How to Act Like Hooman: Saat Monyet Pengen Jadi Orang Kota
Jum'at, 18 September 2020 - 14:46 WIB
loading...
A
A
A
Yang menarik, merekagakterlalu kenal satu sama lain, kebanyakan baru pertama kali ke Bali, tapi mesti membuat dan menyelesaikan sebuah film pendek cuma dalam waktu empat hari.
Tapi, dengan waktu sesempit itu, "How to Act Like Hooman" tampil menarik dan unik dalam menginterpretasikan tema "Lokalitas Sebagai Kemewahan Baru".
Pertama, film dibuat dengan format drama dokumenter. Gambar yang diambil adalah dari keseharian suasana di Sangeh, di tengah kota, termasuk di pantai. (Baca Juga: Film Pendek Sutradara?: Tugas Kelompok Jelek, Berakhir Intimidasi )
Pergerakan kamera juga mengambil sudut pandang Darwin si monyet, serupa teknikfound-footagedalam banyak film horor, misalnya "Paranormal Activity" atau "Cloverfield".
![How to Act Like Hooman: Saat Monyet Pengen Jadi Orang Kota]()
Foto:Cinema Without Wall International Film Lab
Ini membuat kita sebagai penonton seolah-olah menjadi Darwin yang sedang berpetualang di kota yang asing, mencoba beradaptasi dengan cepat supaya bisa bertahan hidup.
Ini juga yang sepertinya jadi titik inti film pendek ini. Bagaimana caranya bertahan hidup di kota besar yang keras? Seberapa jauh adaptasi (atau pengorbanan) yang dilakukan Darwin - atau kita yang menonton dari sudut pandang Darwin - supaya bisa tetap hidup enak dan nyaman di kota?
Apakah kehidupan di kota akan membuat Darwin jadi malah rindu pada kampung halamannya di Sangeh, atau malah nyaman dengan kehidupan barunya di kota besar?
Tapi, dengan waktu sesempit itu, "How to Act Like Hooman" tampil menarik dan unik dalam menginterpretasikan tema "Lokalitas Sebagai Kemewahan Baru".
Pertama, film dibuat dengan format drama dokumenter. Gambar yang diambil adalah dari keseharian suasana di Sangeh, di tengah kota, termasuk di pantai. (Baca Juga: Film Pendek Sutradara?: Tugas Kelompok Jelek, Berakhir Intimidasi )
Pergerakan kamera juga mengambil sudut pandang Darwin si monyet, serupa teknikfound-footagedalam banyak film horor, misalnya "Paranormal Activity" atau "Cloverfield".

Foto:Cinema Without Wall International Film Lab
Ini membuat kita sebagai penonton seolah-olah menjadi Darwin yang sedang berpetualang di kota yang asing, mencoba beradaptasi dengan cepat supaya bisa bertahan hidup.
Ini juga yang sepertinya jadi titik inti film pendek ini. Bagaimana caranya bertahan hidup di kota besar yang keras? Seberapa jauh adaptasi (atau pengorbanan) yang dilakukan Darwin - atau kita yang menonton dari sudut pandang Darwin - supaya bisa tetap hidup enak dan nyaman di kota?
Apakah kehidupan di kota akan membuat Darwin jadi malah rindu pada kampung halamannya di Sangeh, atau malah nyaman dengan kehidupan barunya di kota besar?
Lihat Juga :