Kepemimpinan dan Inovasi Indonesia di Mata Meutia Adryana
Selasa, 02 Desember 2025 - 11:00 WIB
loading...
Dalam ekosistem bisnis yang semakin terkoneksi secara global, banyak perusahaan dihadapkan pada dilema. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Dalam ekosistem bisnis yang semakin terkoneksi secara global, banyak perusahaan dihadapkan pada dilema: bagaimana menyeimbangkan cita rasa lokal dengan daya saing internasional. Di tengah arus globalisasi yang menuntut adaptasi cepat, muncul generasi baru pemimpin muda yang membawa sudut pandang segar — salah satunya adalah Meutia Adryana, pendiri sekaligus CEO STEB Group, jaringan agensi independen asal Indonesia yang kini beroperasi lintas negara.
Lahir pada 12 November 1991, Meutia dikenal sebagai salah satu pemimpin muda yang berhasil membawa agensi lokal menuju level global dalam waktu relatif singkat.
Di bawah kepemimpinannya, STEB Group — yang membawahi STEB Asia, Grow in Asia, dan STEB Europe — berfokus pada strategi komunikasi, pemasaran digital, dan inovasi berbasis manusia.
Kiprahnya telah mendapat pengakuan internasional melalui berbagai penghargaan, seperti Most Innovative Agency Leader of the Year (NEXT Awards 2025), 30 Under 30 Achiever of the Year (Mumbrella Asia), hingga Woman Leader of the Year (World HRD Congress).
Bagi Meutia, berpikir global bukan berarti meninggalkan akar lokal, melainkan memahami bagaimana nilai, budaya, dan manusia dapat menjadi kekuatan kompetitif yang membedakan.
“Kita sering melihat globalisasi sebagai soal ekspansi dan skala. Tapi bagi saya, global berarti punya cara berpikir yang terbuka, memahami keberagaman, beradaptasi dengan cepat, dan tetap punya identitas yang kuat,” ujarnya.
Latar belakang Meutia di bidang Humaniora dari Universitas Indonesia serta Sastra Prancis di Accord École de Langues, Paris, membentuk cara pandangnya terhadap dunia digital yang lebih berlapis: antara data dan empati, sistem dan budaya.
Perspektif ini pula yang menjadi dasar lahirnya STEB Group pada tahun 2020 — di tengah pandemi global, ketika banyak bisnis memilih bertahan alih-alih berekspansi. Keputusan berani itu menjadi titik balik kariernya.
“Sejak awal saya ingin membuktikan bahwa agensi independen dari Indonesia bisa bersuara di panggung global. Tantangannya bukan hanya soal kapasitas, tapi soal cara berpikir, apakah kita mampu melihat peluang global tanpa kehilangan nilai-nilai yang membuat kita unik,” tutur Meutia.
Visi global Meutia bukan sekadar soal ekspansi, tapi juga tentang membangun kontribusi nyata dari Indonesia untuk dunia. Dalam kepemimpinannya di STEB Group, ia menekankan tiga prinsip utama: inovasi digital, keberlanjutan bisnis, dan pengembangan talenta muda. Ia percaya, perusahaan yang bisa bertahan bukan hanya yang cepat beradaptasi, tapi juga yang punya nilai-nilai kuat di dalam sistemnya.
“Kalau kamu ingin loyalitas, bangunlah culture. Tapi kalau kamu ingin hasil, bangunlah sistem,” kata Meutia, mengutip filosofi kepemimpinan yang ia pegang teguh. “Keduanya tidak bisa dipisahkan. Budaya membuat orang betah, tapi sistem membuat visi bisa berjalan,” tambahnya.
Prinsip itu tercermin dalam arah jangka panjang STEB Group. Di satu sisi, perusahaan terus berinovasi dalam layanan digital dan strategi komunikasi lintas pasar. Di sisi lain, Meutia memastikan timnya memiliki ruang untuk belajar, bereksperimen, dan berkembang.
Ia juga aktif membimbing startup serta talenta muda melalui berbagai forum mentorship, seperti Founder Institute Jakarta dan program-program berbasis pengembangan ekosistem digital.
Dalam menjalankan misinya, Meutia memegang satu prinsip sederhana yang ia sebut sebagai “pegangan realitas”: “Hope for the best, prepare for the worst.” “Optimisme penting, tapi kesiapan itu kunci. Dalam bisnis global, perubahan bisa datang kapan saja. Kita harus cukup fleksibel untuk beradaptasi, tapi juga cukup konsisten untuk tetap pada arah visi,” ungkapnya.
Ke depan, Meutia berencana memperkuat posisi STEB Group sebagai agensi independen asal Indonesia yang mampu bersaing di pasar internasional. Strateginya meliputi ekspansi ke pasar Asia dan Eropa, kolaborasi dengan institusi pendidikan dan pemerintah, serta inisiatif keberlanjutan untuk mendukung industri kreatif Indonesia agar lebih terintegrasi dengan ekosistem global.
Bagi Meutia, kesuksesan sejati tidak berhenti pada pertumbuhan bisnis semata. “Tujuan akhirnya bukan sekadar agar STEB Group dikenal di luar negeri. Yang lebih penting adalah bagaimana perjalanan kami bisa membuka jalan bagi lebih banyak profesional Indonesia untuk percaya bahwa karya lokal punya tempat di panggung dunia,” tutupnya.
Lahir pada 12 November 1991, Meutia dikenal sebagai salah satu pemimpin muda yang berhasil membawa agensi lokal menuju level global dalam waktu relatif singkat.
Di bawah kepemimpinannya, STEB Group — yang membawahi STEB Asia, Grow in Asia, dan STEB Europe — berfokus pada strategi komunikasi, pemasaran digital, dan inovasi berbasis manusia.
Kiprahnya telah mendapat pengakuan internasional melalui berbagai penghargaan, seperti Most Innovative Agency Leader of the Year (NEXT Awards 2025), 30 Under 30 Achiever of the Year (Mumbrella Asia), hingga Woman Leader of the Year (World HRD Congress).
Bagi Meutia, berpikir global bukan berarti meninggalkan akar lokal, melainkan memahami bagaimana nilai, budaya, dan manusia dapat menjadi kekuatan kompetitif yang membedakan.
“Kita sering melihat globalisasi sebagai soal ekspansi dan skala. Tapi bagi saya, global berarti punya cara berpikir yang terbuka, memahami keberagaman, beradaptasi dengan cepat, dan tetap punya identitas yang kuat,” ujarnya.
Latar belakang Meutia di bidang Humaniora dari Universitas Indonesia serta Sastra Prancis di Accord École de Langues, Paris, membentuk cara pandangnya terhadap dunia digital yang lebih berlapis: antara data dan empati, sistem dan budaya.
Perspektif ini pula yang menjadi dasar lahirnya STEB Group pada tahun 2020 — di tengah pandemi global, ketika banyak bisnis memilih bertahan alih-alih berekspansi. Keputusan berani itu menjadi titik balik kariernya.
“Sejak awal saya ingin membuktikan bahwa agensi independen dari Indonesia bisa bersuara di panggung global. Tantangannya bukan hanya soal kapasitas, tapi soal cara berpikir, apakah kita mampu melihat peluang global tanpa kehilangan nilai-nilai yang membuat kita unik,” tutur Meutia.
Visi global Meutia bukan sekadar soal ekspansi, tapi juga tentang membangun kontribusi nyata dari Indonesia untuk dunia. Dalam kepemimpinannya di STEB Group, ia menekankan tiga prinsip utama: inovasi digital, keberlanjutan bisnis, dan pengembangan talenta muda. Ia percaya, perusahaan yang bisa bertahan bukan hanya yang cepat beradaptasi, tapi juga yang punya nilai-nilai kuat di dalam sistemnya.
“Kalau kamu ingin loyalitas, bangunlah culture. Tapi kalau kamu ingin hasil, bangunlah sistem,” kata Meutia, mengutip filosofi kepemimpinan yang ia pegang teguh. “Keduanya tidak bisa dipisahkan. Budaya membuat orang betah, tapi sistem membuat visi bisa berjalan,” tambahnya.
Prinsip itu tercermin dalam arah jangka panjang STEB Group. Di satu sisi, perusahaan terus berinovasi dalam layanan digital dan strategi komunikasi lintas pasar. Di sisi lain, Meutia memastikan timnya memiliki ruang untuk belajar, bereksperimen, dan berkembang.
Ia juga aktif membimbing startup serta talenta muda melalui berbagai forum mentorship, seperti Founder Institute Jakarta dan program-program berbasis pengembangan ekosistem digital.
Dalam menjalankan misinya, Meutia memegang satu prinsip sederhana yang ia sebut sebagai “pegangan realitas”: “Hope for the best, prepare for the worst.” “Optimisme penting, tapi kesiapan itu kunci. Dalam bisnis global, perubahan bisa datang kapan saja. Kita harus cukup fleksibel untuk beradaptasi, tapi juga cukup konsisten untuk tetap pada arah visi,” ungkapnya.
Ke depan, Meutia berencana memperkuat posisi STEB Group sebagai agensi independen asal Indonesia yang mampu bersaing di pasar internasional. Strateginya meliputi ekspansi ke pasar Asia dan Eropa, kolaborasi dengan institusi pendidikan dan pemerintah, serta inisiatif keberlanjutan untuk mendukung industri kreatif Indonesia agar lebih terintegrasi dengan ekosistem global.
Bagi Meutia, kesuksesan sejati tidak berhenti pada pertumbuhan bisnis semata. “Tujuan akhirnya bukan sekadar agar STEB Group dikenal di luar negeri. Yang lebih penting adalah bagaimana perjalanan kami bisa membuka jalan bagi lebih banyak profesional Indonesia untuk percaya bahwa karya lokal punya tempat di panggung dunia,” tutupnya.
(dra)
Lihat Juga :