Menyusuri Jejak Nabi Muhammad di Puncak Makkah
Minggu, 16 November 2025 - 13:36 WIB
loading...
A
A
A
Sebuah getaran halus terasa di dada; seperti diingatkan kembali bahwa perjalanan panjang umat manusia berujung pada sosok penuh kasih sepanjang masa.
Baca Juga : 5 Destinasi Wisata yang Wajib Dikunjungi di Korea saat Liburan Musim Dingin
Memasuki ruangan berikutnya, suasana berubah menjadi hangat. Dinding-dindingnya menampilkan maket Makkah tempo dahulu lengkap dengan jalur kafilah, sumur zamzam, hingga rumah Abdul Muthalib.
Ada pula rekaman suara yang menggambarkan hiruk pikuk Pasar Ukaz, tempat para penyair bertemu. Suara unta, pedagang, dan lafal syair menyatu dalam audio tiga dimensi. Sesaat, pengunjung dibawa ke masa di mana agama ini baru akan tumbuh.
Di ruangan paling gelap, hanya satu titik cahaya yang bergerak pelan di langit-langit. Di layar kaca melengkung, visualisasi Gua Hira ditampilkan—batu-batu, sempitnya ruang, dan kesunyian malam.
Sebuah suara lelaki kemudian terdengar berbunyi “Iqra" dengan nada yang bergetar. Di ruangan itu, para pengunjung tertegun tanpa suara. Seolah-olah gambaran itu hidup dan membawa kembali ke masa Nabi Muhammad SAW.
Tak jauh dari sana, museum menampilkan replika pedang, sandal, tongkat, dan bejana yang digunakan pada masa Nabi. Semua dikurasi dengan penjelasan rinci. Ada pula manuskrip Al-Qur’an tua yang ditampilkan di balik kaca tebal. Meski bukan mushaf asli zaman Nabi, tampilannya menimbulkan rasa haru—tulisan tangan para sahabat yang begitu rapi, seakan menanggung amanah besar untuk menjaga firman Allah SAW.
Baca Juga : 5 Destinasi Wisata yang Wajib Dikunjungi di Korea saat Liburan Musim Dingin
Memasuki ruangan berikutnya, suasana berubah menjadi hangat. Dinding-dindingnya menampilkan maket Makkah tempo dahulu lengkap dengan jalur kafilah, sumur zamzam, hingga rumah Abdul Muthalib.
Ada pula rekaman suara yang menggambarkan hiruk pikuk Pasar Ukaz, tempat para penyair bertemu. Suara unta, pedagang, dan lafal syair menyatu dalam audio tiga dimensi. Sesaat, pengunjung dibawa ke masa di mana agama ini baru akan tumbuh.
Di ruangan paling gelap, hanya satu titik cahaya yang bergerak pelan di langit-langit. Di layar kaca melengkung, visualisasi Gua Hira ditampilkan—batu-batu, sempitnya ruang, dan kesunyian malam.
Sebuah suara lelaki kemudian terdengar berbunyi “Iqra" dengan nada yang bergetar. Di ruangan itu, para pengunjung tertegun tanpa suara. Seolah-olah gambaran itu hidup dan membawa kembali ke masa Nabi Muhammad SAW.
Tak jauh dari sana, museum menampilkan replika pedang, sandal, tongkat, dan bejana yang digunakan pada masa Nabi. Semua dikurasi dengan penjelasan rinci. Ada pula manuskrip Al-Qur’an tua yang ditampilkan di balik kaca tebal. Meski bukan mushaf asli zaman Nabi, tampilannya menimbulkan rasa haru—tulisan tangan para sahabat yang begitu rapi, seakan menanggung amanah besar untuk menjaga firman Allah SAW.
Lihat Juga :