Libur Sekolah Jadi Momentum Anak Aktif Bereksplorasi di Luar Ruangan

Kamis, 25 Juni 2026 - 11:18 WIB
loading...
Libur Sekolah Jadi Momentum...
Libur sekolah dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk beristirahat dari rutinitas belajar sekaligus memperoleh pengalaman baru di luar rumah. Foto/ist
A A A
JAKARTA - Libur sekolah dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk beristirahat dari rutinitas belajar sekaligus memperoleh pengalaman baru di luar rumah. Namun, tanpa jadwal yang terarah, masa liburan juga berisiko membuat anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dan menjalani aktivitas pasif.

Fenomena tersebut kerap dikaitkan dengan Structured Days Hypothesis. Teori ini menjelaskan bahwa hilangnya rutinitas terstruktur selama liburan dapat memengaruhi pola aktivitas anak, termasuk meningkatkan waktu menatap layar serta menurunkan aktivitas fisik dan kualitas tidur.

Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menganjurkan anak usia sekolah tetap melakukan aktivitas fisik setidaknya 60 menit setiap hari. Kegiatan tidak harus selalu berupa olahraga formal, tetapi dapat dilakukan melalui permainan aktif seperti berlari, bersepeda, memanjat, atau menjelajahi lingkungan sekitar.

Bermain Bebas Membantu Anak Belajar Mandiri

Psikolog Anak dari Tiga Generasi, Saskhya Aulia Prima, M.Psi., Psikolog, mengatakan libur sekolah tidak harus dipenuhi dengan berbagai jadwal les tambahan. Anak justru membutuhkan waktu luang yang memungkinkan mereka memilih kegiatan, menghadapi kebosanan, dan menemukan cara bermain secara mandiri.

Menurutnya, ruang tanpa aturan yang terlalu ketat dapat membantu anak mengembangkan kreativitas, kemampuan menyelesaikan masalah, dan keberanian mengambil keputusan.

“Yang paling dibutuhkan anak di masa libur sekolah adalah ruang untuk bergerak bebas lewat adventurous play. Ini adalah jenis permainan yang sedikit menantang dan seru, seperti berlari bebas atau memanjat, namun tetap dalam kendali,” ujar Saskhya dalam acara diskusi keluarga di Jakarta.

Melalui permainan yang menantang, anak dapat belajar mengenali kemampuan tubuh, menghadapi ketidakpastian, dan bangkit setelah mengalami kegagalan kecil. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk pribadi yang tangguh dan mandiri.

Sebaliknya, larangan yang terlalu sering disampaikan dengan alasan melindungi dapat membuat anak memandang lingkungan sebagai sesuatu yang menakutkan. Anak juga berisiko merasa tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan tanpa bantuan orang dewasa.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa permainan fisik yang menantang, tetapi tetap berada dalam pengawasan, dapat membantu anak membangun kepercayaan diri dan mengelola kecemasan. Aktivitas tersebut memberi kesempatan kepada anak untuk mengenali risiko secara bertahap dalam lingkungan yang relatif aman.

Orang Tua Menjadi Tempat Aman bagi Anak

Memberikan kebebasan bukan berarti membiarkan anak bermain tanpa pengawasan. Orang tua tetap memiliki peran penting untuk memastikan lingkungan bermain aman dan memberikan bantuan ketika dibutuhkan.

Pada anak usia sekolah dasar, pengawasan tidak harus dilakukan dengan terus berada di sampingnya. Orang tua dapat menerapkan konsep supervision partnership, yakni menjaga jarak yang cukup agar anak dapat bereksplorasi, tetapi tetap berada dalam jangkauan pandangan dan mudah ditemukan.

Dalam pola tersebut, orang tua berperan sebagai secure base atau tempat aman yang memberikan kepercayaan kepada anak. Mereka juga menjadi safe haven atau tempat berlindung ketika anak merasa takut, lelah, atau membutuhkan pertolongan.

“Ketenangan ibu itu menular dan sangat krusial. Kalau kita terlalu mudah cemas atau sedikit-sedikit melarang, anak justru akan menyembunyikan rasa sakit atau lelahnya karena takut disuruh berhenti bermain,” jelas Saskhya.

Sikap tenang dapat membantu anak merasa aman sekaligus berani mencoba hal baru. Orang tua dapat memberikan arahan mengenai batas bermain, kondisi lingkungan, dan tindakan yang perlu dilakukan apabila anak merasa tidak nyaman.

Kenali Tanda Anak Mulai Kelelahan

Selain mengawasi keamanan lingkungan, orang tua perlu peka terhadap kondisi fisik anak. Kemampuan anak mengenali sinyal tubuh atau interoception belum berkembang sempurna seperti orang dewasa.

Rasa senang dan lonjakan adrenalin saat bermain dapat membuat anak tidak menyadari bahwa tubuhnya mulai lelah atau kekurangan cairan. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan perubahan perilaku yang muncul selama aktivitas berlangsung.

Anak yang tiba-tiba rewel, mudah marah, atau terlihat lesu belum tentu sedang berperilaku buruk. Perubahan tersebut dapat menjadi tanda awal bahwa ia merasa lelah, lapar, kepanasan, atau membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Gejala lain yang perlu diperhatikan antara lain bibir kering, wajah terasa lebih hangat, berkurangnya frekuensi buang air kecil, serta penurunan semangat bermain.

Ketika tanda-tanda itu muncul, orang tua tidak harus langsung menghentikan seluruh kegiatan. Anak dapat diajak beristirahat di tempat yang teduh, minum, mengonsumsi camilan, dan menenangkan tubuh sebelum kembali bermain apabila kondisinya memungkinkan.

Masa istirahat juga dapat dikemas secara menyenangkan. Orang tua dapat menyebutnya sebagai sesi “pit stop”, seperti mobil balap yang berhenti sejenak sebelum kembali ke lintasan. Pendekatan imajinatif membuat anak tidak merasa waktu bermainnya dihentikan secara paksa.

Persiapan Membantu Orang Tua Lebih Tenang

Senior Brand Manager Cap Kaki Tiga Anak, Jesica Christianty, menilai kekhawatiran orang tua terhadap kondisi anak selama bermain di luar ruangan merupakan hal yang wajar.

“Kami sangat mengerti dilema yang dihadapi para ibu saat liburan sekolah tiba. Para ibu sadar betul anaknya butuh jeda dari gadget dan ingin mereka aktif bereksplorasi di luar ruangan. Namun, pada saat yang sama, kekhawatiran bahwa anak akan drop atau jatuh sakit akibat cuaca yang tidak menentu kerap kali menghantui,” ujar Jesica.

Menurutnya, kekhawatiran tersebut sebaiknya direspons dengan persiapan, bukan dengan membatasi seluruh aktivitas anak. Orang tua dapat memeriksa kondisi cuaca, memilih lokasi yang sesuai, membawa air minum, menyediakan pakaian pengganti, serta memastikan anak mendapat waktu istirahat.

Ia menambahkan bahwa kegiatan di luar ruangan dapat menjadi bekal penting bagi perkembangan anak apabila dilakukan dengan dukungan yang tepat.

“Fondasi mental yang kuat tidak dibentuk di dalam ruangan. Anak-anak sangat membutuhkan kebebasan untuk berlari, memanjat, berinteraksi dengan alam, dan belajar memecahkan masalahnya sendiri. Dengan dukungan serta persiapan matang dari orang tua, kegiatan yang dilakukan hari ini akan menjadi bekal berharga untuk masa depan mereka kelak,” katanya.

Libur sekolah pada akhirnya tidak harus dipenuhi perjalanan mahal atau rangkaian kegiatan yang padat. Bermain di halaman, mengunjungi taman, bersepeda, berkebun, atau menjelajahi lingkungan sekitar dapat menjadi pengalaman bermakna bagi anak.

Hal terpenting adalah memberikan keseimbangan antara kebebasan, keamanan, dan kehadiran orang tua. Anak membutuhkan kesempatan untuk menghadapi tantangan, tetapi juga perlu mengetahui bahwa orang tuanya selalu siap membantu.

“Anak menjadi tangguh bukan karena dilindungi dari segala hal, melainkan karena dipercaya, sambil tahu ibunya selalu bisa ia jangkau,” tutur Saskhya.
(dra)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mau Nyaman Liburan ke...
Mau Nyaman Liburan ke Bali? Perhatikan Ini Sebelum Memilih Tour Wisata
Wujudkan Liburan Impian...
Wujudkan Liburan Impian Tanpa Beban dengan Cashback Rp350.000
Liburan Sekolah Makin...
Liburan Sekolah Makin Seru dengan Petualangan dan Aktivitas Keluarga
Festival Perahu Naga...
Festival Perahu Naga Bakal Meriahkan Lagi Puncak Liburan Musim Panas di Hong Kong
Daya Tarik Menarik Thailand:...
Daya Tarik Menarik Thailand: Eksplorasi Kota Bangkok dan Keindahan Pesisir Pattaya
Libur Sekolah Tiba,...
Libur Sekolah Tiba, Ini 3 Aktivitas Seru yang Bisa Dicoba Bersama Keluarga Tanpa Harus Keluar Banyak Biaya
Tiket Pesawat Kelas...
Tiket Pesawat Kelas Ekonomi Bebas PPN hingga 5 Juli 2026, Ayo Liburan!
Belajar Alam dengan...
Belajar Alam dengan Cara Menyenangkan di Explore The Jungle Mal Ciputra Jakarta
Diskon Tarif Transportasi...
Diskon Tarif Transportasi hingga 30% Kembali Menyapa selama Periode Libur Sekolah 2026
Rekomendasi
Jokowi Wajib Hadir di...
Jokowi Wajib Hadir di Persidangan Perkara Ijazah, Pengacara Roy Suryo: Kan Dia Pelapor
Jumhur Bertemu Co-Chair...
Jumhur Bertemu Co-Chair IAPB, Dukung Indonesia Kembangkan Biodiversity Credit
BPDP Unjuk Gigi Tampilkan...
BPDP Unjuk Gigi Tampilkan Produk Turunan Kakao EastFood Indonesia 2026
Berita Terkini
Bukan Sekadar Batasi...
Bukan Sekadar Batasi Screen Time, Nova Nayla Bagikan Cara Bijak Mindful Parenting
Nyaris Kaya Mendadak,...
Nyaris Kaya Mendadak, Driver Ojol Tak Menyangka Temuan Ini Disebut Jeratan Gaib
Miyako Gelar Lomba Desain,...
Miyako Gelar Lomba Desain, Ajak Mahasiswa Berkreasi dan Dukung Pendidikan di NTT
Tantri Kotak Beberkan...
Tantri Kotak Beberkan Awal Mula Jadi Korban Penipuan, Bermula dari Teman Sekolah Anak
Insting Buruknya Jadi...
Insting Buruknya Jadi Nyata! Pengemudi Ojol Ngaku Jadi Target Ilmu Hitam hingga Alami Kecelakaan
Sinopsis Sinetron Tobat...
Sinopsis Sinetron 'Tobat Jatuh Cinta' Eps 4: Tingkah Lucu Warga Kampung Sindang Barang Tetap Mewarnai Suasana
Infografis
6 Pulau yang Jadi Target...
6 Pulau yang Jadi Target Invasi Darat AS di Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved