Dokter Umum Jakarta Kembangkan AI untuk Percepat Penanganan Stroke Akut di IGD
Jum'at, 29 Mei 2026 - 11:19 WIB
loading...
Saat pasien stroke masuk IGD, waktu jadi hal paling krusial dan dampaknya bisa serius. Foto/ist
A
A
A
JAKARTA - Saat pasien stroke masuk IGD, waktu jadi hal paling krusial dan dampaknya bisa serius. Dari situ, dr. M. Joyo Santoso mencoba mengembangkan sistem berbasis artificial intelligence (AI) yang dirancang untuk membantu tenaga medis menangani stroke akut dengan lebih cepat dan terstruktur.
Sistem tersebut diperkenalkan lewat penelitian berjudul “Artificial Intelligence-Assisted Code Stroke Activation for Identification of Thrombolysis-Eligible Stroke.” Fokusnya bukan menggantikan dokter, melainkan membantu workflow penanganan stroke di ruang gawat darurat yang sering berjalan di bawah tekanan waktu.
Stroke sampai sekarang masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Masalahnya, penanganan pasien stroke akut harus dilakukan dalam golden period atau kurang dari 4,5 jam agar terapi trombolisis bisa maksimal. Di lapangan, kondisi IGD yang sibuk sering membuat proses identifikasi pasien jadi lebih kompleks.
“Nah, di situ tantangannya. Tenaga medis harus mengambil keputusan cepat, sementara dokumentasi, evaluasi pasien, dan alur kerja stroke juga harus tetap berjalan,” kata dr. M. Joyo Santoso.
Lewat sistem yang ia kembangkan, proses penanganan stroke dibuat lebih terintegrasi. Mulai dari aktivasi code stroke, anamnesa, evaluasi klinis, sampai monitoring pasien setelah terapi dilakukan dalam satu alur workflow dengan dukungan AI
Menariknya, sistem ini juga memanfaatkan teknologi Machine Learning dan Deep Learning berbasis Convolutional Neural Network untuk membantu sebagai asisten pelayanan medis digital bagi tenaga medis, Teknologi tersebut dikembangkan dengan mengacu pada berbagai penelitian internasional terbaru di bidang artificial intelligence, machine learning, dan deep learning.
Meski terdengar canggih, dr. Joyo menegaskan AI di sini sebagai assisten pelayanan medis. Keputusan akhir tetap ada di tangan dokter dan tenaga medis.
“Tujuan utama pengembangan sistem ini adalah membantu workflow code stroke agar lebih terintegrasi, mendukung efisiensi dokumentasi klinis, serta membantu tata laksana stroke akut di IGD. Sistem ini masih memerlukan pengembangan dan penyempurnaan lebih lanjut berdasarkan masukan dari profesor dan para klinisi neurologi,” ujar dr. M. Joyo Santoso.
Pengembangan sistem ini dipresentasikan dalam forum ilmiah neurologi Jakarta Neurology Exhibition, Workshop, and Symposium (JakNews) di Jakarta. Forum tersebut membahas perkembangan terbaru penanganan stroke akut dan inovasi digital di bidang neurologi.
Di tengah berkembangnya teknologi kesehatan, inovasi seperti ini mulai menunjukkan bahwa AI bukan cuma soal tren digital. Dalam kondisi darurat seperti stroke, teknologi justru bisa membantu tenaga medis bekerja lebih cepat, setiap menit sangat menentukan keselamatan pasien di sisi lain dokumentasi klinis dan evaluasi pasien dan koordinasi antar tenaga medis juga dilakukan secara optimal.
Sistem tersebut diperkenalkan lewat penelitian berjudul “Artificial Intelligence-Assisted Code Stroke Activation for Identification of Thrombolysis-Eligible Stroke.” Fokusnya bukan menggantikan dokter, melainkan membantu workflow penanganan stroke di ruang gawat darurat yang sering berjalan di bawah tekanan waktu.
Stroke sampai sekarang masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Masalahnya, penanganan pasien stroke akut harus dilakukan dalam golden period atau kurang dari 4,5 jam agar terapi trombolisis bisa maksimal. Di lapangan, kondisi IGD yang sibuk sering membuat proses identifikasi pasien jadi lebih kompleks.
“Nah, di situ tantangannya. Tenaga medis harus mengambil keputusan cepat, sementara dokumentasi, evaluasi pasien, dan alur kerja stroke juga harus tetap berjalan,” kata dr. M. Joyo Santoso.
Lewat sistem yang ia kembangkan, proses penanganan stroke dibuat lebih terintegrasi. Mulai dari aktivasi code stroke, anamnesa, evaluasi klinis, sampai monitoring pasien setelah terapi dilakukan dalam satu alur workflow dengan dukungan AI
Menariknya, sistem ini juga memanfaatkan teknologi Machine Learning dan Deep Learning berbasis Convolutional Neural Network untuk membantu sebagai asisten pelayanan medis digital bagi tenaga medis, Teknologi tersebut dikembangkan dengan mengacu pada berbagai penelitian internasional terbaru di bidang artificial intelligence, machine learning, dan deep learning.
Meski terdengar canggih, dr. Joyo menegaskan AI di sini sebagai assisten pelayanan medis. Keputusan akhir tetap ada di tangan dokter dan tenaga medis.
“Tujuan utama pengembangan sistem ini adalah membantu workflow code stroke agar lebih terintegrasi, mendukung efisiensi dokumentasi klinis, serta membantu tata laksana stroke akut di IGD. Sistem ini masih memerlukan pengembangan dan penyempurnaan lebih lanjut berdasarkan masukan dari profesor dan para klinisi neurologi,” ujar dr. M. Joyo Santoso.
Pengembangan sistem ini dipresentasikan dalam forum ilmiah neurologi Jakarta Neurology Exhibition, Workshop, and Symposium (JakNews) di Jakarta. Forum tersebut membahas perkembangan terbaru penanganan stroke akut dan inovasi digital di bidang neurologi.
Di tengah berkembangnya teknologi kesehatan, inovasi seperti ini mulai menunjukkan bahwa AI bukan cuma soal tren digital. Dalam kondisi darurat seperti stroke, teknologi justru bisa membantu tenaga medis bekerja lebih cepat, setiap menit sangat menentukan keselamatan pasien di sisi lain dokumentasi klinis dan evaluasi pasien dan koordinasi antar tenaga medis juga dilakukan secara optimal.
(dra)
Lihat Juga :