Korban Disiksa Selama 3 Tahun, Mengapa Tak Melawan? Ini Penjelasan Psikolog!
Jum'at, 26 Juni 2026 - 12:30 WIB
loading...
A
A
A
Lebih lanjut, ia membeberkan faktor lain mengapa korban cenderung akhirnya memaafkan pasangannya dan terjebak dana abusive relationship . Faktor tersebut adalah pasangan yang terlalu dominan serta punya kontrol dan agresif yang tinggi. Hal itu bisa diperparah jika korban memiliki kepribadian dependen secara psikologis atau istilah umumnya adalah ketergantungan dan tidak bisa hidup tanpa pasangan.
Apalagi, jika korban memiliki karakter insecure di dalam dirinya. Dalam artian korban tidak merasa aman terhadap dirinya dan orang lain hingga akhirnya ia takut ditinggalkan oleh pasangan.
“Jadi memang sangat tergantung dengan pasangannya, ketika dia dapat pasangannya yang sangat dominasi, sangat agresif, sangat controlling, maka sangat mudah mereka untuk rentan masuk ke dalam siklus hubungan yang tidak sehat tersebut,” beber dia.
Meski demikian, Stephani menegaskan bahwa apa yang dijelaskannya di atas hanya merupakan sebuah analisis dari sudut pandang psikologi semata. Analisis tersebut bukan berasal dari rekontruksi asli kasus penyekapan dan penganiayaan yang dilakukan TH kepada YTR selama tiga tahun. Sebab, hingga saat ini pihak kepolisian belum mengungkap rekontruksi atau runtutan kejadian sebenarnya dari kasus tersebut mengingat proses hukum terhadap pelaku masih berlanjut.
“Sebagai riset, sekarang gini karena kalau data tentang dinamika asli kasusnya mau gak mau harus bener-bener ambil data dari pelaku, dari korban dan sebagainya. Tapi kalau saya hanya menyikapi dari kondisi riset yang ada bahwa ini pasti kemungkinan masuknya konsepnya, risetnya secara payung konsep psikologisnya tentang intimate relationship yang sifatnya abusive,” pungkas dia.
Apalagi, jika korban memiliki karakter insecure di dalam dirinya. Dalam artian korban tidak merasa aman terhadap dirinya dan orang lain hingga akhirnya ia takut ditinggalkan oleh pasangan.
“Jadi memang sangat tergantung dengan pasangannya, ketika dia dapat pasangannya yang sangat dominasi, sangat agresif, sangat controlling, maka sangat mudah mereka untuk rentan masuk ke dalam siklus hubungan yang tidak sehat tersebut,” beber dia.
Meski demikian, Stephani menegaskan bahwa apa yang dijelaskannya di atas hanya merupakan sebuah analisis dari sudut pandang psikologi semata. Analisis tersebut bukan berasal dari rekontruksi asli kasus penyekapan dan penganiayaan yang dilakukan TH kepada YTR selama tiga tahun. Sebab, hingga saat ini pihak kepolisian belum mengungkap rekontruksi atau runtutan kejadian sebenarnya dari kasus tersebut mengingat proses hukum terhadap pelaku masih berlanjut.
“Sebagai riset, sekarang gini karena kalau data tentang dinamika asli kasusnya mau gak mau harus bener-bener ambil data dari pelaku, dari korban dan sebagainya. Tapi kalau saya hanya menyikapi dari kondisi riset yang ada bahwa ini pasti kemungkinan masuknya konsepnya, risetnya secara payung konsep psikologisnya tentang intimate relationship yang sifatnya abusive,” pungkas dia.
(wur)
Lihat Juga :