Paviliun Cahya in-Lite Tampilkan Eksplorasi Cahaya dan Arsitektur Nusantara di ARCH:ID 2026
Kamis, 23 April 2026 - 21:34 WIB
loading...
A
A
A
Paviliun Cahya merupakan instalasi yang mengeksplorasi peran cahaya dalam seni dan arsitektur sebagai ruang pengalaman yang imersif. Melalui pendekatan ini, paviliun menghadirkan pengalaman di mana cahaya menjadi bagian integral dari narasi ruang.
Arsitek dan seniman Jessica Soekidi, sekaligus pendesain Paviliun Cahya in-Lite, menjelaskan bahwa instalasi ini menggunakan pendekatan eklektik kontemporer untuk menghadirkan pengalaman imersif.
Jessica menjelaskan, “Inspirasi utama Paviliun Cahya berakar dari sintesa arsitektur Nusantara, di mana leluhur kita telah memahami hubungan antara cahaya, ruang, dan alam. Arsitektur Vernakular Indonesia, dari rumah panggung hingga candi, selalu memperhitungkan bagaimana cahaya masuk dan berinteraksi dengan ruang, sebuah kearifan lokal yang wajib dijaga seperti menjaga alam dan bumi. Kolaborasi dengan in-Lite juga menarik karena kami memiliki visi yang sama, bahwa pencahayaan berkualitas tidak seharusnya bersifat eksklusif, tetapi dapat diakses oleh semua kalangan.”
Lebih dari sekadar instalasi visual, pengunjung diajak mengalami cahaya melalui tiga tahap perjalanan, dari kegelapan total, temaram fajar, hingga ruang terang penuh. Setiap tahap dirancang untuk mengaktifkan indera yang berbeda dan membangun pemahaman bertahap tentang bagaimana cahaya membentuk pengalaman ruang.
Momentum Perayaan Peran Wanita dalam Dunia Arsitektur
Pendekatan sintesa dalam arsitektur tidak hanya berbicara tentang elemen ruang, tetapi juga tentang siapa yang terlibat di dalamnya. Dalam ekosistem yang kolaboratif, keberagaman perspektif menjadi kunci untuk menghadirkan ruang yang lebih utuh dan manusiawi, termasuk peran perempuan yang semakin berkembang di dunia arsitektur.
Dari sekitar 27.000 anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), sekitar 5.500 di antaranya adalah perempuan atau sekitar 20 persen, mencerminkan ruang yang masih terus berkembang menuju keseimbangan yang lebih baik.
Arsitek dan seniman Jessica Soekidi, sekaligus pendesain Paviliun Cahya in-Lite, menjelaskan bahwa instalasi ini menggunakan pendekatan eklektik kontemporer untuk menghadirkan pengalaman imersif.
Jessica menjelaskan, “Inspirasi utama Paviliun Cahya berakar dari sintesa arsitektur Nusantara, di mana leluhur kita telah memahami hubungan antara cahaya, ruang, dan alam. Arsitektur Vernakular Indonesia, dari rumah panggung hingga candi, selalu memperhitungkan bagaimana cahaya masuk dan berinteraksi dengan ruang, sebuah kearifan lokal yang wajib dijaga seperti menjaga alam dan bumi. Kolaborasi dengan in-Lite juga menarik karena kami memiliki visi yang sama, bahwa pencahayaan berkualitas tidak seharusnya bersifat eksklusif, tetapi dapat diakses oleh semua kalangan.”
Lebih dari sekadar instalasi visual, pengunjung diajak mengalami cahaya melalui tiga tahap perjalanan, dari kegelapan total, temaram fajar, hingga ruang terang penuh. Setiap tahap dirancang untuk mengaktifkan indera yang berbeda dan membangun pemahaman bertahap tentang bagaimana cahaya membentuk pengalaman ruang.
Momentum Perayaan Peran Wanita dalam Dunia Arsitektur
Pendekatan sintesa dalam arsitektur tidak hanya berbicara tentang elemen ruang, tetapi juga tentang siapa yang terlibat di dalamnya. Dalam ekosistem yang kolaboratif, keberagaman perspektif menjadi kunci untuk menghadirkan ruang yang lebih utuh dan manusiawi, termasuk peran perempuan yang semakin berkembang di dunia arsitektur.
Dari sekitar 27.000 anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), sekitar 5.500 di antaranya adalah perempuan atau sekitar 20 persen, mencerminkan ruang yang masih terus berkembang menuju keseimbangan yang lebih baik.
Lihat Juga :