Brand Lokal Edness Siap Gebrak Industri Fesyen Nasional
Senin, 12 Januari 2026 - 09:42 WIB
loading...
Pemilik sekaligus Creative Director Edness, Kayla Pranes Edward (kanan), Stafsus Wakil Ketua DPD Kartini Amir (kiri), dan Owner Edness Nes Nelya (tengah) di Jakarta, Minggu (11/1/2025). Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Brand lokal Edness by Kayla siap memperkuat posisi di industri fesyen nasional dengan mengusung konsep pemberdayaan dan kolaborasi digital. Kesiapan tersebut dilontarkan Pemilik sekaligus Creative Director Edness, Kayla Pranes Edward dalam acara 'Edness Milestone : 14 Years of Modesty and the Unveiling of Renewal' yang diselenggarakan di Top Golf Jakarta, Minggu (11/1/2025).
Turut hadir dalam acara tersebut aktor sekaligus model Rey Bong, influencer Zoe Annas Jackason dan Bunga Fathia. Juga Staf Khusus Wakil Ketua DPD Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kartini Amir dan Dewi Indriati Rano Karno.
Kayla mengatakan keberadaan brand ini tidak hanya berorientasi pada penjualan, tetapi juga ingin menghadirkan dampak sosial dan ekonomi bagi perempuan serta generasi muda. Menurut Kayla, salah satu kekuatan Edness terletak pada ekosistem digital yang mereka bangun melalui program afiliator lokapasar. Baca juga: JMFW 2026 Jadi Kiblat Modest Fashion Dunia, Libatkan 100 Desainer dan Targetkan Transaksi USD10 Juta
Melalui mekanisme ini, perempuan dari berbagai daerah dapat terlibat dalam bisnis fesyen melalui penjualan daring tanpa perlu modal besar. “Edness membawa spirit pemberdayaan perempuan dan generasi muda melalui platform digital, khususnya dengan program afiliator loka pasar. Kami berharap pertumbuhan brand Edness by Kayla ikut berkontribusi dalam meningkatkan skala ekonomi semua pihak yang terlibat dalam bisnis fesyen tersebut,” katanya.
Kayla menegaskan Edness bukan hanya menyasar pasar fesyen muslim , melainkan perempuan secara umum. Desain yang dikembangkan bersifat versatile sehingga dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan, baik kasual maupun semi formal.
“Sebetulnya Edness by Kayla tidak khusus untuk fesyen muslim. Desain kami dibuat versatile, sehingga bisa digunakan pada berbagai kesempatan. Dengan mix & match yang tepat, koleksi Edness by Kayla dapat dipakai oleh banyak perempuan sesuai gaya dan kebutuhan masing-masing,” jelasnya.
Dalam hal desain dan produksi, Edness mengunggulkan kenyamanan dan relevansi sebagai nilai utama. Kayla menyebut kualitas bahan, konstruksi potongan, hingga pemilihan detail menjadi prioritas agar pengguna merasa percaya diri sekaligus nyaman. “Keunggulan Edness by Kayla ada pada kualitas bahan, potongan yang nyaman, dan desain yang relevan dengan kebutuhan perempuan,” tuturnya.
Menariknya, perjalanan Edness bukanlah fenomena instan. Edness tumbuh melalui interaksi jangka panjang dengan pelanggan. Selama 14 tahun, brand ini menjalin hubungan erat dengan reseller dan konsumen yang memberi masukan langsung terhadap produk. “Kami tumbuh bersama reseller dan pelanggan selama 14 tahun, sehingga setiap produk dibuat berdasarkan pengalaman dan masukan langsung dari pelanggan kami,” imbuhnya.
Strategi tersebut membuat Edness memiliki kepekaan terhadap kebutuhan pasar, terutama perempuan usia produktif yang membutuhkan pakaian praktis, aman, dan tetap stylish. Ednes juga memanfaatkan media sosial dan marketplace untuk memperluas akses bagi konsumen yang berada di luar kota besar, terutama di era ekonomi digital yang kian berkembang.
Dengan ekosistem bisnis berbasis digital, desain yang adaptif, serta komitmen terhadap pemberdayaan perempuan, Edness optimistis dapat berkontribusi dalam memajukan industri fesyen nasional. Kayla menyatakan pihaknya akan terus memperkuat kanal distribusi, meningkatkan kualitas produk, serta memperluas kolaborasi dengan pelaku UMKM dan komunitas untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Staf Khusus Wakil Ketua DPD Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Kartini Amir menilai industri fesyen Indonesia menunjukkan perkembangan signifikan. Bahkan berpotensi menjadi kiblat mode baru di kawasan Asia Tenggara.
Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan kompetitif karena kekayaan budaya yang melimpah menjadi sumber inspirasi desain. Hal ini membuat karya fesyen lokal memiliki karakter kuat dan berbeda dari produk negara lain. “Brand fesyen lokal kita diminati karena punya detail craftsmanship dan cerita budaya yang unik,” ujarnya.
Kartini menjelaskan, perkembangan fesyen nasional terlihat pada dua sektor, yaitu mass market dan sektor premium berbasis budaya. Produk modest fashion, busana kasual, hingga pakaian siap pakai dinilai semakin kompetitif dan diserap pasar regional. Sementara karya premium berbasis batik, tenun, dan sulam etnik mulai menembus pameran internasional serta platform penjualan digital.
Pasar Asia Tenggara menjadi sasaran ekspor yang menjanjikan. Produk fesyen asal Indonesia disebut diminati konsumen dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam hingga Thailand karena dinilai berkualitas, nyaman, dan memiliki estetika khas. Baca juga: Tampil Modis Namun Tetap Syar'i, 4 Syarat Ini Wajib Muslimah Tahu!
Kartini menambahkan bahwa pertumbuhan sektor fesyen tidak lepas dari berkembangnya ekosistem ekonomi kreatif, UMKM fesyen, dan saluran pemasaran digital. Ia menilai dukungan kebijakan pemerintah dalam promosi internasional, peningkatan SDM kreatif, serta penguatan rantai pasok bahan baku akan memperkuat posisi Indonesia di pasar regional.
Dengan minat pasar luar negeri yang terus tumbuh serta penguatan daya saing domestik, dia yakin sektor fesyen akan menjadi salah satu motor ekonomi yang berpotensi membawa Indonesia menjadi kiblat mode di Asia Tenggara. “Jika industri kreatif dan modernisasi industri berjalan beriringan, Indonesia berpeluang menjadi pusat inspirasi mode di kawasan,” katanya.
Turut hadir dalam acara tersebut aktor sekaligus model Rey Bong, influencer Zoe Annas Jackason dan Bunga Fathia. Juga Staf Khusus Wakil Ketua DPD Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kartini Amir dan Dewi Indriati Rano Karno.
Kayla mengatakan keberadaan brand ini tidak hanya berorientasi pada penjualan, tetapi juga ingin menghadirkan dampak sosial dan ekonomi bagi perempuan serta generasi muda. Menurut Kayla, salah satu kekuatan Edness terletak pada ekosistem digital yang mereka bangun melalui program afiliator lokapasar. Baca juga: JMFW 2026 Jadi Kiblat Modest Fashion Dunia, Libatkan 100 Desainer dan Targetkan Transaksi USD10 Juta
Melalui mekanisme ini, perempuan dari berbagai daerah dapat terlibat dalam bisnis fesyen melalui penjualan daring tanpa perlu modal besar. “Edness membawa spirit pemberdayaan perempuan dan generasi muda melalui platform digital, khususnya dengan program afiliator loka pasar. Kami berharap pertumbuhan brand Edness by Kayla ikut berkontribusi dalam meningkatkan skala ekonomi semua pihak yang terlibat dalam bisnis fesyen tersebut,” katanya.
Kayla menegaskan Edness bukan hanya menyasar pasar fesyen muslim , melainkan perempuan secara umum. Desain yang dikembangkan bersifat versatile sehingga dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan, baik kasual maupun semi formal.
“Sebetulnya Edness by Kayla tidak khusus untuk fesyen muslim. Desain kami dibuat versatile, sehingga bisa digunakan pada berbagai kesempatan. Dengan mix & match yang tepat, koleksi Edness by Kayla dapat dipakai oleh banyak perempuan sesuai gaya dan kebutuhan masing-masing,” jelasnya.
Dalam hal desain dan produksi, Edness mengunggulkan kenyamanan dan relevansi sebagai nilai utama. Kayla menyebut kualitas bahan, konstruksi potongan, hingga pemilihan detail menjadi prioritas agar pengguna merasa percaya diri sekaligus nyaman. “Keunggulan Edness by Kayla ada pada kualitas bahan, potongan yang nyaman, dan desain yang relevan dengan kebutuhan perempuan,” tuturnya.
Menariknya, perjalanan Edness bukanlah fenomena instan. Edness tumbuh melalui interaksi jangka panjang dengan pelanggan. Selama 14 tahun, brand ini menjalin hubungan erat dengan reseller dan konsumen yang memberi masukan langsung terhadap produk. “Kami tumbuh bersama reseller dan pelanggan selama 14 tahun, sehingga setiap produk dibuat berdasarkan pengalaman dan masukan langsung dari pelanggan kami,” imbuhnya.
Strategi tersebut membuat Edness memiliki kepekaan terhadap kebutuhan pasar, terutama perempuan usia produktif yang membutuhkan pakaian praktis, aman, dan tetap stylish. Ednes juga memanfaatkan media sosial dan marketplace untuk memperluas akses bagi konsumen yang berada di luar kota besar, terutama di era ekonomi digital yang kian berkembang.
Dengan ekosistem bisnis berbasis digital, desain yang adaptif, serta komitmen terhadap pemberdayaan perempuan, Edness optimistis dapat berkontribusi dalam memajukan industri fesyen nasional. Kayla menyatakan pihaknya akan terus memperkuat kanal distribusi, meningkatkan kualitas produk, serta memperluas kolaborasi dengan pelaku UMKM dan komunitas untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Staf Khusus Wakil Ketua DPD Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Kartini Amir menilai industri fesyen Indonesia menunjukkan perkembangan signifikan. Bahkan berpotensi menjadi kiblat mode baru di kawasan Asia Tenggara.
Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan kompetitif karena kekayaan budaya yang melimpah menjadi sumber inspirasi desain. Hal ini membuat karya fesyen lokal memiliki karakter kuat dan berbeda dari produk negara lain. “Brand fesyen lokal kita diminati karena punya detail craftsmanship dan cerita budaya yang unik,” ujarnya.
Kartini menjelaskan, perkembangan fesyen nasional terlihat pada dua sektor, yaitu mass market dan sektor premium berbasis budaya. Produk modest fashion, busana kasual, hingga pakaian siap pakai dinilai semakin kompetitif dan diserap pasar regional. Sementara karya premium berbasis batik, tenun, dan sulam etnik mulai menembus pameran internasional serta platform penjualan digital.
Pasar Asia Tenggara menjadi sasaran ekspor yang menjanjikan. Produk fesyen asal Indonesia disebut diminati konsumen dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam hingga Thailand karena dinilai berkualitas, nyaman, dan memiliki estetika khas. Baca juga: Tampil Modis Namun Tetap Syar'i, 4 Syarat Ini Wajib Muslimah Tahu!
Kartini menambahkan bahwa pertumbuhan sektor fesyen tidak lepas dari berkembangnya ekosistem ekonomi kreatif, UMKM fesyen, dan saluran pemasaran digital. Ia menilai dukungan kebijakan pemerintah dalam promosi internasional, peningkatan SDM kreatif, serta penguatan rantai pasok bahan baku akan memperkuat posisi Indonesia di pasar regional.
Dengan minat pasar luar negeri yang terus tumbuh serta penguatan daya saing domestik, dia yakin sektor fesyen akan menjadi salah satu motor ekonomi yang berpotensi membawa Indonesia menjadi kiblat mode di Asia Tenggara. “Jika industri kreatif dan modernisasi industri berjalan beriringan, Indonesia berpeluang menjadi pusat inspirasi mode di kawasan,” katanya.
(poe)
Lihat Juga :