Kasus Kanker Usia di Bawah 30 Tahun Meningkat, Gaya Hidup Jadi Sorotan
Kamis, 12 Februari 2026 - 09:21 WIB
loading...
Fenomena kasus kanker pada kelompok usia muda menjadi perhatian serius kalangan medis. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Fenomena kasus kanker pada kelompok usia muda menjadi perhatian serius kalangan medis. Dalam satu dekade terakhir, dokter menemukan kecenderungan pasien kanker datang dari kelompok usia yang semakin belia, bahkan di bawah 30 tahun.
Hal tersebut disampaikan dr. Seno Budi Santoso dalam seminar medis bertema “Advancing Cancer Care in Indonesia” yang dihadiri lebih dari 100 dokter dari berbagai fasilitas layanan kesehatan di Hotel Sultan Jakarta.
“Dalam satu dekade terakhir, kami melihat tren usia penderita kanker semakin muda. Banyak pasien yang kami tangani bahkan berusia di bawah 30 tahun,” ujar dr. Seno.
Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi kondisi tersebut, mulai dari faktor genetik hingga lingkungan. Selain itu, gaya hidup turut berperan dalam meningkatkan risiko kanker.
“Konsumsi alkohol, minuman manis, rokok, serta asupan gula berlebihan menjadi faktor gaya hidup yang dapat memicu kanker. Ada faktor yang bisa dikendalikan, ada juga yang tidak,” tutur dia.
dr. Seno juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai perubahan pola buang air besar sebagai salah satu gejala yang perlu diperhatikan, terutama pada kanker saluran cerna.
“Jika biasanya buang air besar rutin sehari sekali lalu berubah menjadi lebih sering atau justru lebih lama, itu perlu diwaspadai dan diperiksa,” kata dr. Seno.
Terkait pola makan, dr. Seno menambahkan konsumsi daging olahan seperti sosis yang berasal dari daging merah dan dicampur zat pengawet dapat menjadi pemicu kanker bila dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang.
“Produk tersebut memang telah melalui pengawasan dan dinyatakan aman, tetapi tetap harus dikonsumsi dalam jumlah wajar karena risiko muncul melalui proses akumulasi,” ujarnya.
Seminar yang juga menghadirkan narasumber ahli lainnya, seperti dr. Junan Imaniar Pribadi, dokter spesialis kedokteran nuklir dari RS EMC Graha Kedoya dan Dr. Denni Joko Purwanto, konsultan bedah onkologi dari RS EMC Alam Sutra.
Kegiatan yang rutin digelar EMC Healthcare secara gratis ini memang menjadi komitmen EMC dalam mendukung peningkatan kompetensi dan profesionalisme dokter secara berkelanjutan.
Sementara, Dr. dr. Denni Joko Purwanto menyoroti kasus kanker payudara di Indonesia. Dia menyebut frekuensi kejadian kanker payudara memang lebih tinggi di negara maju, tetapi tingkat keganasannya di negara berkembang, termasuk Indonesia, tergolong tinggi.
“Setiap populasi memiliki karakteristik berbeda. Di negara berkembang seperti kita, tingkat keganasan relatif tinggi karena banyak terjadi pada usia produktif,” kata dr. Denni.
Dijelaskan lebih lanjut, gaya hidup berpengaruh terhadap risiko kanker payudara karena penyakit ini berkaitan erat dengan faktor hormonal. Oleh sebab itu, literasi dan edukasi kepada masyarakat menjadi kunci utama dalam pengendalian kanker.
“Dasar penanganan kanker adalah deteksi dini. Saat ini fasilitas seperti USG sudah tersedia hingga puskesmas. Yang perlu diperkuat adalah komunikasi dan edukasi kepada perempuan agar mau melakukan pemeriksaan lebih awal,” ujar dia.
Hal tersebut disampaikan dr. Seno Budi Santoso dalam seminar medis bertema “Advancing Cancer Care in Indonesia” yang dihadiri lebih dari 100 dokter dari berbagai fasilitas layanan kesehatan di Hotel Sultan Jakarta.
“Dalam satu dekade terakhir, kami melihat tren usia penderita kanker semakin muda. Banyak pasien yang kami tangani bahkan berusia di bawah 30 tahun,” ujar dr. Seno.
Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi kondisi tersebut, mulai dari faktor genetik hingga lingkungan. Selain itu, gaya hidup turut berperan dalam meningkatkan risiko kanker.
“Konsumsi alkohol, minuman manis, rokok, serta asupan gula berlebihan menjadi faktor gaya hidup yang dapat memicu kanker. Ada faktor yang bisa dikendalikan, ada juga yang tidak,” tutur dia.
dr. Seno juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai perubahan pola buang air besar sebagai salah satu gejala yang perlu diperhatikan, terutama pada kanker saluran cerna.
“Jika biasanya buang air besar rutin sehari sekali lalu berubah menjadi lebih sering atau justru lebih lama, itu perlu diwaspadai dan diperiksa,” kata dr. Seno.
Terkait pola makan, dr. Seno menambahkan konsumsi daging olahan seperti sosis yang berasal dari daging merah dan dicampur zat pengawet dapat menjadi pemicu kanker bila dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang.
“Produk tersebut memang telah melalui pengawasan dan dinyatakan aman, tetapi tetap harus dikonsumsi dalam jumlah wajar karena risiko muncul melalui proses akumulasi,” ujarnya.
Seminar yang juga menghadirkan narasumber ahli lainnya, seperti dr. Junan Imaniar Pribadi, dokter spesialis kedokteran nuklir dari RS EMC Graha Kedoya dan Dr. Denni Joko Purwanto, konsultan bedah onkologi dari RS EMC Alam Sutra.
Kegiatan yang rutin digelar EMC Healthcare secara gratis ini memang menjadi komitmen EMC dalam mendukung peningkatan kompetensi dan profesionalisme dokter secara berkelanjutan.
Sementara, Dr. dr. Denni Joko Purwanto menyoroti kasus kanker payudara di Indonesia. Dia menyebut frekuensi kejadian kanker payudara memang lebih tinggi di negara maju, tetapi tingkat keganasannya di negara berkembang, termasuk Indonesia, tergolong tinggi.
“Setiap populasi memiliki karakteristik berbeda. Di negara berkembang seperti kita, tingkat keganasan relatif tinggi karena banyak terjadi pada usia produktif,” kata dr. Denni.
Dijelaskan lebih lanjut, gaya hidup berpengaruh terhadap risiko kanker payudara karena penyakit ini berkaitan erat dengan faktor hormonal. Oleh sebab itu, literasi dan edukasi kepada masyarakat menjadi kunci utama dalam pengendalian kanker.
“Dasar penanganan kanker adalah deteksi dini. Saat ini fasilitas seperti USG sudah tersedia hingga puskesmas. Yang perlu diperkuat adalah komunikasi dan edukasi kepada perempuan agar mau melakukan pemeriksaan lebih awal,” ujar dia.
(dra)
Lihat Juga :