Bahaya Mikroplastik Mengintai Ibu Hamil: Penelitian Ungkap Paparan Hingga ke Janin
Sabtu, 22 November 2025 - 09:41 WIB
loading...
Penelitian tersebut menunjukkan adanya partikel mikroplastik yang ditemukan pada cairan amnion serta urin ibu hamil. Foto/Freepik.
A
A
A
JAKARTA - Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa mikroplastik kini telah berhasil menembus tubuh manusia. Penelitian tersebut menunjukkan adanya partikel mikroplastik yang ditemukan pada cairan amnion serta urin ibu hamil .
Menanggapi temuan tersebut, dr Ganot Sumulyo, SpOG, dosen Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan Fakultas Kedokteran IPB University, memberikan penjelasannya. Ia menyebut bahwa terdapat tiga jalur utama yang memungkinkan mikroplastik masuk ke tubuh ibu hamil.
Baca juga: Ada di Air Hujan, Mikroplastik Juga Sudah Mencemari Buah dan Sayuran
“Pertama, inhalasi udara yang mengandung debu dan serat plastik, terutama di wilayah perkotaan dan ruang tertutup. Partikel berukuran sangat kecil ini berpotensi menembus alveolus dan masuk ke aliran darah,” jelasnya.
Jalur kedua, lanjutnya, berasal dari konsumsi makanan maupun minuman seperti air dalam kemasan, seafood, dan bahan pangan yang dibungkus atau dipanaskan menggunakan plastik. Partikel nanoplastik ini dapat melewati dinding usus sebelum akhirnya masuk ke aliran darah.
“Ketiga, penyerapan melalui kulit, meski kontribusinya sangat kecil,” ungkapnya.
Baca juga: Hujan di Jakarta Mengandung Mikroplastik, Menkes dan Pramono Kompak Ajak Pakai Masker
dr Ganot turut menekankan bahwa meskipun plasenta berfungsi sebagai pelindung utama janin, sejumlah riset internasional menunjukkan bahwa partikel nano masih mampu menembus lapisan tersebut.
“Mikroplastik bahkan telah ditemukan pada plasenta manusia, mekonium, dan jaringan janin, menandakan potensi paparan sejak dalam kandungan,” jelasnya.
Ia juga memaparkan bahwa paparan mikroplastik dapat memicu berbagai efek, seperti peradangan, stres oksidatif, hingga gangguan fungsi dan distribusi nutrisi pada plasenta. Penelitian pada hewan pun memperlihatkan konsekuensi serupa, termasuk berat lahir rendah, hambatan pertumbuhan, dan perubahan perkembangan organ.
“Selain partikel plastik itu sendiri, bahan kimia aditif seperti phthalates dan BPA (Bisphenol A) juga dapat mengganggu keseimbangan hormon pertumbuhan dan reproduksi,” paparnya.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa pola hidup modern turut memperbesar risiko paparan mikroplastik, terutama dari kebiasaan mengonsumsi air kemasan, menggunakan makanan berbungkus plastik, memanaskan makanan dalam wadah plastik, hingga terpapar serat sintetis yang berasal dari tekstil di dalam ruangan.
Sebagai upaya mengurangi risiko, ia mendorong perlunya riset terpadu mengenai mikroplastik, mulai dari studi kohort ibu–anak, riset toksikokinetik, penelitian hewan dengan dosis yang realistis, serta penyusunan standar metode deteksi. Selain itu, edukasi kepada tenaga kesehatan dan masyarakat dinilai sangat penting agar pengurangan paparan bisa dilakukan secara bertahap dan efektif.
“Diperlukan juga edukasi publik mengenai penggunaan bahan plastik secara bijak, terutama bagi ibu hamil. Sebab, mikroplastik bukan hanya isu lingkungan, tetapi tantangan kesehatan reproduksi masa depan,” pungkasnya..
Menanggapi temuan tersebut, dr Ganot Sumulyo, SpOG, dosen Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan Fakultas Kedokteran IPB University, memberikan penjelasannya. Ia menyebut bahwa terdapat tiga jalur utama yang memungkinkan mikroplastik masuk ke tubuh ibu hamil.
Baca juga: Ada di Air Hujan, Mikroplastik Juga Sudah Mencemari Buah dan Sayuran
“Pertama, inhalasi udara yang mengandung debu dan serat plastik, terutama di wilayah perkotaan dan ruang tertutup. Partikel berukuran sangat kecil ini berpotensi menembus alveolus dan masuk ke aliran darah,” jelasnya.
Jalur kedua, lanjutnya, berasal dari konsumsi makanan maupun minuman seperti air dalam kemasan, seafood, dan bahan pangan yang dibungkus atau dipanaskan menggunakan plastik. Partikel nanoplastik ini dapat melewati dinding usus sebelum akhirnya masuk ke aliran darah.
“Ketiga, penyerapan melalui kulit, meski kontribusinya sangat kecil,” ungkapnya.
Baca juga: Hujan di Jakarta Mengandung Mikroplastik, Menkes dan Pramono Kompak Ajak Pakai Masker
dr Ganot turut menekankan bahwa meskipun plasenta berfungsi sebagai pelindung utama janin, sejumlah riset internasional menunjukkan bahwa partikel nano masih mampu menembus lapisan tersebut.
“Mikroplastik bahkan telah ditemukan pada plasenta manusia, mekonium, dan jaringan janin, menandakan potensi paparan sejak dalam kandungan,” jelasnya.
Ia juga memaparkan bahwa paparan mikroplastik dapat memicu berbagai efek, seperti peradangan, stres oksidatif, hingga gangguan fungsi dan distribusi nutrisi pada plasenta. Penelitian pada hewan pun memperlihatkan konsekuensi serupa, termasuk berat lahir rendah, hambatan pertumbuhan, dan perubahan perkembangan organ.
“Selain partikel plastik itu sendiri, bahan kimia aditif seperti phthalates dan BPA (Bisphenol A) juga dapat mengganggu keseimbangan hormon pertumbuhan dan reproduksi,” paparnya.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa pola hidup modern turut memperbesar risiko paparan mikroplastik, terutama dari kebiasaan mengonsumsi air kemasan, menggunakan makanan berbungkus plastik, memanaskan makanan dalam wadah plastik, hingga terpapar serat sintetis yang berasal dari tekstil di dalam ruangan.
Sebagai upaya mengurangi risiko, ia mendorong perlunya riset terpadu mengenai mikroplastik, mulai dari studi kohort ibu–anak, riset toksikokinetik, penelitian hewan dengan dosis yang realistis, serta penyusunan standar metode deteksi. Selain itu, edukasi kepada tenaga kesehatan dan masyarakat dinilai sangat penting agar pengurangan paparan bisa dilakukan secara bertahap dan efektif.
“Diperlukan juga edukasi publik mengenai penggunaan bahan plastik secara bijak, terutama bagi ibu hamil. Sebab, mikroplastik bukan hanya isu lingkungan, tetapi tantangan kesehatan reproduksi masa depan,” pungkasnya..
(nnz)
Lihat Juga :