Mengenal IBD, Penyakit Radang Usus Kronis yang Sering Disangka Gangguan Pencernaan Biasa

Selasa, 27 Januari 2026 - 08:40 WIB
loading...
Mengenal IBD, Penyakit...
Penyakit radang usus kronis seringkali disangka gangguan pencernaan biasa. Foto: ilustrasi
A A A
JAKARTA - Jumlah Kasus Inflammatory Bowel Disease (IBD) terus menunjukkan peningkatan, baik secara global maupun di Indonesia. Namun demikian, tingkat kesadaran masyarakat terhadap penyakit ini masih tergolong rendah.

Hal itu menyebabkan banyak pasien tidak mengenali gejalanya sejak dini dan baru mendapatkan diagnosis ketika penyakit telah berkembang lebih lanjut.

Perlu diketahui bahwa IBD merupakan penyakit radang usus kronis yang hingga kini masih kerap disalahartikan sebagai gangguan pencernaan biasa. Padahal, penyakit ini bersifat progresif.

Penyakit ini bisa berlangsung jangka panjang, dan dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius bila tidak ditangani secara tepat sejak dini.

Baca Juga : Sering Dikonsumsi, Makanan dan Minuman Ini Diam-diam Bisa Merusak Usus

IBD adalah kondisi inflamasi kronis pada saluran cerna yang terjadi akibat interaksi kompleks antara faktor genetik, sistem imun, lingkungan, serta mikrobiota usus. Dua bentuk utama IBD, yakni Crohn’s disease dan ulcerative colitis, sering kali menunjukkan gejala yang tidak spesifik seperti nyeri perut berulang, diare kronis, penurunan berat badan, anemia, hingga kelelahan.

Gejala-gejala ini kerap disangka sebagai maag, irritable bowel syndrome (IBS), atau infeksi saluran cerna biasa. Kesamaan gejala tersebut membuat banyak pasien IBD baru mendapatkan diagnosis ketika penyakit sudah berkembang lebih lanjut.

Padahal, keterlambatan diagnosis dan terapi dapat meningkatkan risiko perburukan penyakit, rawat inap berulang, hingga komplikasi serius seperti perdarahan saluran cerna, obstruksi usus, fistula, serta peningkatan risiko kanker kolorektal.

Prof. dr. Marcellus Simadibrata, Ph.D, Sp.PD-KGEH, FACG, FASGE, FINASIM, Spesialis Penyakit Dalam bidang Gastroenterologi-Hepatologi di RS Abdi Waluyo mengatakan, penegakan diagnosis IBD sendiri membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan teliti.

Baca Juga : Mengenal Kolonoskopi, Prosedur Pemeriksaan Usus yang Sempat Akan Dijalani Lula Lahfah

Selain evaluasi klinis, diagnosis perlu didukung oleh pemeriksaan endoskopi, histopatologi, serta pemeriksaan penunjang lainnya untuk membedakan IBD dari penyakit lain yang menyerupai, termasuk infeksi saluran cerna dan tuberkulosis usus yang masih cukup tinggi prevalensinya di Indonesia.

“Setelah diagnosis IBD ditegakkan, tantangan terbesar berikutnya adalah menentukan strategi penanganan yang tepat sejak dini. Keterlambatan diagnosis maupun inisiasi terapi dapat meningkatkan risiko perburukan penyakit, rawat inap berulang, hingga komplikasi serius seperti perdarahan, obstruksi usus, fistula, dan peningkatan risiko kanker kolorektal," jelas Prof Marcel.

Prof. Marcel menegaskan bahwa penanganan IBD tidak dapat dilakukan secara sederhana atau seragam. Setelah diagnosis, pasien perlu melalui evaluasi komprehensif yang mencakup penilaian aktivitas penyakit, eksklusi infeksi tersembunyi, serta penentuan target terapi yang jelas.

“Pendekatan treat-to-target harus menjadi bagian dari praktik klinik, dengan tujuan tidak hanya mengendalikan gejala, tetapi juga mencapai penyembuhan mukosa dan mencegah kerusakan jangka panjang,” ungkapnya.

Di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, angka kejadian IBD memang masih relatif lebih rendah dibandingkan negara Barat. Namun berbagai studi menunjukkan tren peningkatan kasus yang konsisten dari tahun ke tahun, seiring perubahan gaya hidup dan lingkungan.

Kondisi ini menuntut peningkatan kewaspadaan klinis serta kesiapan sistem layanan kesehatan dalam mengenali dan menangani IBD secara lebih dini dan tepat.

Upaya peningkatan pemahaman mengenai IBD juga terus dilakukan melalui berbagai forum ilmiah. Salah satunya melalui penyelenggaraan IBD Update 2026: Updates on Diagnosis and Management of Inflammatory Bowel Disease, yang digelar RS Abdi Waluyo.

Melalui gelaran ini, para pakar nasional dan regional dipertemukan untuk membahas perkembangan terkini terkait diagnosis dan tata laksana IBD. Kegiatan ini diselenggarakan bekerja sama dengan Asian Education Network in IBD (AEN-IBD) dan Perhimpunan Gastroenterologi Indonesia (PGI) pada 23–24 Januari 2026 di Jakarta.

Tidak hanya melalui forum ilmiah, RS Abdi Waluyo juga mengembangkan RS Abdi Waluyo IBD Center sebagai pusat layanan IBD pertama di Indonesia. Pusat ini mengusung konsep one-stop service dengan pendekatan holistik dan multidisiplin, yang mengintegrasikan layanan diagnosis, terapi, pemantauan jangka panjang, hingga dukungan berbagai spesialis dan subspesialis sesuai kebutuhan pasien.

Sebagai bagian dari penguatan layanan, RS Abdi Waluyo juga menyediakan Intestinal Ultrasound (IUS) sebagai metode diagnostik dan monitoring noninvasif, yang memungkinkan penilaian aktivitas penyakit secara lebih aman dan berulang. Pendekatan ini mendukung pengambilan keputusan klinis yang lebih akurat dan berorientasi pada hasil jangka panjang pasien.
(wur)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tembus Pasar Global,...
Tembus Pasar Global, Brand Lokal Queensi Sukses Cetak Rekor 1 Juta Penjualan
Peringatan WDHD 2026,...
Peringatan WDHD 2026, Orang Tua Diajak Pahami Kesehatan Saluran Cerna Anak
7 Manfaat Konsumsi Lemon...
7 Manfaat Konsumsi Lemon Hangat di Pagi Hari, Bisa Turunkan Risiko Kena Batu Ginjal
Tak Harus Minum Obat,...
Tak Harus Minum Obat, Ini Tips Menkes Budi Sadikin Agar Maag Tak Kambuh saat Puasa
Sering Sembelit Saat...
Sering Sembelit Saat Puasa? Ini 5 Tips Agar Pencernaan Tetap Lancar
Inul Daratista Pingsan...
Inul Daratista Pingsan di Lokasi Syuting, Ini Penyebabnya
Berapa Kebutuhan Serat...
Berapa Kebutuhan Serat Harian Orang Dewasa? Guru Besar IPB Ungkap Angka Idealnya
Pencernaan Sehat, Kunci...
Pencernaan Sehat, Kunci Tumbuh Kembang Optimal Anak
Pusat Khusus Radang...
Pusat Khusus Radang Usus Pertama di Indonesia Hadir di Jakarta
Rekomendasi
Masa Penahanan Dadan...
Masa Penahanan Dadan Hindayana Cs Diperpanjang 40 Hari ke Depan
FIFA Hukum Assim Madibo...
FIFA Hukum Assim Madibo 5 Laga Usai Patahkan Kaki Gelandang Kanada
Deklarasi Kebangsaan,...
Deklarasi Kebangsaan, Gabungan Aliansi BEM Nasional Serukan 5 Tuntutan
Berita Terkini
Sinopsis Sinetron Tobat...
Sinopsis Sinetron 'Tobat Jatuh Cinta' Eps 4: Tingkah Lucu Warga Kampung Sindang Barang Tetap Mewarnai Suasana
Sarwendah Undang Ruben...
Sarwendah Undang Ruben Onsu Bertemu 11 Juli, Konflik Keluarga Diharapkan Berakhir Damai
Stephanie MCI Ungkap...
Stephanie MCI Ungkap Pengalaman Seram saat Menginap di Vila Bali
Perluas Lini Produk,...
Perluas Lini Produk, SOME BY MI Luncurkan Cica Anti Hair Loss Hair Serum
Menkes Soroti Konsumsi...
Menkes Soroti Konsumsi Mayones Berlebihan, Satu Sendok Mengandung 100 Kalori
Soroti Kasus Penyekapan...
Soroti Kasus Penyekapan di Bandung, Veronica Tan Ingatkan Bahaya Hubungan Toxic
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved