Kemenkes Pastikan Dua Suspek Hantavirus di Indonesia Sudah Negatif dan Sembuh
Jum'at, 08 Mei 2026 - 15:35 WIB
loading...
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengonfirmasi masuknya Hantavirus ke Indonesia. Foto/Kemenkes.
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Kesehatan ( Kemenkes ) mengonfirmasi masuknya Hantavirus ke Indonesia. Kasus terkait virus tersebut mencuat setelah sebelumnya tiga orang di kapal pesiar MV Hondius di Tanjung Verde tertular virus tersebut.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman mengatakan saat ini sudah ada dua suspek atau seseorang yang mengalami gejala-gejala yang diduga tertular Hantavirus. Dua suspek tersebut di antaranya berada di Jakarta dan Yogayakarta.
Baca juga: Hantavirus Mengancam, Ini 5 Cara Efektif Menjaga Imunitas Tubuh
“Benar ada dua suspek,” kata Aji saat dikonfirmasi oleh iNews Media Group melalui aplikasi percakapan, Jumat (8/5/2026).
Belum diketahui secara pasti juga terkait kapan dua suspek itu muncul dan sembuh secara detail, termasuk gejala-gejala dari suspek tersebut. Namun, Aji mengungkapkan bahwa saat ini kedua sudah dinyatakan negatif dan sembuh.
“Tapi hari ini saya dapat info keduanya sudah negatif dan sembuh,” tambah dia.
Baca juga: WHO: Wabah Hantavirus Bukan Awal Pandemi Covid-19 Berikutnya
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan World Healthy Organization (WHO) untuk melakukan screening terhadap penyebaran virus tersebut. Terlebih ia menyebut bahwa virus Hanta merupakan salah satu virus berbahaya.
“Ini virus ini kan virus yang lumayan berbahaya. Jadi kita udah koordinasi dengan WHO. Kita minta ke WHO untuk bisa lakukan screeningnya,” kata Menkes saat diwawancarai di Kantor Kementerian Kesehatan, Kamis (7/5/2026).
Selain itu, Kemenkes juga tengah mengupayakan antisipasi dengan mempersiapkan berbagai screening virus yang dimiliki seperti rapid test dan mesin PCR. Di sisi lain, pihaknya saat ini juga masih fokus ke dalam survielance atau pengawasan ketat. Sehingga penanganan bisa segera dilakukan jika virus tersebut benar-benar menyebar.
“Yang kita lakukan kita mempersiapkan agar screeningnya kita punya. Apakah itu dalam bentuk rapid test kayak kita COVID dulu maupun reagen-reagen yang digunakan di mesin PCR. Jadi sekarang kita masih fokus ke surveillance supaya kalau ada apa-apa kita bisa cepat tahu,” pungkas Budi.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman mengatakan saat ini sudah ada dua suspek atau seseorang yang mengalami gejala-gejala yang diduga tertular Hantavirus. Dua suspek tersebut di antaranya berada di Jakarta dan Yogayakarta.
Baca juga: Hantavirus Mengancam, Ini 5 Cara Efektif Menjaga Imunitas Tubuh
“Benar ada dua suspek,” kata Aji saat dikonfirmasi oleh iNews Media Group melalui aplikasi percakapan, Jumat (8/5/2026).
Belum diketahui secara pasti juga terkait kapan dua suspek itu muncul dan sembuh secara detail, termasuk gejala-gejala dari suspek tersebut. Namun, Aji mengungkapkan bahwa saat ini kedua sudah dinyatakan negatif dan sembuh.
“Tapi hari ini saya dapat info keduanya sudah negatif dan sembuh,” tambah dia.
Baca juga: WHO: Wabah Hantavirus Bukan Awal Pandemi Covid-19 Berikutnya
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan World Healthy Organization (WHO) untuk melakukan screening terhadap penyebaran virus tersebut. Terlebih ia menyebut bahwa virus Hanta merupakan salah satu virus berbahaya.
“Ini virus ini kan virus yang lumayan berbahaya. Jadi kita udah koordinasi dengan WHO. Kita minta ke WHO untuk bisa lakukan screeningnya,” kata Menkes saat diwawancarai di Kantor Kementerian Kesehatan, Kamis (7/5/2026).
Selain itu, Kemenkes juga tengah mengupayakan antisipasi dengan mempersiapkan berbagai screening virus yang dimiliki seperti rapid test dan mesin PCR. Di sisi lain, pihaknya saat ini juga masih fokus ke dalam survielance atau pengawasan ketat. Sehingga penanganan bisa segera dilakukan jika virus tersebut benar-benar menyebar.
“Yang kita lakukan kita mempersiapkan agar screeningnya kita punya. Apakah itu dalam bentuk rapid test kayak kita COVID dulu maupun reagen-reagen yang digunakan di mesin PCR. Jadi sekarang kita masih fokus ke surveillance supaya kalau ada apa-apa kita bisa cepat tahu,” pungkas Budi.
(nnz)
Lihat Juga :