Bukit Peramun Bidik Pasar Wisatawan Singapura dan Malaysia
Jum'at, 05 Juni 2026 - 09:22 WIB
loading...
Bukit Peramun di Belitung terus memperluas daya tariknya sebagai destinasi ekowisata berbasis masyarakat. Foto/ist
A
A
A
BELITUNG - Bukit Peramun di Belitung terus memperluas daya tariknya sebagai destinasi ekowisata berbasis masyarakat. Kawasan wisata alam ini kini mulai membidik pasar wisatawan mancanegara, khususnya dari Singapura dan Malaysia.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan familiarization trip yang menghadirkan pelaku industri pariwisata dari dua negara tersebut ke Bukit Peramun pada Minggu, 31 Mei 2026. Kegiatan ini digelar Bakti BCA bekerja sama dengan Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo).
Bukit Peramun merupakan salah satu desa binaan Bakti BCA. Melalui kunjungan ini, pengelola desa wisata berkesempatan memperkenalkan langsung potensi ekowisata yang dimiliki kepada pelaku industri perjalanan internasional.
Destinasi ini menawarkan pengalaman berbeda dari citra wisata Belitung yang selama ini identik dengan pantai. Bukit Peramun menghadirkan wisata hutan, trekking, konservasi, edukasi flora, hingga pengamatan satwa endemik.
Popularitas Bukit Peramun juga menunjukkan tren positif. Jumlah wisatawan mancanegara meningkat dari 387 orang pada 2023 menjadi 485 orang pada 2025. Sementara itu, kunjungan wisatawan domestik naik dari 1.356 orang pada 2024 menjadi 1.648 orang pada 2025.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara pengelola desa wisata dan pelaku industri pariwisata mancanegara. Dengan begitu, potensi Bukit Peramun dapat dikenal lebih luas melalui pengalaman langsung di lapangan.
Menurut Hera, Bukit Peramun telah dikelola masyarakat melalui Kelompok Hutan Kemasyarakatan (HKm) Arsel sejak 2006. Pengelolaan berbasis komunitas tersebut membawa desa ini berkembang sebagai destinasi community-based tourism yang mendapat sejumlah pengakuan nasional.
Bukit Peramun pernah meraih penghargaan Green Gold ISTA 2019. Destinasi ini juga memperoleh predikat Hutan Digital Pertama Berbasis Masyarakat di Indonesia dari MURI pada 2023.
“Dengan menyuguhkan panorama hutan alami yang masih asri, kami percaya desa ini memiliki potensi tinggi di pasar internasional apabila didukung dengan akses dan promosi yang tepat. Melalui program ini, kami harap dapat membuka peluang kolaborasi yang mendorong peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara serta memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat tanpa mengesampingkan aspek konservasi dan pelestarian lingkungan,” ujar Hera.
Selama kunjungan, peserta diajak menyusuri kawasan hutan konservasi Bukit Peramun melalui jalur trekking. Mereka juga diperkenalkan dengan tanaman herbal dan tanaman endemik khas Belitung, serta mengikuti kegiatan adopsi pohon.
Peserta familiarization trip turut mencoba aplikasi digital Virtual Assistance & Kenali Pohon (KePo). Aplikasi ini membantu pengunjung mengenali berbagai jenis flora yang tumbuh di kawasan Bukit Peramun.
Perjalanan kemudian berlanjut ke sejumlah titik atraksi wisata alam, seperti Batu Kembar, Batu Ampar, dan puncak Bukit Peramun. Dari ketinggian, peserta menikmati panorama matahari terbenam, mencicipi kopi dan kuliner lokal, serta mengikuti kegiatan pengamatan tarsius.
Tarsius menjadi salah satu satwa endemik yang memperkuat daya tarik ekowisata Belitung. Kehadirannya membuat pengalaman wisata di Bukit Peramun tidak hanya berfokus pada panorama alam, tetapi juga edukasi konservasi.
“Kehadiran pelaku industri pariwisata dari Singapura dan Malaysia dalam kegiatan ini diharapkan menjadi langkah konkret untuk membuka peluang pasar baru dan memperkuat posisi Bukit Peramun sebagai destinasi ekowisata unggulan Indonesia di kancah global,” tambah Hera.
Melalui kegiatan ini, Bukit Peramun diharapkan semakin dikenal sebagai destinasi alternatif di Belitung. Tidak hanya menawarkan keindahan alam, kawasan ini juga mengedepankan pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan pengalaman wisata yang berkelanjutan.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan familiarization trip yang menghadirkan pelaku industri pariwisata dari dua negara tersebut ke Bukit Peramun pada Minggu, 31 Mei 2026. Kegiatan ini digelar Bakti BCA bekerja sama dengan Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo).
Bukit Peramun merupakan salah satu desa binaan Bakti BCA. Melalui kunjungan ini, pengelola desa wisata berkesempatan memperkenalkan langsung potensi ekowisata yang dimiliki kepada pelaku industri perjalanan internasional.
Destinasi ini menawarkan pengalaman berbeda dari citra wisata Belitung yang selama ini identik dengan pantai. Bukit Peramun menghadirkan wisata hutan, trekking, konservasi, edukasi flora, hingga pengamatan satwa endemik.
Popularitas Bukit Peramun juga menunjukkan tren positif. Jumlah wisatawan mancanegara meningkat dari 387 orang pada 2023 menjadi 485 orang pada 2025. Sementara itu, kunjungan wisatawan domestik naik dari 1.356 orang pada 2024 menjadi 1.648 orang pada 2025.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara pengelola desa wisata dan pelaku industri pariwisata mancanegara. Dengan begitu, potensi Bukit Peramun dapat dikenal lebih luas melalui pengalaman langsung di lapangan.
Menurut Hera, Bukit Peramun telah dikelola masyarakat melalui Kelompok Hutan Kemasyarakatan (HKm) Arsel sejak 2006. Pengelolaan berbasis komunitas tersebut membawa desa ini berkembang sebagai destinasi community-based tourism yang mendapat sejumlah pengakuan nasional.
Bukit Peramun pernah meraih penghargaan Green Gold ISTA 2019. Destinasi ini juga memperoleh predikat Hutan Digital Pertama Berbasis Masyarakat di Indonesia dari MURI pada 2023.
“Dengan menyuguhkan panorama hutan alami yang masih asri, kami percaya desa ini memiliki potensi tinggi di pasar internasional apabila didukung dengan akses dan promosi yang tepat. Melalui program ini, kami harap dapat membuka peluang kolaborasi yang mendorong peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara serta memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat tanpa mengesampingkan aspek konservasi dan pelestarian lingkungan,” ujar Hera.
Selama kunjungan, peserta diajak menyusuri kawasan hutan konservasi Bukit Peramun melalui jalur trekking. Mereka juga diperkenalkan dengan tanaman herbal dan tanaman endemik khas Belitung, serta mengikuti kegiatan adopsi pohon.
Peserta familiarization trip turut mencoba aplikasi digital Virtual Assistance & Kenali Pohon (KePo). Aplikasi ini membantu pengunjung mengenali berbagai jenis flora yang tumbuh di kawasan Bukit Peramun.
Perjalanan kemudian berlanjut ke sejumlah titik atraksi wisata alam, seperti Batu Kembar, Batu Ampar, dan puncak Bukit Peramun. Dari ketinggian, peserta menikmati panorama matahari terbenam, mencicipi kopi dan kuliner lokal, serta mengikuti kegiatan pengamatan tarsius.
Tarsius menjadi salah satu satwa endemik yang memperkuat daya tarik ekowisata Belitung. Kehadirannya membuat pengalaman wisata di Bukit Peramun tidak hanya berfokus pada panorama alam, tetapi juga edukasi konservasi.
“Kehadiran pelaku industri pariwisata dari Singapura dan Malaysia dalam kegiatan ini diharapkan menjadi langkah konkret untuk membuka peluang pasar baru dan memperkuat posisi Bukit Peramun sebagai destinasi ekowisata unggulan Indonesia di kancah global,” tambah Hera.
Melalui kegiatan ini, Bukit Peramun diharapkan semakin dikenal sebagai destinasi alternatif di Belitung. Tidak hanya menawarkan keindahan alam, kawasan ini juga mengedepankan pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan pengalaman wisata yang berkelanjutan.
(dra)
Lihat Juga :