Aurelie Moeremans Ungkap Ketakutan Terbitkan Broken Strings, Sempat Diintimidasi
Senin, 26 Januari 2026 - 12:21 WIB
loading...
Aurelie Moremans akhirnya buka suara setelah bukunya Broken Strings viral. Foto/tangkapan layar Youtube
A
A
A
JAKARTA - Aurelie Moeremans akhirnya buka suara soal polemik buku yang ditulisnya yaitu Broken Strings setelah menjadi perbincangan publik. Dalam unggahan di akun YouTubenya, Mrs Aurelie, ia mengatakan, sejak awal menerbitkan buku tersebut dirinya sudah dibayangi rasa takut dan kecemasan.
Aurelie mengatakan, buku ini sebenarnya ditulis untuk dirinya pribadi sebagai diary. Namun akhirnya ia mendapat dukungan luas yang justru membawa proses penyembuhan emosional.
“Sebenarnya kan aku nulis diary ini kan untuk aku ya, bukan untuk di-publish,” ujar Aurelie.
Baca Juga : Jessica Iskandar Ungkap Trauma Masa Kecil Usai Baca Broken Strings
Ketakutan Aurelie sebelum buku itu ditulis adalah respons publik yang berpotensi balik menyerangnya. Selain itu, ia juga mengaku takut diancam lagi sehingga traumanya tidak bisa sepenuhnya hilang.
“Aku takut buku aku dibaca terlalu banyak orang. Ya takut aja gitu, kalau buku aku tuh bukannya membantu banyak orang tapi aku malah diserang lagi kayak dulu,” katanya.
“Ketakutan kedua aku adalah diancam lagi seperti waktu aku masih SMA. Udah lama banget sih tapi walaupun udah 16 tahun yang lalu tapi sampai sekarang tokoh yang ada di buku ini masih apa ya masih memantau setiap langkah aku gitu rasanya,” lanjut Aurelie.
Oleh karena itulah awal ia membagikan bukunya dalam bentuk pdf di link bio Instagram, ia memilih merilis versi bahasa Inggris lebih dulu untuk “cek ombak”.
Baca Juga : Postingan Lama Lula Lahfah Soal Hapus Tato Viral, Warganet Kaitkan dengan Kepergiannya
Dan ternyata kekhawatiran Aurelie terbukti, begitu buku tersebut keluar, langsung ada sosok yang sibuk memberi klarifikasi dan menurutnya sangat intimidatif.
“Begitu buku aku keluar dan belum banyak yang baca waktu itu udah ada satu pihak yang sibuk live di sosial media dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menurut aku sangat intimidatif,” ungkapnya.
Namun Aurelie mengaku, respons publik setelah buku versi bahasa Indonesianya dirilis justru membuatnya terkejut. Ia mengaku senang orang Indonesia saat ini lebih open minded dan dapat memberi respons lebih dewasa.
Dengan respons publik yang ada saat ini, Aurelie merasa dirinya yang dulu telah sembuh dan ia mendapat keadilan yang dulu tidak pernah ia rasakan. Ia juga merasa bangga karena kini isu child grooming menjadi pembahasan nasional.
Bahkan, pembahasan buku itu sampai ke DPR. Ia berharap dengan kasusnya yang sudah dibahas hingga ke meja DPR, bisa memberi dampak bagi korban-korban lainnya yang masih terabaikan.
“Dan yang paling aku kaget buku aku sampai dibahas di DPR supaya kasus-kasus kayak aku tuh nggak diabaikan lagi seperti kasus aku,” pungkas Aurelie.
Aurelie mengatakan, buku ini sebenarnya ditulis untuk dirinya pribadi sebagai diary. Namun akhirnya ia mendapat dukungan luas yang justru membawa proses penyembuhan emosional.
“Sebenarnya kan aku nulis diary ini kan untuk aku ya, bukan untuk di-publish,” ujar Aurelie.
Baca Juga : Jessica Iskandar Ungkap Trauma Masa Kecil Usai Baca Broken Strings
Ketakutan Aurelie sebelum buku itu ditulis adalah respons publik yang berpotensi balik menyerangnya. Selain itu, ia juga mengaku takut diancam lagi sehingga traumanya tidak bisa sepenuhnya hilang.
“Aku takut buku aku dibaca terlalu banyak orang. Ya takut aja gitu, kalau buku aku tuh bukannya membantu banyak orang tapi aku malah diserang lagi kayak dulu,” katanya.
“Ketakutan kedua aku adalah diancam lagi seperti waktu aku masih SMA. Udah lama banget sih tapi walaupun udah 16 tahun yang lalu tapi sampai sekarang tokoh yang ada di buku ini masih apa ya masih memantau setiap langkah aku gitu rasanya,” lanjut Aurelie.
Oleh karena itulah awal ia membagikan bukunya dalam bentuk pdf di link bio Instagram, ia memilih merilis versi bahasa Inggris lebih dulu untuk “cek ombak”.
Baca Juga : Postingan Lama Lula Lahfah Soal Hapus Tato Viral, Warganet Kaitkan dengan Kepergiannya
Dan ternyata kekhawatiran Aurelie terbukti, begitu buku tersebut keluar, langsung ada sosok yang sibuk memberi klarifikasi dan menurutnya sangat intimidatif.
“Begitu buku aku keluar dan belum banyak yang baca waktu itu udah ada satu pihak yang sibuk live di sosial media dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menurut aku sangat intimidatif,” ungkapnya.
Namun Aurelie mengaku, respons publik setelah buku versi bahasa Indonesianya dirilis justru membuatnya terkejut. Ia mengaku senang orang Indonesia saat ini lebih open minded dan dapat memberi respons lebih dewasa.
Dengan respons publik yang ada saat ini, Aurelie merasa dirinya yang dulu telah sembuh dan ia mendapat keadilan yang dulu tidak pernah ia rasakan. Ia juga merasa bangga karena kini isu child grooming menjadi pembahasan nasional.
Bahkan, pembahasan buku itu sampai ke DPR. Ia berharap dengan kasusnya yang sudah dibahas hingga ke meja DPR, bisa memberi dampak bagi korban-korban lainnya yang masih terabaikan.
“Dan yang paling aku kaget buku aku sampai dibahas di DPR supaya kasus-kasus kayak aku tuh nggak diabaikan lagi seperti kasus aku,” pungkas Aurelie.
(wur)
Lihat Juga :