4 Perbedaan Film The Devil All The Time dengan Bukunya
Senin, 21 September 2020 - 16:00 WIB
loading...
Film The Devil All The Time punya beberapa perbedaan dengan versi novelnya meski bedanya gak terlalu signifikan. Foto/Netflix
A
A
A
JAKARTA - Film "The Devil All The Time" diadaptasi dari novel berjudul sama karya Donald Ray Pollock, yang juga menjadi narator dalam film ini.
Film garapan Antonio Campos yang tayang di Netflix ini jadi film yang istimewa banget, terutama karena para pemerannya yang bintang kelas atas.
Mulai dari Tom Holland , Robert Pattinson , Bill SkarsgÄrd (pemeran badut Pennywise dalam film " It "), Riley Keough, Jason Clarke, Sebastian Stan, Haley Bennett, Eliza Scanlen, sampai Mia Wasikowska.
Selain itu, meski ceritanya sebenarnya sederhana, tapi film "The Devil All The Time" punya gaya bercerita (storytelling) yang menarik, bikin penonton bisa betah nonton film berdurasi panjang, 2 jam 18 menit.
![4 Perbedaan Film The Devil All The Time dengan Bukunya]()
Foto: Doubleday
Karena diangkat dari sebuah novel, pastinya ada perbedaan antara buku dan filmnya. (Baca Juga: Film Im Thinking of Ending Things Bikin Bingung, Begini Penjelasan dari Bukunya )
Nah, peringatan, nih, tulisan ini mengandung bocoran (spoiler) kelas berat. Jadi buat kamu yang belum nonton dan gak mau kena bocoran, berhenti membaca tulisan ini mulai dari sekarang, ya.
1. KARAKTER SANDY
![4 Perbedaan Film The Devil All The Time dengan Bukunya]()
Foto: Netflix
Karakter Sandy diperankan oleh aktris Riley Keough. Mengutip Looper, dalam novelnya yang terbit pada 2011, sedikit banget cerita tentang Sandy. Narasi hampir seluruhnya fokus pada sisi internal karakter Carl (Jason Clarke), pasangan Sandy.
Tapi Antonio Campos yang juga menulis skenarionya bersama Paulo Campos, jauh lebih tertarik untuk mengekslorasi dan memahami karakter Sandy untuk dikupas dalam filmnya. Hasilnya, kita bisa melihat karakter Sandy lebih banyak mendapat porsi di layar dibanding karakter Carl.
2. KARAKTER LEE BODECKER
![4 Perbedaan Film The Devil All The Time dengan Bukunya]()
Foto: Netflix
Karakter sheriff yang juga kakak Sandy ini diperankan oleh Sebastian Stan. Karakter dalam filmnya juga berbeda dengan gambaran dalam novelnya. (Baca Juga: Alasan Film Bucin Pake Konsep Escape Room, dan Materi yang Mau Diajarkan Para Pemain Kalau Mereka Bikin Kelas Antibucin )
Dalam film, Lee Bodecker digambarkan sebagai polisi korup yang menutupi aksi kriminal yang dilakukan Sandy. Sedangkan dalam novelnya, karakter sherif ini kurang digambarkan. Penggambaran Lee dalam film sukses bikin kita gemas, terutama jelang akhir filmnya, yaitu saat dia akhirnya ketemu lagi dengan Arvin (Tom Holland).
3. WAKTU TERBUNUHNYA PENDETA ROY
![4 Perbedaan Film The Devil All The Time dengan Bukunya]()
Foto: Netflix
Dalam film, kita lihat pendeta Roy Laferty (Harry Melling) yang juga ayah Lenora mati dibunuh Carl dan Sandy pada paruh pertama film. Padahal, mengutip mamasgeeky.com, dalam novelnya, Roy mati jelang akhir film, yaitu tepat sebelum Arvin menumpang di mobil Carl dan Sandy.
4. AKHIR CERITA
![4 Perbedaan Film The Devil All The Time dengan Bukunya]()
Foto: Netflix
Ada sedikit perbedaan yang sebenarnya gak signifikan antara akhir film dan akhir novelnya. Selain waktu terbunuhnya pendeta Roy, perbedaan juga ada setelah Arvin membunuh sheriff Lee.
Dalam film, setelah membunuh orang-orang yang memang aslinya jahat, Arvin akhirnya menumpang mobil kepada orang asing berambut panjang.
Gak mau dirinya tertidur di mobil orang yang gak dikenalnya, Arvin berusaha keras untuk tetap melek, sampai akhirnya pikirannya menerawang. (Baca Juga: 5 Hal Penting dari Film The Social Dilemma dan 6 Hal untuk Dilakukan agar Kamu Gak Dimanipulasi Internet )
Sambil menahan ngantuk, pikirannya menerawang. Dia berpikir bahwa hukum nantinya akan menyadari kebaikan yang telah dia lakukan dan dia pantas dimaafkan untuk segala pembunuhan yang telah dia lakukan.
Dia juga berpikir tentang perang, bertemu seorang gadis, dan membangun keluarga. Sambil Arvin terus menerawang, layar lalu perlahan-lahan menghitam.
Sementara dalam versi novelnya, Carl dan Sandy mengangkut pendeta Roy, lalu membunuhnya. Mereka lalu mengangkut Arvin, tapi akhirnya Arvin berhasil membunuh Carl dan Sandy.
Setelah akhirnya Arvin juga membunuh Sheriff Lee, dia meninggalkan tempat tersebut dan cerita pun berakhir. (Baca Juga: How to Act Like Hooman: Saat Monyet Pengen Jadi Orang Kota )
Iffah Sulistyawati Hartana
Kontributor GenSINDO
Institut Teknologi Bandung
Instagram: @iffahshrtn
Film garapan Antonio Campos yang tayang di Netflix ini jadi film yang istimewa banget, terutama karena para pemerannya yang bintang kelas atas.
Mulai dari Tom Holland , Robert Pattinson , Bill SkarsgÄrd (pemeran badut Pennywise dalam film " It "), Riley Keough, Jason Clarke, Sebastian Stan, Haley Bennett, Eliza Scanlen, sampai Mia Wasikowska.
Selain itu, meski ceritanya sebenarnya sederhana, tapi film "The Devil All The Time" punya gaya bercerita (storytelling) yang menarik, bikin penonton bisa betah nonton film berdurasi panjang, 2 jam 18 menit.

Foto: Doubleday
Karena diangkat dari sebuah novel, pastinya ada perbedaan antara buku dan filmnya. (Baca Juga: Film Im Thinking of Ending Things Bikin Bingung, Begini Penjelasan dari Bukunya )
Nah, peringatan, nih, tulisan ini mengandung bocoran (spoiler) kelas berat. Jadi buat kamu yang belum nonton dan gak mau kena bocoran, berhenti membaca tulisan ini mulai dari sekarang, ya.
1. KARAKTER SANDY

Foto: Netflix
Karakter Sandy diperankan oleh aktris Riley Keough. Mengutip Looper, dalam novelnya yang terbit pada 2011, sedikit banget cerita tentang Sandy. Narasi hampir seluruhnya fokus pada sisi internal karakter Carl (Jason Clarke), pasangan Sandy.
Tapi Antonio Campos yang juga menulis skenarionya bersama Paulo Campos, jauh lebih tertarik untuk mengekslorasi dan memahami karakter Sandy untuk dikupas dalam filmnya. Hasilnya, kita bisa melihat karakter Sandy lebih banyak mendapat porsi di layar dibanding karakter Carl.
2. KARAKTER LEE BODECKER

Foto: Netflix
Karakter sheriff yang juga kakak Sandy ini diperankan oleh Sebastian Stan. Karakter dalam filmnya juga berbeda dengan gambaran dalam novelnya. (Baca Juga: Alasan Film Bucin Pake Konsep Escape Room, dan Materi yang Mau Diajarkan Para Pemain Kalau Mereka Bikin Kelas Antibucin )
Dalam film, Lee Bodecker digambarkan sebagai polisi korup yang menutupi aksi kriminal yang dilakukan Sandy. Sedangkan dalam novelnya, karakter sherif ini kurang digambarkan. Penggambaran Lee dalam film sukses bikin kita gemas, terutama jelang akhir filmnya, yaitu saat dia akhirnya ketemu lagi dengan Arvin (Tom Holland).
3. WAKTU TERBUNUHNYA PENDETA ROY

Foto: Netflix
Dalam film, kita lihat pendeta Roy Laferty (Harry Melling) yang juga ayah Lenora mati dibunuh Carl dan Sandy pada paruh pertama film. Padahal, mengutip mamasgeeky.com, dalam novelnya, Roy mati jelang akhir film, yaitu tepat sebelum Arvin menumpang di mobil Carl dan Sandy.
4. AKHIR CERITA

Foto: Netflix
Ada sedikit perbedaan yang sebenarnya gak signifikan antara akhir film dan akhir novelnya. Selain waktu terbunuhnya pendeta Roy, perbedaan juga ada setelah Arvin membunuh sheriff Lee.
Dalam film, setelah membunuh orang-orang yang memang aslinya jahat, Arvin akhirnya menumpang mobil kepada orang asing berambut panjang.
Gak mau dirinya tertidur di mobil orang yang gak dikenalnya, Arvin berusaha keras untuk tetap melek, sampai akhirnya pikirannya menerawang. (Baca Juga: 5 Hal Penting dari Film The Social Dilemma dan 6 Hal untuk Dilakukan agar Kamu Gak Dimanipulasi Internet )
Sambil menahan ngantuk, pikirannya menerawang. Dia berpikir bahwa hukum nantinya akan menyadari kebaikan yang telah dia lakukan dan dia pantas dimaafkan untuk segala pembunuhan yang telah dia lakukan.
Dia juga berpikir tentang perang, bertemu seorang gadis, dan membangun keluarga. Sambil Arvin terus menerawang, layar lalu perlahan-lahan menghitam.
Sementara dalam versi novelnya, Carl dan Sandy mengangkut pendeta Roy, lalu membunuhnya. Mereka lalu mengangkut Arvin, tapi akhirnya Arvin berhasil membunuh Carl dan Sandy.
Setelah akhirnya Arvin juga membunuh Sheriff Lee, dia meninggalkan tempat tersebut dan cerita pun berakhir. (Baca Juga: How to Act Like Hooman: Saat Monyet Pengen Jadi Orang Kota )
Iffah Sulistyawati Hartana
Kontributor GenSINDO
Institut Teknologi Bandung
Instagram: @iffahshrtn
(it)
Lihat Juga :