Rosary.
Menurut data GLOBOCAN 2022, Indonesia mencatat sekitar 408.661 kasus kanker baru, di mana 16,2% atau 66.271 kasus merupakan kanker payudara. Dari total 242.988 kematian akibat kanker, sekitar 9,3% atau 22.598 kematian disebabkan oleh kanker payudara (GLOBOCAN, Global Cancer Observatory, 2022).
Secara global, setiap tahun ada 2,3 juta kasus baru, atau sekitar 11,6% dari semua kasus kanker pada wanita. Angka kematian mencapai 666.000 kematian, kira-kira 6,9% dari semua kematian kanker pada wanita.
Ironisnya, di Indonesia sekitar 70% kasus baru terdeteksi pada stadium 3, padahal tingkat kesembuhan bisa mencapai hampir 100% pada stadium awal. Data ini menegaskan urgensi deteksi dini serta pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk edukasi kesehatan berkelanjutan di masyarakat.
Melihat kenyataan tersebut, Satkaara melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bertajuk Satkaara Berbagi mengambil peran aktif untuk berkontribusi pada isu kesehatan perempuan. Kolaborasi dengan SELANGKAH menjadi langkah konkret untuk menjembatani dunia komunikasi, pendidikan, dan kesehatan, agar pesan deteksi dini benar-benar sampai pada masyarakat luas.
“Perubahan perilaku dimulai dari mereka yang dipercaya publik. Guru dan jurnalis memiliki posisi strategis dalam membentuk kesadaran masyarakat. Melalui mereka, pesan tentang pentingnya deteksi dini bisa menjangkau lebih banyak orang dengan cara yang lebih personal dan relevan. kami ingin mereka menjadi bagian langsung dari gerakan edukasi kesehatan ini bersama keluarganya,” ujar Senior Advisor Satkaara Communications, Ruth Andriani.
Program SELANGKAH by Siloam menargetkan 50.000 perempuan di seluruh Indonesia di tahun 2025 untuk mendapatkan akses skrining kanker payudara gratis. Dari 41 jaringan Siloam International Hospitals, terdapat 35 Rumah Sakit tersebar di 18 provinsi dan 25 kota/kabupaten yang saat ini menjalankan program SELANGKAH melalui pemeriksaan USG dan mammografi.
Hingga November 2025, sebanyak lebih dari 50.000 perempuan telah mengikuti pemeriksaan, dengan temuan hampir mencapai 1% peserta menunjukkan indikasi keganasan (kategori BI-RADS 4–5) dan disarankan untuk pemeriksaan lanjutan.
Kolaborasi Satkaara dengan SELANGKAH tidak hanya menyentuh perempuan yang tersebar di 18 provinsi di seluruh Indonesia, namun juga tenaga pendidik asal Timor Leste.
Inisiatif tersebut merupakan bentuk kepedulian Satkaara terhadap dua mitra utamanya yakni tenaga pendidik dan media, yang selama ini merupakan garda depan dalam membangun kesadaran publik.
Kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan edukasi kesehatan nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran pentingnya deteksi dini kanker payudara serta memperluas akses skrining bagi masyarakat.
Dari pihak rumah sakit, SELANGKAH by Siloam menyambut baik kemitraan ini sebagai langkah nyata memperluas akses layanan kesehatan preventif di Indonesia. Untuk itu, Satkaara Communications bersama tim SELANGKAH menyelenggarakan Webinar bertajuk Health Talk “Langkah Nyata Lawan Kanker Payudara: Dari Edukasi ke Aksi” pada Kamis malam, 6 November 2025.
“Deteksi dini adalah langkah paling efektif untuk menekan angka kematian akibat kanker payudara. Namun deteksi dini tidak akan berjalan tanpa kesadaran kolektif. Karena itu, kami sangat mengapresiasi inisiatif Satkaara Communications yang menggerakkan komunitas guru dan media, dua kelompok yang memiliki pengaruh besar dalam membangun budaya peduli kesehatan,” ujar PMO SELANGKAH, Vania Lundina, melalui siaran pers, Jumat (7/11/2025).
Dalam paparannya, General Practitioner - Breast Cancer Care Alliance MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, dr. Rosary menegaskan “Kanker payudara masih menjadi kasus kanker terbanyak pada perempuan di Indonesia. Kemudian 70% angka kematian pada penderita kanker payudara disebabkan karena sudah stadium lanjut.
Padahal, ketika ditemukan pada stadium awal, peluang kesembuhannya bisa mencapai hampir 100 persen. Karena itu, deteksi dini adalah langkah nyata paling penting untuk menyelamatkan lebih banyak perempuan.
Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dan pemeriksaan klinis oleh tenaga medis (SADANIS) sebaiknya dilakukan secara rutin. Selain deteksi dini, menjaga gaya hidup sehat seperti menjaga berat badan ideal, berolahraga teratur, dan menghindari alkohol dapat membantu menurunkan risiko kanker payudara. Edukasi seperti ini perlu terus digerakkan agar kesadaran masyarakat semakin kuat,” ujar dr. Rosary.
Menurut data GLOBOCAN 2022, Indonesia mencatat sekitar 408.661 kasus kanker baru, di mana 16,2% atau 66.271 kasus merupakan kanker payudara. Dari total 242.988 kematian akibat kanker, sekitar 9,3% atau 22.598 kematian disebabkan oleh kanker payudara (GLOBOCAN, Global Cancer Observatory, 2022).
Secara global, setiap tahun ada 2,3 juta kasus baru, atau sekitar 11,6% dari semua kasus kanker pada wanita. Angka kematian mencapai 666.000 kematian, kira-kira 6,9% dari semua kematian kanker pada wanita.
Ironisnya, di Indonesia sekitar 70% kasus baru terdeteksi pada stadium 3, padahal tingkat kesembuhan bisa mencapai hampir 100% pada stadium awal. Data ini menegaskan urgensi deteksi dini serta pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk edukasi kesehatan berkelanjutan di masyarakat.
Melihat kenyataan tersebut, Satkaara melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bertajuk Satkaara Berbagi mengambil peran aktif untuk berkontribusi pada isu kesehatan perempuan. Kolaborasi dengan SELANGKAH menjadi langkah konkret untuk menjembatani dunia komunikasi, pendidikan, dan kesehatan, agar pesan deteksi dini benar-benar sampai pada masyarakat luas.
“Perubahan perilaku dimulai dari mereka yang dipercaya publik. Guru dan jurnalis memiliki posisi strategis dalam membentuk kesadaran masyarakat. Melalui mereka, pesan tentang pentingnya deteksi dini bisa menjangkau lebih banyak orang dengan cara yang lebih personal dan relevan. kami ingin mereka menjadi bagian langsung dari gerakan edukasi kesehatan ini bersama keluarganya,” ujar Senior Advisor Satkaara Communications, Ruth Andriani.
Program SELANGKAH by Siloam menargetkan 50.000 perempuan di seluruh Indonesia di tahun 2025 untuk mendapatkan akses skrining kanker payudara gratis. Dari 41 jaringan Siloam International Hospitals, terdapat 35 Rumah Sakit tersebar di 18 provinsi dan 25 kota/kabupaten yang saat ini menjalankan program SELANGKAH melalui pemeriksaan USG dan mammografi.
Hingga November 2025, sebanyak lebih dari 50.000 perempuan telah mengikuti pemeriksaan, dengan temuan hampir mencapai 1% peserta menunjukkan indikasi keganasan (kategori BI-RADS 4–5) dan disarankan untuk pemeriksaan lanjutan.
Kolaborasi Satkaara dengan SELANGKAH tidak hanya menyentuh perempuan yang tersebar di 18 provinsi di seluruh Indonesia, namun juga tenaga pendidik asal Timor Leste.
(nnz)
Lihat Juga :