Agoye Mahendra Ungkap Isu Sensitif yang Diangkat Sinetron AIRA
Senin, 02 Februari 2026 - 19:25 WIB
loading...
Agoye Mahendra pada peluncuran dan nobar sinetron AIRA. Foto: MNC Pictures
A
A
A
JAKARTA - Aktor Agoye Mahendra mengungkapkan bahwa sinetron AIRA tidak hanya menyajikan drama emosional, tetapi juga mengangkat isu yang sangat relevan dengan realitas sosial saat ini, yakni kekerasan seksual terhadap perempuan. Dalam sinetron produksi MNC Pictures tersebut, Agoye Mahendra berperan sebagai Edwin, salah satu karakter kunci dalam perjalanan hidup Aira.
Menurut Agoye, AIRA menyoroti bagaimana korban kekerasan seksual kerap menghadapi tekanan berlapis setelah peristiwa traumatis terjadi. Bukan hanya luka personal, tetapi juga stigma, hujatan, hingga pertanyaan menyudutkan dari lingkungan sekitar.
“Isu yang diangkat sangat dekat dengan dunia sekarang. Bukan soal kejadian kekerasannya saja, tetapi bagaimana korban ini ke depannya, apakah hanya mendapat hujatan dan pertanyaan yang menyalahkan, atau justru empati dari masyarakat,” ujar Agoye Mahendra.
Baca Juga : Syukuran dan Nobar Tayangan Perdana Sinetron AIRA Digelar Meriah
Ia menilai, dalam banyak kasus korban justru dipertanyakan dan disudutkan, alih-alih dilindungi. Hal inilah yang coba diangkat melalui karakter Aira, seorang perempuan muda yang berusaha bertahan di tengah tekanan psikologis dan sosial yang berat.
“Biasanya yang dilihat orang justru ‘kenapa bisa jadi korban’, bukan bagaimana membantu korban itu sendiri,” lanjutnya.
Agoye Mahendra menambahkan, AIRA menggambarkan pergulatan batin seorang perempuan yang berada di persimpangan sulit antara bertahan menghadapi kenyataan atau menyerah pada keadaan. Konflik tersebut dikemas secara emosional agar penonton dapat memahami sudut pandang korban secara lebih manusiawi.
Baca Juga : Sarah Beatrix Ungkap Antusias Perani Sinetron AIRA: Ceritanya Bikin Emosi Campur Aduk
Sinetron AIRA tayang setiap hari pukul 17.00 WIB di RCTI dan juga dapat disaksikan melalui platform RCTI+. Agoye Mahendra berharap tayangan ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga membuka ruang empati dan kesadaran penonton terhadap isu kekerasan seksual.
“Cerita ini tentang perjuangan. Apakah dia bertahan atau menyerah, itu yang akan terus berkembang di AIRA. Saksikan terus,” tutup Agoye.
Menurut Agoye, AIRA menyoroti bagaimana korban kekerasan seksual kerap menghadapi tekanan berlapis setelah peristiwa traumatis terjadi. Bukan hanya luka personal, tetapi juga stigma, hujatan, hingga pertanyaan menyudutkan dari lingkungan sekitar.
“Isu yang diangkat sangat dekat dengan dunia sekarang. Bukan soal kejadian kekerasannya saja, tetapi bagaimana korban ini ke depannya, apakah hanya mendapat hujatan dan pertanyaan yang menyalahkan, atau justru empati dari masyarakat,” ujar Agoye Mahendra.
Baca Juga : Syukuran dan Nobar Tayangan Perdana Sinetron AIRA Digelar Meriah
Ia menilai, dalam banyak kasus korban justru dipertanyakan dan disudutkan, alih-alih dilindungi. Hal inilah yang coba diangkat melalui karakter Aira, seorang perempuan muda yang berusaha bertahan di tengah tekanan psikologis dan sosial yang berat.
“Biasanya yang dilihat orang justru ‘kenapa bisa jadi korban’, bukan bagaimana membantu korban itu sendiri,” lanjutnya.
Agoye Mahendra menambahkan, AIRA menggambarkan pergulatan batin seorang perempuan yang berada di persimpangan sulit antara bertahan menghadapi kenyataan atau menyerah pada keadaan. Konflik tersebut dikemas secara emosional agar penonton dapat memahami sudut pandang korban secara lebih manusiawi.
Baca Juga : Sarah Beatrix Ungkap Antusias Perani Sinetron AIRA: Ceritanya Bikin Emosi Campur Aduk
Sinetron AIRA tayang setiap hari pukul 17.00 WIB di RCTI dan juga dapat disaksikan melalui platform RCTI+. Agoye Mahendra berharap tayangan ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga membuka ruang empati dan kesadaran penonton terhadap isu kekerasan seksual.
“Cerita ini tentang perjuangan. Apakah dia bertahan atau menyerah, itu yang akan terus berkembang di AIRA. Saksikan terus,” tutup Agoye.
(wur)
Lihat Juga :