Menkes Budi Gunadi Soroti Fenomena FOMO Lari: Tak Masalah asal Sehat
Senin, 15 Juni 2026 - 16:10 WIB
loading...
Fenomena lari yang semakin digandrungi masyarakat turut mendapat perhatian dari Menkes Budi Gunadi Sadikin. Foto/Dok/Aldhi Chandra Setiawan.
A
A
A
JAKARTA - Fenomena lari yang semakin digandrungi masyarakat turut mendapat perhatian dari Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. Melalui unggahan Budi Gemar Sharing di Instagram, Budi menyoroti soal tren ikut-ikutan atau fear of missing out (FOMO) dalam olahraga lari.
Menurut Budi, FOMO dalam olahraga justru bisa menjadi hal positif jika mampu mendorong masyarakat menjalani gaya hidup sehat. Ia juga mengaku takjub melihat antusiasme puluhan ribu peserta yang rela bangun sejak dini hari demi mengikuti ajang marathon lari.
Baca juga: Tips Sate Sehat Anti Kanker ala Menkes, Cocok untuk Olahan Daging Kurban
“Ini karena ada puluhan ribu orang yang bangun sekitar jam 3 pagi untuk hadir di BTN Jakarta International Marathon untuk lari. Memang yang lari ini beberapa ada yang benar-benar serius lari, tapi ada juga ikut-ikutan karena FOMO,” kata Budi.
Menurutnya, FOMO bisa menjadi pintu masuk masyarakat untuk membangun kebiasaan hidup sehat.
“Nggak papa juga, bagus buat FOMO itu jadi gaya hidup atau lifestyle yang keren,” ujarnya.
Menurutnya, setiap peserta yang mengikuti lomba lari memiliki motivasi yang berbeda. Ada yang serius mengejar catatan waktu terbaik, namun ada pula yang sekadar mengikuti tren yang sedang populer.
Baca juga: 15.080 Peserta Siap Ikuti Riau Bhayangkara Run 2026
“Dari puluhan ribu peserta yang turun ke jalanan hari ini, saya perhatikan beberapa memang ada yang benar-benar serius lari untuk mengejar waktu terbaik harian mereka. Tapi, di sisi lain, ada juga yang mungkin sekadar ikut-ikutan karena terkena tren FOMO,” tulis Budi.
Bagi Budi, motivasi awal seseorang bukanlah hal yang paling utama. Ia menekankan bahwa manfaat kesehatan yang diperoleh dari aktivitas fisik justru jauh lebih utama.
Ia pun mengingatkan bahwa rutin berlari dapat membantu menjaga kesehatan dan menurunkan risiko berbagai penyakit. Untuk itu ia mengimbau masyarakat untuk tetap bergerak dan konsisten hidup sehat.
“Apapun motivasi awal kalian, baik karena memang serius berlatih ataupun sekadar ikut-ikutan tren, hal yang paling esensial adalah dampaknya bagi tubuh,” katanya.
Menurut Budi, FOMO dalam olahraga justru bisa menjadi hal positif jika mampu mendorong masyarakat menjalani gaya hidup sehat. Ia juga mengaku takjub melihat antusiasme puluhan ribu peserta yang rela bangun sejak dini hari demi mengikuti ajang marathon lari.
Baca juga: Tips Sate Sehat Anti Kanker ala Menkes, Cocok untuk Olahan Daging Kurban
“Ini karena ada puluhan ribu orang yang bangun sekitar jam 3 pagi untuk hadir di BTN Jakarta International Marathon untuk lari. Memang yang lari ini beberapa ada yang benar-benar serius lari, tapi ada juga ikut-ikutan karena FOMO,” kata Budi.
Menurutnya, FOMO bisa menjadi pintu masuk masyarakat untuk membangun kebiasaan hidup sehat.
“Nggak papa juga, bagus buat FOMO itu jadi gaya hidup atau lifestyle yang keren,” ujarnya.
Menurutnya, setiap peserta yang mengikuti lomba lari memiliki motivasi yang berbeda. Ada yang serius mengejar catatan waktu terbaik, namun ada pula yang sekadar mengikuti tren yang sedang populer.
Baca juga: 15.080 Peserta Siap Ikuti Riau Bhayangkara Run 2026
“Dari puluhan ribu peserta yang turun ke jalanan hari ini, saya perhatikan beberapa memang ada yang benar-benar serius lari untuk mengejar waktu terbaik harian mereka. Tapi, di sisi lain, ada juga yang mungkin sekadar ikut-ikutan karena terkena tren FOMO,” tulis Budi.
Bagi Budi, motivasi awal seseorang bukanlah hal yang paling utama. Ia menekankan bahwa manfaat kesehatan yang diperoleh dari aktivitas fisik justru jauh lebih utama.
Ia pun mengingatkan bahwa rutin berlari dapat membantu menjaga kesehatan dan menurunkan risiko berbagai penyakit. Untuk itu ia mengimbau masyarakat untuk tetap bergerak dan konsisten hidup sehat.
“Apapun motivasi awal kalian, baik karena memang serius berlatih ataupun sekadar ikut-ikutan tren, hal yang paling esensial adalah dampaknya bagi tubuh,” katanya.
(nnz)
Lihat Juga :