Kenapa Imlek Selalu Identik dengan Warna Merah dan Emas? Ternyata Ini Alasannya
Minggu, 15 Februari 2026 - 19:32 WIB
loading...
A
A
A
Pada suatu hari, datang seorang pria tua berambut perak yang datang kepada tetua desa. Ia berjanji akan mengusir Iblis Nian agar tidak terus menerus mengganggu warga desa. Tapi, warga desa banyak yang tidak percaya terhadap janji pria tersebut dan tetap menutup rapat rumah mereka saat hari menjelang malam di akhir tahun.
Baca Juga : Melihat Ornamen Imlek di Bundaran HI saat CFD
Saat Iblis Nian datang, tiba-tiba terdengar suara petasan yang cukup kencang dan nyala api yang sangat menyala. Mendengar dan melihat hal itu, Nian tidak berani maju, namun pria tua tersebut tetap maju sembari mengenakan pakaian warna merah hingga membuat Nian mengamuk dan lari terbirit-birit.
Pada hari berikutnya saat para penduduk desa membuka rumah dan turun dari gunung, mereka mendapati desa dan ternak mereka dalam keadaan aman. Akhirnya warga desa mulai mempercayai pria tua tersebut.
Sejak saat itulah banyak warga yang menggunakan warna merah berupa bait-bait dan lampion sebagai bentuk penjagaan dari Iblis Nian. Selain itu, saega juga turut menyalakan petasan, membiarkan lampu menyala serta begadang hingga pagi hari.
Seiring berjalannya waktu, warna merah menjadi hak identik setiap perayaan Imlek di akhir tahun dalam penanggalan lunar.
Sementara itu melansir dari royalmint.com, warna emas yang identik setiap perayaan Imlek sendiri dipercaya oleh masyarakat Tionghoa sebagai warna yang melambangkan supremasi kaisar. Selain itu warna emas juga dianggap sebagai pembawa keberuntungan, kekayaan, kemakmuran dan nasib baik.
Baca Juga : Melihat Ornamen Imlek di Bundaran HI saat CFD
Saat Iblis Nian datang, tiba-tiba terdengar suara petasan yang cukup kencang dan nyala api yang sangat menyala. Mendengar dan melihat hal itu, Nian tidak berani maju, namun pria tua tersebut tetap maju sembari mengenakan pakaian warna merah hingga membuat Nian mengamuk dan lari terbirit-birit.
Pada hari berikutnya saat para penduduk desa membuka rumah dan turun dari gunung, mereka mendapati desa dan ternak mereka dalam keadaan aman. Akhirnya warga desa mulai mempercayai pria tua tersebut.
Sejak saat itulah banyak warga yang menggunakan warna merah berupa bait-bait dan lampion sebagai bentuk penjagaan dari Iblis Nian. Selain itu, saega juga turut menyalakan petasan, membiarkan lampu menyala serta begadang hingga pagi hari.
Seiring berjalannya waktu, warna merah menjadi hak identik setiap perayaan Imlek di akhir tahun dalam penanggalan lunar.
Sementara itu melansir dari royalmint.com, warna emas yang identik setiap perayaan Imlek sendiri dipercaya oleh masyarakat Tionghoa sebagai warna yang melambangkan supremasi kaisar. Selain itu warna emas juga dianggap sebagai pembawa keberuntungan, kekayaan, kemakmuran dan nasib baik.
Lihat Juga :