Megah dan Memukau, Sangkala Nyimas Gandasari Sukses Hadirkan Sensasi Broadway di Panggung TIM
Senin, 15 Juni 2026 - 12:01 WIB
loading...
Salah satu adegan di musikal Sangkala Nyimas Gandasari
A
A
A
JAKARTA - Suara riuh rendah penonton seketika senyap begitu lampu di Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, mulai meredup pada Minggu malam, 14 Juni 2026. Dalam hitungan detik, ruang teater itu bertransformasi menjadi ruang waktu yang membawa ratusan pasang mata melintasi sejarah. Pertunjukan drama musikal Sangkala Nyimas Gandasari sukses besar menyihir penonton yang hadir dalam dua sesi pementasan (pukul 15.30 - 17.30 WIB dan 19.30 - 21.30 WIB).
Selama hampir dua jam penuh, emosi penonton diaduk-aduk tanpa henti. Menariknya, durasi yang cukup panjang tersebut sama sekali tidak terasa menjemukan. Waktu seolah melesat begitu saja karena setiap detiknya menyuguhkan kejutan yang memanjakan indra.
Perpaduan Harmonius Tradisi dan Teknologi Modern
Sejak tirai panggung dibuka, penonton langsung disuguhi perpaduan musik modern dan tradisional yang digarap dengan sangat apik. Ketukan instrumen kontemporer yang berpadu dengan keagungan musik tradisi melahirkan atmosfer pertunjukan yang membuncah dan penuh energi.
Tidak hanya memanjakan telinga, Sangkala Nyimas Gandasari juga memberikan pengalaman visual sinematik yang luar biasa megah. Panggung teater disulap menjadi ruang dinamis berkat balutan teknologi modern. Penggunaan sistem multimedia yang presisi, panggung hidrolik yang bergerak mulus, efek kabut yang dramatis, hingga tata cahaya artistik digital berhasil membius pandangan mata dan menciptakan ilusi ruang yang hidup.
Misi Personal dan Beban Moral di Balik Layar
Menghidupkan kembali sosok pahlawan perempuan dari abad ke-15 agar relevan di mata generasi Z dan Milenial adalah ambisi yang mempertemukan teknologi modern dengan memori masa lalu. Namun bagi Reny A. Daniel, Executive Producer Sangkala Nyi Mas Gandasari, kemegahan panggung ala Broadway lokal ini mendatangkan tantangan yang mendalam. Di balik misi meneruskan legacy budaya dan keluarga, ada beban moral yang besar untuk memastikan bahwa setiap gerak, vokal, dan alur cerita tetap setia pada akar sejarah aslinya tanpa cacat distorsi.
"Persiapannya memakan waktu satu tahun," kenang Reny saat berbincang mengenai proses kreatif di balik layar. "Challenge-nya lebih ke riset, takut salah karena ini diangkat dari sejarah. Untuk riset, kami harus menggali dari manuskrip kuno dan berdiskusi intens dengan para budayawan."
Bagi Reny, pementasan yang diprakarsai oleh Yayasan Prima Ardian Tana ini bukan sekadar proyek seni biasa, melainkan sebuah misi personal. Ada ikatan emosional yang kuat antara dirinya dengan tanah Cirebon.
"Salah satu alasan kuat mengangkat cerita dari Cirebon ini adalah karena ayah saya berasal dari sana dan beliau sangat mencintai Cirebon. Saya ingin meneruskan legacy-nya, sehingga muncullah kisah Nyai Gandasari," ungkapnya dengan nada emosional.
Kisah Nyi Mas Gandasari, menurut Reny, memiliki posisi yang sangat krusial. Tokoh pahlawan wanita abad ke-15 ini bukan hanya simbol penyebaran Islam di pesisir utara Jawa pada masa Sunan Gunung Jati, tetapi juga jangkar sejarah. "Bahkan cerita Nyai Gandasari ini bisa dikatakan mulanya Indonesia. Selain itu, ending kemenangan Nyai Gandasari dengan Cakraningrat menjadi penanda hari lahir kota Cirebon," tambahnya.
Perpaduan Harmonius Tradisi dan Teknologi Modern
Misi merawat sejarah ini bersambut gayung dengan gairah sang sutradara sekaligus koreografer senior, Denny Malik. Di tangan Denny, kisah klasik ini bertransformasi menjadi sebuah mahakarya berkelas dunia tanpa kehilangan akarnya. Namun, Denny tidak menampik bahwa meramu pertunjukan ini penuh dengan tantangan teknis dan estetis.
"Challenge-nya adalah bagaimana cerita ini harus menarik, eye catching, namun langgamnya tetap terjaga dan storyline-nya harus sesuai. Ini adalah kisah pahlawan dan juga syiar, jadi ini karya masterpiece Indonesia yang original," tegas Denny.
Sejak tirai panggung dibuka, penonton langsung disuguhi perpaduan musik modern dan tradisional yang digarap dengan sangat apik. Ketukan instrumen kontemporer yang berpadu dengan keagungan musik tradisi melahirkan atmosfer pertunjukan yang membuncah dan penuh energi.
Tidak hanya memanjakan telinga, pementasan ini juga memberikan pengalaman visual sinematik yang luar biasa megah. Panggung teater disulap menjadi ruang dinamis berkat balutan teknologi panggung modern. Penggunaan sistem multimedia yang presisi, panggung hidrolik yang bergerak mulus, efek kabut yang dramatis, hingga tata cahaya artistik digital berhasil membius pandangan mata dan menciptakan ilusi ruang yang hidup.
Pendiri Yayasan Prima Ardian Tana, Hj. Nani Yurniati Taufik, menegaskan bahwa kemasan modern ini sengaja dipilih untuk memikat generasi muda. Targetnya jelas: membuktikan bahwa kebudayaan Nusantara memiliki daya tawar yang tidak kalah bersaing dengan gempuran budaya asing seperti K-Pop atau teater musikal barat. Autentisitas budaya lokal pun semakin kental dengan keterlibatan langsung maestro tari asal Cirebon, Elang Tomi Uli, serta kolaborasi bersama mahasiswa jurusan MICE dari Politeknik Pariwisata Prima Internasional Cirebon.
Totalitas Akting dan Kualitas ala Broadway
Keberhasilan drama musikal ini tentu tidak lepas dari performa luar biasa para pemerannya. Deretan talenta muda dan aktor teater berbakat berhasil melebur dengan sempurna ke dalam karakter masing-masing. Karakter utama Nyi Mas Gandasari diperankan dengan sangat memukau dan anggun oleh Aisyah Fadhila. Ia didampingi oleh Aldafi Adnan yang memberikan energi kuat sebagai Syech Magelung Sakti, Daniel Christianto yang tampil penuh wibawa sebagai Sunan Gunung Jati, serta Belmiro Allie (Pangeran Cakrabuana) dan Bima Zeno (Prabu Cakra Ningrat) yang turut menunjukkan kelasnya di atas panggung.
Mereka semua memperlihatkan kualitas penjiwaan yang matang. Sejak menit pertama hingga tirai ditutup, stamina dan konsentrasi mereka sangat stabil dalam menguasai dialog yang rapat, vokal yang bertenaga, serta koreografi yang rumit. Maka tidak heran jika banyak penonton yang memuji dan menggadang-gadang pementasan ini sebagai sajian berkelas internasional ala Broadway.
Sentuhan Komedi yang Mengocok Perut
Meskipun mengangkat narasi sejarah yang cukup serius, pementasan ini sama sekali tidak terasa kaku atau membosankan. Hadirnya sosok Asri Welas (sebagai Putri Ong Tien) dan Dewi Gita (sebagai Ibu Dayang) di atas panggung menjadi bumbu pelengkap yang membuat warna pertunjukan semakin komplit.
Denny Malik sempat berbagi cerita sambil berkelakar memuji totalitas kedua aktris senior tersebut. "Mereka adalah artis yang multitalenta. Mereka siap berperan apa saja dan 'siap diapain aja'. Peran apapun dimakan," canda Denny.
Bagi Asri Welas sendiri, kembali ke panggung teater setelah puluhan tahun vakum membuat energinya terkuras sekaligus terpompa. "Persiapan pertunjukan ini serius banget. Butuh latihan intensif hampir setiap hari. Di teater, kami dituntut menguasai dialog, vokal, koreografi, hingga menjaga energi tetap stabil," cerita Asri mengenai ketatnya proses latihan.
Hasil dari latihan keras itu terbayar tuntas. Lewat banyolan segar dan candaan spontan, Asri Welas dan Dewi Gita sukses mengocok perut penonton. Menariknya, komedi yang dibawakan sering kali disisipi sentilan-sentilan cerdas mengenai fenomena dan keadaan sosial masa kini, membuat suasana teater menjadi lebih cair, dekat, dan relevan dengan audiens.
Harapan Masa Depan Seni Pertunjukan
Melihat antusiasme publik yang begitu tinggi pada hari pertunjukan, Reny A. Daniel mengaku optimis sekaligus menaruh harapan besar bagi industri seni pertunjukan tanah air. "Saya merasa happy sekarang banyak demand terkait musikal. Tapi saya berharap, konten Indonesia dapat diangkat lebih banyak, sehingga generasi muda mencintai kebudayaan sendiri dibanding budaya luar," pungkas Reny.
Melalui eksekusi yang matang dari seni peran, musik, hingga teknologi panggung, Sangkala Nyi Mas Gandasari bukan sekadar pementasan drama biasa. Ia adalah sebuah perayaan seni pertunjukan yang sukses membuktikan bahwa sejarah, tradisi, dan teknologi modern dapat melebur menjadi satu karya yang relevan, megah, dan sangat menghibur di era modern.
Selama hampir dua jam penuh, emosi penonton diaduk-aduk tanpa henti. Menariknya, durasi yang cukup panjang tersebut sama sekali tidak terasa menjemukan. Waktu seolah melesat begitu saja karena setiap detiknya menyuguhkan kejutan yang memanjakan indra.
Perpaduan Harmonius Tradisi dan Teknologi Modern
Sejak tirai panggung dibuka, penonton langsung disuguhi perpaduan musik modern dan tradisional yang digarap dengan sangat apik. Ketukan instrumen kontemporer yang berpadu dengan keagungan musik tradisi melahirkan atmosfer pertunjukan yang membuncah dan penuh energi.
Tidak hanya memanjakan telinga, Sangkala Nyimas Gandasari juga memberikan pengalaman visual sinematik yang luar biasa megah. Panggung teater disulap menjadi ruang dinamis berkat balutan teknologi modern. Penggunaan sistem multimedia yang presisi, panggung hidrolik yang bergerak mulus, efek kabut yang dramatis, hingga tata cahaya artistik digital berhasil membius pandangan mata dan menciptakan ilusi ruang yang hidup.
Misi Personal dan Beban Moral di Balik Layar
Menghidupkan kembali sosok pahlawan perempuan dari abad ke-15 agar relevan di mata generasi Z dan Milenial adalah ambisi yang mempertemukan teknologi modern dengan memori masa lalu. Namun bagi Reny A. Daniel, Executive Producer Sangkala Nyi Mas Gandasari, kemegahan panggung ala Broadway lokal ini mendatangkan tantangan yang mendalam. Di balik misi meneruskan legacy budaya dan keluarga, ada beban moral yang besar untuk memastikan bahwa setiap gerak, vokal, dan alur cerita tetap setia pada akar sejarah aslinya tanpa cacat distorsi.
"Persiapannya memakan waktu satu tahun," kenang Reny saat berbincang mengenai proses kreatif di balik layar. "Challenge-nya lebih ke riset, takut salah karena ini diangkat dari sejarah. Untuk riset, kami harus menggali dari manuskrip kuno dan berdiskusi intens dengan para budayawan."
Bagi Reny, pementasan yang diprakarsai oleh Yayasan Prima Ardian Tana ini bukan sekadar proyek seni biasa, melainkan sebuah misi personal. Ada ikatan emosional yang kuat antara dirinya dengan tanah Cirebon.
"Salah satu alasan kuat mengangkat cerita dari Cirebon ini adalah karena ayah saya berasal dari sana dan beliau sangat mencintai Cirebon. Saya ingin meneruskan legacy-nya, sehingga muncullah kisah Nyai Gandasari," ungkapnya dengan nada emosional.
Kisah Nyi Mas Gandasari, menurut Reny, memiliki posisi yang sangat krusial. Tokoh pahlawan wanita abad ke-15 ini bukan hanya simbol penyebaran Islam di pesisir utara Jawa pada masa Sunan Gunung Jati, tetapi juga jangkar sejarah. "Bahkan cerita Nyai Gandasari ini bisa dikatakan mulanya Indonesia. Selain itu, ending kemenangan Nyai Gandasari dengan Cakraningrat menjadi penanda hari lahir kota Cirebon," tambahnya.
Perpaduan Harmonius Tradisi dan Teknologi Modern
Misi merawat sejarah ini bersambut gayung dengan gairah sang sutradara sekaligus koreografer senior, Denny Malik. Di tangan Denny, kisah klasik ini bertransformasi menjadi sebuah mahakarya berkelas dunia tanpa kehilangan akarnya. Namun, Denny tidak menampik bahwa meramu pertunjukan ini penuh dengan tantangan teknis dan estetis.
"Challenge-nya adalah bagaimana cerita ini harus menarik, eye catching, namun langgamnya tetap terjaga dan storyline-nya harus sesuai. Ini adalah kisah pahlawan dan juga syiar, jadi ini karya masterpiece Indonesia yang original," tegas Denny.
Sejak tirai panggung dibuka, penonton langsung disuguhi perpaduan musik modern dan tradisional yang digarap dengan sangat apik. Ketukan instrumen kontemporer yang berpadu dengan keagungan musik tradisi melahirkan atmosfer pertunjukan yang membuncah dan penuh energi.
Tidak hanya memanjakan telinga, pementasan ini juga memberikan pengalaman visual sinematik yang luar biasa megah. Panggung teater disulap menjadi ruang dinamis berkat balutan teknologi panggung modern. Penggunaan sistem multimedia yang presisi, panggung hidrolik yang bergerak mulus, efek kabut yang dramatis, hingga tata cahaya artistik digital berhasil membius pandangan mata dan menciptakan ilusi ruang yang hidup.
Pendiri Yayasan Prima Ardian Tana, Hj. Nani Yurniati Taufik, menegaskan bahwa kemasan modern ini sengaja dipilih untuk memikat generasi muda. Targetnya jelas: membuktikan bahwa kebudayaan Nusantara memiliki daya tawar yang tidak kalah bersaing dengan gempuran budaya asing seperti K-Pop atau teater musikal barat. Autentisitas budaya lokal pun semakin kental dengan keterlibatan langsung maestro tari asal Cirebon, Elang Tomi Uli, serta kolaborasi bersama mahasiswa jurusan MICE dari Politeknik Pariwisata Prima Internasional Cirebon.
Totalitas Akting dan Kualitas ala Broadway
Keberhasilan drama musikal ini tentu tidak lepas dari performa luar biasa para pemerannya. Deretan talenta muda dan aktor teater berbakat berhasil melebur dengan sempurna ke dalam karakter masing-masing. Karakter utama Nyi Mas Gandasari diperankan dengan sangat memukau dan anggun oleh Aisyah Fadhila. Ia didampingi oleh Aldafi Adnan yang memberikan energi kuat sebagai Syech Magelung Sakti, Daniel Christianto yang tampil penuh wibawa sebagai Sunan Gunung Jati, serta Belmiro Allie (Pangeran Cakrabuana) dan Bima Zeno (Prabu Cakra Ningrat) yang turut menunjukkan kelasnya di atas panggung.
Mereka semua memperlihatkan kualitas penjiwaan yang matang. Sejak menit pertama hingga tirai ditutup, stamina dan konsentrasi mereka sangat stabil dalam menguasai dialog yang rapat, vokal yang bertenaga, serta koreografi yang rumit. Maka tidak heran jika banyak penonton yang memuji dan menggadang-gadang pementasan ini sebagai sajian berkelas internasional ala Broadway.
Sentuhan Komedi yang Mengocok Perut
Meskipun mengangkat narasi sejarah yang cukup serius, pementasan ini sama sekali tidak terasa kaku atau membosankan. Hadirnya sosok Asri Welas (sebagai Putri Ong Tien) dan Dewi Gita (sebagai Ibu Dayang) di atas panggung menjadi bumbu pelengkap yang membuat warna pertunjukan semakin komplit.
Denny Malik sempat berbagi cerita sambil berkelakar memuji totalitas kedua aktris senior tersebut. "Mereka adalah artis yang multitalenta. Mereka siap berperan apa saja dan 'siap diapain aja'. Peran apapun dimakan," canda Denny.
Bagi Asri Welas sendiri, kembali ke panggung teater setelah puluhan tahun vakum membuat energinya terkuras sekaligus terpompa. "Persiapan pertunjukan ini serius banget. Butuh latihan intensif hampir setiap hari. Di teater, kami dituntut menguasai dialog, vokal, koreografi, hingga menjaga energi tetap stabil," cerita Asri mengenai ketatnya proses latihan.
Hasil dari latihan keras itu terbayar tuntas. Lewat banyolan segar dan candaan spontan, Asri Welas dan Dewi Gita sukses mengocok perut penonton. Menariknya, komedi yang dibawakan sering kali disisipi sentilan-sentilan cerdas mengenai fenomena dan keadaan sosial masa kini, membuat suasana teater menjadi lebih cair, dekat, dan relevan dengan audiens.
Harapan Masa Depan Seni Pertunjukan
Melihat antusiasme publik yang begitu tinggi pada hari pertunjukan, Reny A. Daniel mengaku optimis sekaligus menaruh harapan besar bagi industri seni pertunjukan tanah air. "Saya merasa happy sekarang banyak demand terkait musikal. Tapi saya berharap, konten Indonesia dapat diangkat lebih banyak, sehingga generasi muda mencintai kebudayaan sendiri dibanding budaya luar," pungkas Reny.
Melalui eksekusi yang matang dari seni peran, musik, hingga teknologi panggung, Sangkala Nyi Mas Gandasari bukan sekadar pementasan drama biasa. Ia adalah sebuah perayaan seni pertunjukan yang sukses membuktikan bahwa sejarah, tradisi, dan teknologi modern dapat melebur menjadi satu karya yang relevan, megah, dan sangat menghibur di era modern.
(unt)
Lihat Juga :