Maudy Ayunda Bangun Ruang Belajar Sementara untuk Anak-Anak Aceh Timur
Rabu, 20 Mei 2026 - 20:15 WIB
loading...
Maudy Ayunda berbincang akrab dengan para siswa Ruang Belajar Sementara di Aceh Tamiang. Foto: Maudy Ayunda Foundation
A
A
A
ACEH TIMUR - Di ruang kelas berdinding putih polos itu, Maudy Ayunda berjongkok sejajar bersama murid-murid kecil. Aktris pemeran film Para Perasuk itu mengenakan rompi merah marun dan hijab biru tua. Cahaya matahari masuk perlahan dari jendela besar di sisi kiri ruangan. Anak-anak mengerubunginya sambil memandang penuh rasa penasaran.
Beberapa siswi duduk tenang memperhatikan percakapan bersama perempuan berusia 31 tahun tersebut. Tas sekolah merah tersandar di samping meja belajar biru putih yang tampak baru. Meski sederhana dengan ventilasi terbuka dan minim dekorasi, namun ruangan itu perlahan menghadirkan rasa nyaman setelah banjir menerjang Aceh Timur. Anak-anak terlihat ceria ketika berbincang bersama Maudy.
Kegiatan semakin hidup saat lulusan Stanford University itu memasuki ruang kelas lain yang lebih padat. Ia duduk di kursi kecil sambil memegang buku cerita dan mikrofon hitam.
Baca Juga : Kontroversi Dwi Sesetyaningtyas, 5 Artis Penerima LPDP Ini Justru Jadi Inspirasi!
Puluhan anak duduk lesehan memenuhi ruangan bercat kuning kusam yang mulai mengelupas. Mata mereka berbinar mengikuti cerita yang dibacakan penyanyi lagu Perahu Kertas tersebut. Bahkan beberapa warga tampak ikut mengintip dari balik jendela yang terbuka.
Beberapa anak memeluk makanan ringan sambil duduk paling depan mendengarkan dongeng dan motivasi. Ada murid yang mengangkat tangan antusias sepanjang sesi bersama aktris Habibie & Ainun 3 tersebut. Sebagian lainnya hanya terpaku serius memperhatikan cerita yang dibacakan perlahan.
Setelah kisah tuntas, giliran anak-anak yang bertanya dan bercerita kepada Maudy. Peraih gelar Master of Business Administration dari Stanford University itu beberapa kali membungkukkan badan ketika berusaha mendengar cerita anak-anak lebih dekat.
Kehadiran Maudy di Aceh Timur bukan kunjungan formalitas belaka. Pendiri Maudy Ayunda Foundation tersebut beberapa kali berkeliling menyapa murid satu per satu. Di ruangan lain, ia terlihat berdiskusi ringan bersama guru dan para siswa. Meja kayu lama berwarna cokelat masih digunakan dalam beberapa ruang belajar sementara tersebut. Meski fasilitas terbatas, anak-anak tampak menikmati momen belajar bersama dan kembali bercengkerama.
Baca Juga : 4 Tokoh Indonesia Lulusan Oxford University, Kampus Terbaik Dunia 2025
Maudy mengatakan, pengalaman bertemu langsung anak-anak Aceh Timur sangat membekas dalam ingatannya. “Bencana merusak kelas, tetapi tidak mematahkan semangat anak-anak untuk tetap datang ke sekolah dan belajar,” tuturnya.
Musisi sekaligus aktivis pendidikan tersebut menilai akses pendidikan sering menjadi persoalan terbesar pascabencana. Menurut dia, seringkali yang kurang bukanlah kemauan dan semangat anak-anak untuk belajar, tetapi akses dan ruang yang memungkinkan bagi mereka untuk terus melanjutkan pendidikan.
”Ketika akses pendidikan sudah terbatas sejak awal, bencana seperti ini bisa membuat kesempatan belajar anak-anak semakin timpang. Kami percaya bahwa setiap anak tetap berhak atas pendidikan yang layak, bahkan di tengah situasi yang paling sulit sekalipun. Karena itu, dukungan pendidikan pascabencana menjadi sangat penting,” ungkapnya.
Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah per Februari 2026 menunjukkan situasi cukup memprihatinkan. Sebanyak 4.922 satuan pendidikan di Sumatera terdampak bencana banjir dan cuaca ekstrem.
Angka itu mencakup 3.120 sekolah di Aceh dengan lebih dari 707.161 murid terdampak. Selain itu, sebanyak 59.620 guru ikut merasakan gangguan proses pembelajaran pascabencana panjang. Banyak siswa akhirnya masih belajar menggunakan fasilitas terbatas hingga sekarang.
Kondisi tersebut mendorong Maudy Ayunda Foundation berkolaborasi bersama Save the Children Indonesia menghadirkan Temporary Learning Space atau Ruang Belajar Sementara. Program itu juga dilengkapi dukungan literasi bagi anak-anak terdampak banjir di Aceh Tamiang.
Hasil Education Rapid Assessment memperlihatkan 90 persen sekolah sebenarnya sudah kembali belajar. Namun tingkat kehadiran siswa, terutama Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan TK masih rendah. Kendala akses, transportasi, dan kekhawatiran keamanan masih membayangi banyak keluarga hingga kini.
CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, memiliki pandangan serupa mengenai pemulihan pendidikan anak. “Belajar kembali adalah keberanian anak-anak untuk pulih,” katanya.
Beberapa siswi duduk tenang memperhatikan percakapan bersama perempuan berusia 31 tahun tersebut. Tas sekolah merah tersandar di samping meja belajar biru putih yang tampak baru. Meski sederhana dengan ventilasi terbuka dan minim dekorasi, namun ruangan itu perlahan menghadirkan rasa nyaman setelah banjir menerjang Aceh Timur. Anak-anak terlihat ceria ketika berbincang bersama Maudy.
Kegiatan semakin hidup saat lulusan Stanford University itu memasuki ruang kelas lain yang lebih padat. Ia duduk di kursi kecil sambil memegang buku cerita dan mikrofon hitam.
Baca Juga : Kontroversi Dwi Sesetyaningtyas, 5 Artis Penerima LPDP Ini Justru Jadi Inspirasi!
Puluhan anak duduk lesehan memenuhi ruangan bercat kuning kusam yang mulai mengelupas. Mata mereka berbinar mengikuti cerita yang dibacakan penyanyi lagu Perahu Kertas tersebut. Bahkan beberapa warga tampak ikut mengintip dari balik jendela yang terbuka.
Beberapa anak memeluk makanan ringan sambil duduk paling depan mendengarkan dongeng dan motivasi. Ada murid yang mengangkat tangan antusias sepanjang sesi bersama aktris Habibie & Ainun 3 tersebut. Sebagian lainnya hanya terpaku serius memperhatikan cerita yang dibacakan perlahan.
Setelah kisah tuntas, giliran anak-anak yang bertanya dan bercerita kepada Maudy. Peraih gelar Master of Business Administration dari Stanford University itu beberapa kali membungkukkan badan ketika berusaha mendengar cerita anak-anak lebih dekat.
Kehadiran Maudy di Aceh Timur bukan kunjungan formalitas belaka. Pendiri Maudy Ayunda Foundation tersebut beberapa kali berkeliling menyapa murid satu per satu. Di ruangan lain, ia terlihat berdiskusi ringan bersama guru dan para siswa. Meja kayu lama berwarna cokelat masih digunakan dalam beberapa ruang belajar sementara tersebut. Meski fasilitas terbatas, anak-anak tampak menikmati momen belajar bersama dan kembali bercengkerama.
Baca Juga : 4 Tokoh Indonesia Lulusan Oxford University, Kampus Terbaik Dunia 2025
Maudy mengatakan, pengalaman bertemu langsung anak-anak Aceh Timur sangat membekas dalam ingatannya. “Bencana merusak kelas, tetapi tidak mematahkan semangat anak-anak untuk tetap datang ke sekolah dan belajar,” tuturnya.
Musisi sekaligus aktivis pendidikan tersebut menilai akses pendidikan sering menjadi persoalan terbesar pascabencana. Menurut dia, seringkali yang kurang bukanlah kemauan dan semangat anak-anak untuk belajar, tetapi akses dan ruang yang memungkinkan bagi mereka untuk terus melanjutkan pendidikan.
”Ketika akses pendidikan sudah terbatas sejak awal, bencana seperti ini bisa membuat kesempatan belajar anak-anak semakin timpang. Kami percaya bahwa setiap anak tetap berhak atas pendidikan yang layak, bahkan di tengah situasi yang paling sulit sekalipun. Karena itu, dukungan pendidikan pascabencana menjadi sangat penting,” ungkapnya.
Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah per Februari 2026 menunjukkan situasi cukup memprihatinkan. Sebanyak 4.922 satuan pendidikan di Sumatera terdampak bencana banjir dan cuaca ekstrem.
Angka itu mencakup 3.120 sekolah di Aceh dengan lebih dari 707.161 murid terdampak. Selain itu, sebanyak 59.620 guru ikut merasakan gangguan proses pembelajaran pascabencana panjang. Banyak siswa akhirnya masih belajar menggunakan fasilitas terbatas hingga sekarang.
Kondisi tersebut mendorong Maudy Ayunda Foundation berkolaborasi bersama Save the Children Indonesia menghadirkan Temporary Learning Space atau Ruang Belajar Sementara. Program itu juga dilengkapi dukungan literasi bagi anak-anak terdampak banjir di Aceh Tamiang.
Hasil Education Rapid Assessment memperlihatkan 90 persen sekolah sebenarnya sudah kembali belajar. Namun tingkat kehadiran siswa, terutama Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan TK masih rendah. Kendala akses, transportasi, dan kekhawatiran keamanan masih membayangi banyak keluarga hingga kini.
CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, memiliki pandangan serupa mengenai pemulihan pendidikan anak. “Belajar kembali adalah keberanian anak-anak untuk pulih,” katanya.
(wur)
Lihat Juga :