Gebrakan Riswandi, Pemuda Bulukumba yang Bantu UMKM Lokal Lewat Literasi Visual
Rabu, 24 Juni 2026 - 18:03 WIB
loading...
Riswandi, Kreator Digital asal Bulukumba
A
A
A
Perkembangan ekonomi digital di Indonesia mendorong perubahan besar dalam pola pemasaran, khususnya bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Di tengah dinamika ini, muncul nama Riswandi, seorang kreator digital muda asal Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Ia aktif mendorong peningkatan literasi visual sebagai fondasi penguatan branding UMKM di ruang digital.
Riswandi menjadi representasi generasi muda daerah yang tidak hanya berperan sebagai pembuat konten, tetapi juga penggerak edukasi digital berbasis praktik langsung bagi pelaku usaha lokal.
Berawal dari Kesenjangan Digital di Daerah Ketertarikan Riswandi terhadap literasi visual berangkat dari pengamatannya di lingkungan sekitar. Ia melihat adanya kesenjangan antara kualitas produk lokal dan cara produk tersebut ditampilkan di media digital.
“Banyak UMKM sebenarnya memiliki produk yang bagus, tetapi tidak tersampaikan dengan maksimal karena visual yang digunakan masih sangat sederhana dan kurang menarik,” ujar Riswandi.
Melihat kondisi tersebut, ia mulai membangun pendekatan edukasi yang berfokus pada peningkatan kemampuan visual branding yang mudah diterapkan oleh para pelaku usaha.
Literasi Visual Sebagai Kunci Pemasaran Dalam pandangannya, literasi visual memiliki peran strategis dalam membentuk persepsi konsumen di era digital. Terlebih, keputusan pembelian sering kali terjadi dalam waktu singkat berdasarkan tampilan visual.
“Di era sekarang, orang tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli tampilan dan kepercayaan yang dibangun dari visual. Hal itu yang sering diabaikan,” jelasnya.
Riswandi kemudian mengembangkan berbagai konten edukasi, mulai dari fotografi produk sederhana, desain visual dasar, hingga strategi konten media sosial khusus untuk UMKM.
Pendampingan Lapangan dan Tantangan di Daerah Seiring berjalan waktu, perannya berkembang menjadi pendamping UMKM dalam transformasi digital. Ia konsisten membantu pelaku usaha membangun identitas visual yang lebih kuat.
“Banyak yang awalnya ragu. Namun, setelah melihat perubahan seperti peningkatan minat pembeli, mereka mulai sadar bahwa visual berpengaruh langsung terhadap penjualan,” katanya.
Meski demikian, tantangan terbesar yang dihadapinya adalah rendahnya literasi digital sebagian pelaku UMKM, terutama mengenai pemahaman dasar branding. Banyak yang masih menganggap visual sebagai elemen tambahan, bukan kebutuhan utama. Oleh karena itu, Riswandi memilih pendekatan edukasi yang sederhana agar mudah diterapkan tanpa memerlukan perangkat yang mahal.
Perubahan dari Daerah untuk Ekonomi Lokal Riswandi menegaskan bahwa transformasi digital tidak harus selalu dimulai dari kota besar. Perubahan nyata justru bisa tumbuh dari daerah melalui pendekatan yang konsisten.
“Saya ingin UMKM bisa naik kelas, bukan hanya dari kualitas produknya, tetapi juga dari cara mereka menyajikan produk tersebut kepada publik,” ungkapnya.
Kiprah Riswandi menunjukkan bahwa literasi visual memegang peran krusial dalam pengembangan UMKM di era digital. Dari Bulukumba, ia membuktikan bahwa inovasi lokal mampu memberikan dampak nyata bagi penguatan ekonomi daerah.
Riswandi menjadi representasi generasi muda daerah yang tidak hanya berperan sebagai pembuat konten, tetapi juga penggerak edukasi digital berbasis praktik langsung bagi pelaku usaha lokal.
Berawal dari Kesenjangan Digital di Daerah Ketertarikan Riswandi terhadap literasi visual berangkat dari pengamatannya di lingkungan sekitar. Ia melihat adanya kesenjangan antara kualitas produk lokal dan cara produk tersebut ditampilkan di media digital.
“Banyak UMKM sebenarnya memiliki produk yang bagus, tetapi tidak tersampaikan dengan maksimal karena visual yang digunakan masih sangat sederhana dan kurang menarik,” ujar Riswandi.
Melihat kondisi tersebut, ia mulai membangun pendekatan edukasi yang berfokus pada peningkatan kemampuan visual branding yang mudah diterapkan oleh para pelaku usaha.
Literasi Visual Sebagai Kunci Pemasaran Dalam pandangannya, literasi visual memiliki peran strategis dalam membentuk persepsi konsumen di era digital. Terlebih, keputusan pembelian sering kali terjadi dalam waktu singkat berdasarkan tampilan visual.
“Di era sekarang, orang tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli tampilan dan kepercayaan yang dibangun dari visual. Hal itu yang sering diabaikan,” jelasnya.
Riswandi kemudian mengembangkan berbagai konten edukasi, mulai dari fotografi produk sederhana, desain visual dasar, hingga strategi konten media sosial khusus untuk UMKM.
Pendampingan Lapangan dan Tantangan di Daerah Seiring berjalan waktu, perannya berkembang menjadi pendamping UMKM dalam transformasi digital. Ia konsisten membantu pelaku usaha membangun identitas visual yang lebih kuat.
“Banyak yang awalnya ragu. Namun, setelah melihat perubahan seperti peningkatan minat pembeli, mereka mulai sadar bahwa visual berpengaruh langsung terhadap penjualan,” katanya.
Meski demikian, tantangan terbesar yang dihadapinya adalah rendahnya literasi digital sebagian pelaku UMKM, terutama mengenai pemahaman dasar branding. Banyak yang masih menganggap visual sebagai elemen tambahan, bukan kebutuhan utama. Oleh karena itu, Riswandi memilih pendekatan edukasi yang sederhana agar mudah diterapkan tanpa memerlukan perangkat yang mahal.
Perubahan dari Daerah untuk Ekonomi Lokal Riswandi menegaskan bahwa transformasi digital tidak harus selalu dimulai dari kota besar. Perubahan nyata justru bisa tumbuh dari daerah melalui pendekatan yang konsisten.
“Saya ingin UMKM bisa naik kelas, bukan hanya dari kualitas produknya, tetapi juga dari cara mereka menyajikan produk tersebut kepada publik,” ungkapnya.
Kiprah Riswandi menunjukkan bahwa literasi visual memegang peran krusial dalam pengembangan UMKM di era digital. Dari Bulukumba, ia membuktikan bahwa inovasi lokal mampu memberikan dampak nyata bagi penguatan ekonomi daerah.
(unt)
Lihat Juga :