Oki Setiana Dewi Perluas Dakwah Internasional, Tetap Aktif Mengajar dan Menulis dari Mesir
Minggu, 15 Februari 2026 - 22:38 WIB
loading...
A
A
A
"Kesibukan sehari-sehari selain kuliah, mengajar di universitas secara daring, mengelola pesantren cabang Mesir, juga menulis buku," ujarnya.
Di bidang literasi, Oki telah menerbitkan sejumlah buku, antara lain Melukis Pelangi, Sejuta Pelangi, Cahaya di Atas Cahaya, Hijab I am in Love, Dekapan Kematian, Sebentang Kearifan dari Barat, dan Healing Parenting. Saat ini ia tengah mempersiapkan karya terbaru berjudul Menjadi Tenang.
"Kehidupan di Mesir yang tak sesibuk saat berada di Indonesia membuat saya mulai produktif kembali menulis buku," ungkapnya.
Kiprah internasional Oki sebenarnya telah dimulai sejak 2017, ketika ia menerima beasiswa dari Australia Indonesia Institute untuk mempelajari Islamic Studies di Australia serta beasiswa dari Goethe Institute di Jerman pada tahun yang sama. Pengalaman belajar di Timur dan Barat, menurutnya, memberikan perspektif yang saling melengkapi dalam memahami Islam di era global.
Baginya, pembelajaran di Timur menguatkan fondasi spiritual dan tradisi, sementara di Barat menghadirkan pendekatan rasional dan akademis yang kritis. Perpaduan tersebut memperkaya wawasan keislamannya sekaligus memperkuat adaptasi dalam dinamika globalisasi.
Di bidang literasi, Oki telah menerbitkan sejumlah buku, antara lain Melukis Pelangi, Sejuta Pelangi, Cahaya di Atas Cahaya, Hijab I am in Love, Dekapan Kematian, Sebentang Kearifan dari Barat, dan Healing Parenting. Saat ini ia tengah mempersiapkan karya terbaru berjudul Menjadi Tenang.
"Kehidupan di Mesir yang tak sesibuk saat berada di Indonesia membuat saya mulai produktif kembali menulis buku," ungkapnya.
Kiprah internasional Oki sebenarnya telah dimulai sejak 2017, ketika ia menerima beasiswa dari Australia Indonesia Institute untuk mempelajari Islamic Studies di Australia serta beasiswa dari Goethe Institute di Jerman pada tahun yang sama. Pengalaman belajar di Timur dan Barat, menurutnya, memberikan perspektif yang saling melengkapi dalam memahami Islam di era global.
Baginya, pembelajaran di Timur menguatkan fondasi spiritual dan tradisi, sementara di Barat menghadirkan pendekatan rasional dan akademis yang kritis. Perpaduan tersebut memperkaya wawasan keislamannya sekaligus memperkuat adaptasi dalam dinamika globalisasi.
(dra)
Lihat Juga :