Catatan Pilu Asma Nadia 20 Tahun Lalu di Korea: dari Sorakan Rasis hingga Fasilitas Wudhu yang Manis
Selasa, 03 Februari 2026 - 20:44 WIB
loading...
Apa hubungan antara Ginseng Korea yang legendaris dengan langkanya minyak sayur di dapur kita? Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Apa hubungan antara Ginseng Korea yang legendaris dengan langkanya minyak sayur di dapur kita? Sekilas tidak ada, namun jika kita membedah filosofi di baliknya, kita akan menemukan sebuah tamparan keras bagi kebijakan bangsa kita.
Saat mengunjungi pusat industri ginseng di Korea Selatan bersama para penulis Diamond KBM App—Bunga BTP, Dwi Indrawati, Majarani, Ka_Umay, Yazmin_Aisyah, FebriYthi, Julli_Nobasa, hingga Lebah Ratih—saya menemukan sebuah fakta yang menggetarkan hati.
Kesabaran di Balik Akar Ajaib
Ginseng bukan tumbuhan sembarangan. Ia adalah tanaman yang "manja" sekaligus "perkasa". Tidak semua tanah bisa menampungnya; butuh ketinggian dan tingkat kesuburan yang presisi.
Faktanya, ginseng terbaik baru bisa dipanen setelah 6 tahun. Selama masa itu, ginseng menyerap seluruh saripati tanah tanpa sisa. Akibatnya, setelah panen, tanah tersebut menjadi "lelah" dan harus diistirahatkan selama 8 hingga 10 tahun. Selama masa itu, tanah tidak boleh ditanami apapun agar nutrisinya pulih kembali.
Bayangkan, petani harus menunggu total belasan tahun hanya untuk satu siklus panen terbaik!
Filosofi "Yang Terbaik Hanya untuk Bangsa Sendiri"
Inilah bagian yang paling menarik sekaligus menyentil. Ginseng memiliki kasta:
Usia 1 tahun: Dipanen sebagai bumbu masak (ginseng muda).
Usia 3 tahun: Mulai digunakan untuk bahan kosmetik dan obat ringan.
Usia 6 tahun: Inilah kasta tertinggi, sang "Raja Obat".
Dan tahukah Anda? Pemerintah Korea sangat protektif terhadap ginseng usia 6 tahun ini. Kualitas terbaik ini diprioritaskan untuk dikonsumsi rakyat mereka sendiri. Ada aturan ketat mengenai ekspornya; mereka ingin memastikan bahwa kesehatan dan keunggulan bangsa Korea adalah yang utama. Mereka memberikan "emas" kepada rakyatnya, dan menjual "perak" ke luar negeri.
Ironi di Balik Minyak Sayur dan Mie Instan
Seketika, ingatan saya melayang ke tanah air. Masih ingatkah saat kita mengantre panjang demi seliter minyak sayur?
Indonesia adalah eksportir minyak sawit (CPO) terbesar di dunia. Namun, sungguh ironis ketika negeri yang membanjiri dunia dengan minyak, justru membiarkan rakyatnya sendiri kehabisan stok di pasar domestik. Kita seolah lebih sibuk memuaskan pasar asing dan mengejar devisa, sementara kebutuhan mendasar bangsa sendiri dikesampingkan.
Hal yang sama terjadi pada minyak bumi. Minyak kualitas terbaik dari bumi kita diekspor agar dinikmati bangsa asing, sementara untuk kebutuhan dalam negeri, kita justru mengimpor minyak dengan kualitas yang lebih rendah.
Bahkan dalam urusan makanan instan sekalipun. Saya teringat cerita di Belanda; bagaimana produk mie instan asal Indonesia harus mengubah komposisinya dan membuang zat berbahaya agar boleh dijual di sana. Namun, zat yang dilarang di Eropa tersebut tetap tenang-tenang saja ada dalam bahan yang kita konsumsi di Indonesia sehari-hari.
Belajar dari Semangat Korea
Dari ladang ginseng, kita belajar tentang Nasionalisme Kualitas. Bangsa Korea sadar bahwa kemajuan negara dimulai dari memberikan yang terbaik untuk rakyatnya sendiri. Mereka tidak menjual "nyawa" dan "kesehatan" bangsanya demi sekadar angka ekspor.
Sudah saatnya kita belajar memberikan yang terbaik untuk bangsa sendiri. Jangan sampai kita menjadi orang kaya yang mati kelaparan di lumbung sendiri karena terlalu sibuk melayani meja makan bangsa lain.
Saat mengunjungi pusat industri ginseng di Korea Selatan bersama para penulis Diamond KBM App—Bunga BTP, Dwi Indrawati, Majarani, Ka_Umay, Yazmin_Aisyah, FebriYthi, Julli_Nobasa, hingga Lebah Ratih—saya menemukan sebuah fakta yang menggetarkan hati.
Kesabaran di Balik Akar Ajaib
Ginseng bukan tumbuhan sembarangan. Ia adalah tanaman yang "manja" sekaligus "perkasa". Tidak semua tanah bisa menampungnya; butuh ketinggian dan tingkat kesuburan yang presisi.
Faktanya, ginseng terbaik baru bisa dipanen setelah 6 tahun. Selama masa itu, ginseng menyerap seluruh saripati tanah tanpa sisa. Akibatnya, setelah panen, tanah tersebut menjadi "lelah" dan harus diistirahatkan selama 8 hingga 10 tahun. Selama masa itu, tanah tidak boleh ditanami apapun agar nutrisinya pulih kembali.
Bayangkan, petani harus menunggu total belasan tahun hanya untuk satu siklus panen terbaik!
Filosofi "Yang Terbaik Hanya untuk Bangsa Sendiri"
Inilah bagian yang paling menarik sekaligus menyentil. Ginseng memiliki kasta:
Usia 1 tahun: Dipanen sebagai bumbu masak (ginseng muda).
Usia 3 tahun: Mulai digunakan untuk bahan kosmetik dan obat ringan.
Usia 6 tahun: Inilah kasta tertinggi, sang "Raja Obat".
Dan tahukah Anda? Pemerintah Korea sangat protektif terhadap ginseng usia 6 tahun ini. Kualitas terbaik ini diprioritaskan untuk dikonsumsi rakyat mereka sendiri. Ada aturan ketat mengenai ekspornya; mereka ingin memastikan bahwa kesehatan dan keunggulan bangsa Korea adalah yang utama. Mereka memberikan "emas" kepada rakyatnya, dan menjual "perak" ke luar negeri.
Ironi di Balik Minyak Sayur dan Mie Instan
Seketika, ingatan saya melayang ke tanah air. Masih ingatkah saat kita mengantre panjang demi seliter minyak sayur?
Indonesia adalah eksportir minyak sawit (CPO) terbesar di dunia. Namun, sungguh ironis ketika negeri yang membanjiri dunia dengan minyak, justru membiarkan rakyatnya sendiri kehabisan stok di pasar domestik. Kita seolah lebih sibuk memuaskan pasar asing dan mengejar devisa, sementara kebutuhan mendasar bangsa sendiri dikesampingkan.
Hal yang sama terjadi pada minyak bumi. Minyak kualitas terbaik dari bumi kita diekspor agar dinikmati bangsa asing, sementara untuk kebutuhan dalam negeri, kita justru mengimpor minyak dengan kualitas yang lebih rendah.
Bahkan dalam urusan makanan instan sekalipun. Saya teringat cerita di Belanda; bagaimana produk mie instan asal Indonesia harus mengubah komposisinya dan membuang zat berbahaya agar boleh dijual di sana. Namun, zat yang dilarang di Eropa tersebut tetap tenang-tenang saja ada dalam bahan yang kita konsumsi di Indonesia sehari-hari.
Belajar dari Semangat Korea
Dari ladang ginseng, kita belajar tentang Nasionalisme Kualitas. Bangsa Korea sadar bahwa kemajuan negara dimulai dari memberikan yang terbaik untuk rakyatnya sendiri. Mereka tidak menjual "nyawa" dan "kesehatan" bangsanya demi sekadar angka ekspor.
Sudah saatnya kita belajar memberikan yang terbaik untuk bangsa sendiri. Jangan sampai kita menjadi orang kaya yang mati kelaparan di lumbung sendiri karena terlalu sibuk melayani meja makan bangsa lain.
(dra)
Lihat Juga :