Kasus DBD Anak Meningkat saat El Nino, Ini Gejala yang Wajib Diwaspadai
Senin, 22 Juni 2026 - 16:26 WIB
loading...
Panas menjadi salah satu gejala yang harus diwaspadai anak terkena DBD. Foto: Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Fenomena El Nino dan kenaikan suhu bumi dapat memperparah penyebaran demam berdarah dengue (DBD). Di mana perubahan iklim membuat nyamuk Aedes aegypti semakin mudah berkembang biak sehingga risiko penularan meningkat.
Ketua Satgas Imunisasi Anak IDAI, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K) menjelaskan bahwa ada penelitian yang menunjukkan hubungan antara fenomena El Nino dengan peningkatan kasus DBD.
“Setiap kenaikan suhu bumi akan memberikan kemudahan bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak. Akibatnya angka kejadian demam berdarah meningkat,” kata Prof. Hartono dalam konferensi pers Takeda Ayo Bersama Cegah DBD.
Baca Juga : Jangan Cuma Cek Suhu Saat Anak Demam, Segera Bawa ke Dokter Jika Ada Gejala Berikut
Di Indonesia sendiri, beban penyakit ini masih sangat besar. Di mana Indonesia menjadi negara dengan jumlah kasus dengue terbesar kedua di dunia setelah Brasil.
Pada tahun 2026, tercatat hampir 40 ribu kasus DBD dengan lebih dari 100 kematian. Korban terbanyak adalah kelompok anak-anak yaitu sekitar 48 persen kasus yang terjadi pada anak usia di bawah 14 tahun.
Tak hanya itu, angka kematian tertinggi juga ditemukan pada kelompok usia anak.
“Yang meninggal paling banyak adalah usia lima sampai 14 tahun, sekitar 37 sampai 40 persen,” ujarnya.
Prof. Hartono menjelaskan, banyak kasus fatal terjadi karena anak terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan. Untuk itu ia mengingatkan orang tua agar waspada terhadap fase kritis DBD yang biasanya muncul pada hari keempat hingga kelima setelah demam.
Baca Juga : Rekor! Angka Kematian DBD di Indonesia Turun ke 0,4 Persen, Target Nol Kematian 2030 Kian Nyata
“Demam berdarah adalah penyakit yang tidak bisa diramalkan. Masuk rumah sakit bisa jalan kaki, tetapi keluar bisa berbeda sekali jika terlambat ditangani,” kata Prof Hartono.
Adapun beberapa gejala yang harus diwaspadai di antaranya
- muntah terus menerus
- nyeri perut hebat
- tubuh lemas
- kaki dan tangan dingin
- bibir membiru
Selain mengancam kesehatan, DBD juga berdampak pada pendidikan anak. Anak yang terinfeksi sering mengalami absensi sekolah yang tinggi dan membutuhkan waktu pemulihan cukup panjang.
“Setelah sembuh, banyak anak yang merasa lebih cepat lelah dibanding sebelum terkena dengue. Prestasi sekolah juga bisa terganggu,” ujarnya.
Karena itu, Prof. Hartono mengajak masyarakat tidak hanya mengandalkan fogging. Masyarakat juga diminta aktif melakukan pemberantasan sarang nyamuk dan melakukan vaksinasi sebagai perlindungan tambahan terhadap DBD.
Ketua Satgas Imunisasi Anak IDAI, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K) menjelaskan bahwa ada penelitian yang menunjukkan hubungan antara fenomena El Nino dengan peningkatan kasus DBD.
“Setiap kenaikan suhu bumi akan memberikan kemudahan bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak. Akibatnya angka kejadian demam berdarah meningkat,” kata Prof. Hartono dalam konferensi pers Takeda Ayo Bersama Cegah DBD.
Baca Juga : Jangan Cuma Cek Suhu Saat Anak Demam, Segera Bawa ke Dokter Jika Ada Gejala Berikut
Di Indonesia sendiri, beban penyakit ini masih sangat besar. Di mana Indonesia menjadi negara dengan jumlah kasus dengue terbesar kedua di dunia setelah Brasil.
Pada tahun 2026, tercatat hampir 40 ribu kasus DBD dengan lebih dari 100 kematian. Korban terbanyak adalah kelompok anak-anak yaitu sekitar 48 persen kasus yang terjadi pada anak usia di bawah 14 tahun.
Tak hanya itu, angka kematian tertinggi juga ditemukan pada kelompok usia anak.
“Yang meninggal paling banyak adalah usia lima sampai 14 tahun, sekitar 37 sampai 40 persen,” ujarnya.
Prof. Hartono menjelaskan, banyak kasus fatal terjadi karena anak terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan. Untuk itu ia mengingatkan orang tua agar waspada terhadap fase kritis DBD yang biasanya muncul pada hari keempat hingga kelima setelah demam.
Baca Juga : Rekor! Angka Kematian DBD di Indonesia Turun ke 0,4 Persen, Target Nol Kematian 2030 Kian Nyata
“Demam berdarah adalah penyakit yang tidak bisa diramalkan. Masuk rumah sakit bisa jalan kaki, tetapi keluar bisa berbeda sekali jika terlambat ditangani,” kata Prof Hartono.
Adapun beberapa gejala yang harus diwaspadai di antaranya
- muntah terus menerus
- nyeri perut hebat
- tubuh lemas
- kaki dan tangan dingin
- bibir membiru
Selain mengancam kesehatan, DBD juga berdampak pada pendidikan anak. Anak yang terinfeksi sering mengalami absensi sekolah yang tinggi dan membutuhkan waktu pemulihan cukup panjang.
“Setelah sembuh, banyak anak yang merasa lebih cepat lelah dibanding sebelum terkena dengue. Prestasi sekolah juga bisa terganggu,” ujarnya.
Karena itu, Prof. Hartono mengajak masyarakat tidak hanya mengandalkan fogging. Masyarakat juga diminta aktif melakukan pemberantasan sarang nyamuk dan melakukan vaksinasi sebagai perlindungan tambahan terhadap DBD.
(wur)
Lihat Juga :