Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, Horor dalam Balutan Dendam dan Cinta
Selasa, 17 Maret 2026 - 19:30 WIB
loading...
Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa hadir sebagai horor dalam balutan dendam dan cinta. Foto/Armydian Kurniawan.
A
A
A
JAKARTA - Film Suzzanna : Santet Dosa di Atas Dosa hadir sebagai horor dalam balutan dendam dan cinta. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada Rabu (18/3/2026). Soraya Intercine Films kembali menghidupkan karakter legendaris dengan pendekatan berbeda. Kali ini, cerita tidak berhenti pada teror semata. Namun, konflik batin dan kekuatan gelap menjadi pusat narasi.
Dalam versi terbaru, Luna Maya kembali memerankan Suzzanna dengan pendekatan yang lebih kompleks. Ia tidak lagi tampil sebagai sosok sundel bolong seperti sebelumnya. Perjalanan karakter terasa lebih manusiawi dengan latar penindasan dan kehilangan. Dendam muncul setelah kematian ayah akibat santet dari Bisman (diperankan Clift Sangra) sebagai penguasa desa hingga akhirnya Suzzanna mempelajari ilmu santet.
baca juga: Nyaris Tewas Terseret Arus, Luna Maya Ungkap Detik-Detik Mencekam Saat Syuting Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa
”Saking dendam yang begitu menyakitkan, rasional dan logika terkadang nggak jalan. Itu yang sering terjadi di sekitar kita. Jadi (film ini) sangat relevan dengan dinamika masyarakat,” tutur Luna. Di tengah konflik tersebut, hadir kisah cinta yang tak sederhana. Peran Pramuja dimainkan Reza Rahadian sebagai pria religius. Menurut Reza, film ini bicara soal relasi kuasa. ”Perjuangan seorang warga yang ditindas penguasa bertemu dengan pemuda idealis. Mereka sama-sama punya nilai dalam menyikapi kesewenangan,” terang Reza.
Disutradarai Azhar Kinoi Lubis, film ini memadukan horor, drama, aksi dan komedi secara terukur. Produser Sunil Soraya menyebut proyek dimulai sejak 2018. Setelah Suzzanna: Bernapas dalam Kubur tayang dan bahkan jauh sebelum Suzzanna: Malam Jumat Kliwon dirilis pada 2023.Artinya, proses pengembangan mulai ide, brainstorming, casting, produksi hingga siap tayang memakan waktu hampir sewindu.
”Pendekatan naratif terasa lebih kompleks dibanding film sebelumnya. Selain itu, kualitas sinematik diupayakan meningkat secara signifikan,” kata Sunil. Film ini juga dibintangi oleh Nai Djenar Maesa Ayu, Adi Bing Slamet, Aziz Gagap, Ence Bagus, El Manik, Andi/Rif, Iwa K, Budi Bima, Yatti Surachman, Nunung, Sabar Bokir, Petrix Gembul, dan Piet Pagau.
Penggunaan teknologi visual menjadi elemen penting dalam produksi film ini. Tim mengembangkan Computer Generated Imagery untuk membentuk wajah Suzzanna. Teknik tersebut dipadukan dengan prostetik serta riset arsip film lama. Proses dilakukan frame by frame demi menjaga ekspresi karakter tetap hidup. Hasilnya terlihat cukup berhasil dalam menghadirkan sosok ikonik yang baru.
Secara keseluruhan, film ini menawarkan hiburan menarik untuk momen liburan Lebaran. Namun, tidak semua usia cocok menikmati keseluruhan adegannya. Beberapa bagian menampilkan kekerasan dengan intensitas cukup tinggi dan ”obral darah”. Di sisi lain, konflik cerita tetap menghadirkan ruang refleksi moral. Pilihan antara dendam dan cinta menjadi benang merah yang kuat.
Catatan lain muncul dari kualitas efek visual di sejumlah adegan film. Kemegahan sinematik agak terganggu beberapa detail yang tampak kurang halus dan terkesan ”bocor”.
Di antaranya saat adegan Suzzanna di sungai dan adegan terkait dukun santet Lesus. Hal ini sempat penulis sampaikan langsung kepada Kinoi Lubis sebagai sutradara seusai gala premiere di Plaza Senayan, Sabtu (14/3/2026). Terlepas dari itu, film tetap menghibur secara keseluruhan dan layak masuk daftar tontonan Lebaran tahun ini.
Dalam versi terbaru, Luna Maya kembali memerankan Suzzanna dengan pendekatan yang lebih kompleks. Ia tidak lagi tampil sebagai sosok sundel bolong seperti sebelumnya. Perjalanan karakter terasa lebih manusiawi dengan latar penindasan dan kehilangan. Dendam muncul setelah kematian ayah akibat santet dari Bisman (diperankan Clift Sangra) sebagai penguasa desa hingga akhirnya Suzzanna mempelajari ilmu santet.
baca juga: Nyaris Tewas Terseret Arus, Luna Maya Ungkap Detik-Detik Mencekam Saat Syuting Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa
”Saking dendam yang begitu menyakitkan, rasional dan logika terkadang nggak jalan. Itu yang sering terjadi di sekitar kita. Jadi (film ini) sangat relevan dengan dinamika masyarakat,” tutur Luna. Di tengah konflik tersebut, hadir kisah cinta yang tak sederhana. Peran Pramuja dimainkan Reza Rahadian sebagai pria religius. Menurut Reza, film ini bicara soal relasi kuasa. ”Perjuangan seorang warga yang ditindas penguasa bertemu dengan pemuda idealis. Mereka sama-sama punya nilai dalam menyikapi kesewenangan,” terang Reza.
Disutradarai Azhar Kinoi Lubis, film ini memadukan horor, drama, aksi dan komedi secara terukur. Produser Sunil Soraya menyebut proyek dimulai sejak 2018. Setelah Suzzanna: Bernapas dalam Kubur tayang dan bahkan jauh sebelum Suzzanna: Malam Jumat Kliwon dirilis pada 2023.Artinya, proses pengembangan mulai ide, brainstorming, casting, produksi hingga siap tayang memakan waktu hampir sewindu.
”Pendekatan naratif terasa lebih kompleks dibanding film sebelumnya. Selain itu, kualitas sinematik diupayakan meningkat secara signifikan,” kata Sunil. Film ini juga dibintangi oleh Nai Djenar Maesa Ayu, Adi Bing Slamet, Aziz Gagap, Ence Bagus, El Manik, Andi/Rif, Iwa K, Budi Bima, Yatti Surachman, Nunung, Sabar Bokir, Petrix Gembul, dan Piet Pagau.
Penggunaan teknologi visual menjadi elemen penting dalam produksi film ini. Tim mengembangkan Computer Generated Imagery untuk membentuk wajah Suzzanna. Teknik tersebut dipadukan dengan prostetik serta riset arsip film lama. Proses dilakukan frame by frame demi menjaga ekspresi karakter tetap hidup. Hasilnya terlihat cukup berhasil dalam menghadirkan sosok ikonik yang baru.
”Bocor”
Secara keseluruhan, film ini menawarkan hiburan menarik untuk momen liburan Lebaran. Namun, tidak semua usia cocok menikmati keseluruhan adegannya. Beberapa bagian menampilkan kekerasan dengan intensitas cukup tinggi dan ”obral darah”. Di sisi lain, konflik cerita tetap menghadirkan ruang refleksi moral. Pilihan antara dendam dan cinta menjadi benang merah yang kuat.
Catatan lain muncul dari kualitas efek visual di sejumlah adegan film. Kemegahan sinematik agak terganggu beberapa detail yang tampak kurang halus dan terkesan ”bocor”.
Di antaranya saat adegan Suzzanna di sungai dan adegan terkait dukun santet Lesus. Hal ini sempat penulis sampaikan langsung kepada Kinoi Lubis sebagai sutradara seusai gala premiere di Plaza Senayan, Sabtu (14/3/2026). Terlepas dari itu, film tetap menghibur secara keseluruhan dan layak masuk daftar tontonan Lebaran tahun ini.
(nnz)
Lihat Juga :