Siap-Siap Merinding! Kisah Perumahan Horor Legendaris Laddaland Resmi Diadaptasi
Senin, 15 Juni 2026 - 19:40 WIB
loading...
A
A
A
Awi Suryadi mengaku sudah menyimpan keinginan untuk mengadaptasi Laddaland jauh sebelum ia mendapat kesempatan tersebut. Bahkan, film Thailand itu sudah ia tonton sebelum ia membuat film horor pertamanya sendiri.
"Sebelum film horor pertama saya, Danur, ini salah satu film karena saya baru bikin film horor pertama. Film sebanyak yang saya tonton dan salah satu yang saya suka, Laddaland. Pas pandemi, co produser nanya '(MD) mau beli IP Laddaland' terus serius dengan naksir dengan film ini," kata Awi.
Awi mengaku tak menyangka bahwa produser Manoj Punjabi tertarik pada proyek ini. Hal itu mengingat genre film tersebut berbeda dari horor Indonesia pada umumnya.
"Yang tidak sangka pak Manoj (Punjabi) mau juga apalagi Laddaland itu psycho-horor yang beda dengan horor Indonesia kebanyakan," jelas Awi.
Awi Suryadi mengubah sejumlah elemen cerita agar relevan dengan kondisi Indonesia saat ini, terutama karena film aslinya berlatar tahun 2011.
"Karena film aslinya tahun 2011, tentu ada kemajuan teknologi. Beberapa adegan yang menggerakkan plot di film Thailand tidak bisa kita pakai karena teknologinya sudah ketinggalan. Contohnya, di film asli karakter utamanya bekerja di minimarket," kata Awi Suryadi.
Ia pun memilih profesi ojek online sebagai pengganti, sebuah pilihan yang ia anggap lebih dekat dengan realitas ekonomi masyarakat Indonesia kini.
"Sebelum film horor pertama saya, Danur, ini salah satu film karena saya baru bikin film horor pertama. Film sebanyak yang saya tonton dan salah satu yang saya suka, Laddaland. Pas pandemi, co produser nanya '(MD) mau beli IP Laddaland' terus serius dengan naksir dengan film ini," kata Awi.
Awi mengaku tak menyangka bahwa produser Manoj Punjabi tertarik pada proyek ini. Hal itu mengingat genre film tersebut berbeda dari horor Indonesia pada umumnya.
"Yang tidak sangka pak Manoj (Punjabi) mau juga apalagi Laddaland itu psycho-horor yang beda dengan horor Indonesia kebanyakan," jelas Awi.
Awi Suryadi mengubah sejumlah elemen cerita agar relevan dengan kondisi Indonesia saat ini, terutama karena film aslinya berlatar tahun 2011.
"Karena film aslinya tahun 2011, tentu ada kemajuan teknologi. Beberapa adegan yang menggerakkan plot di film Thailand tidak bisa kita pakai karena teknologinya sudah ketinggalan. Contohnya, di film asli karakter utamanya bekerja di minimarket," kata Awi Suryadi.
Ia pun memilih profesi ojek online sebagai pengganti, sebuah pilihan yang ia anggap lebih dekat dengan realitas ekonomi masyarakat Indonesia kini.
Lihat Juga :