Indonesia Kembangkan Vaksin Berteknologi mRNA untuk Antisipasi Penyakit DBD
Rabu, 08 Juli 2026 - 17:17 WIB
loading...
Peluncuran prototipe vaksin dengue berbasis teknologi mRNA kerja sama Kemenkes, UI, Tsinghua University, dan LPDP. Foto/Ari Sandita Murti.
A
A
A
JAKARTA - Menteri Kesehatan ( Menkes ) Budi Gunadi Sadikin menyebutkan, melalui kerja sama strategis berskala global antara Kemenkes, Universitas Indonesia, Tsinghua University, dan dukungan penuh dari LPDP, Indonesia kini meluncurkan prototipe vaksin dengue berbasis teknologi mRNA.
"Ini kerja sama antara UI, Tsinghua, dan Etana, tiga institusi ini melakukan penelitian untuk vaksin dengue dengan teknologi terbaru, namanya teknologi mRNA. Mudah-mudahan kalau ini bisa selesai, bisa menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia," ujarnya pada wartawan, Rabu (8/7/2026).
Baca juga: Kasus DBD Anak Meningkat saat El Nino, Ini Gejala yang Wajib Diwaspadai
Menurutnya, Indonesia membutuhkan 15 antigen, yang mana saat ini baru 4 yang bisa diproduksi dari awal di Indonesia. Sehingga saat vaksin itu selesai akan menjadi antigen ke-16 dengan teknologi paling baru.
Dia menerangkan, LPDP menjadi pendonor dana sehingga peneliti Indonesia bisa bekerja sama dengan peneliti China pada vaksin berbasis teknologi mRNA. Penelitian tersebut masih baru dalam tahap awal dan belum masuk pada tahap clinical trial.
"Soal penyakit, ini ada contekannya, kalau tuberculosis setahun itu 1 juta yang kena kita. HIV 570 ribu, malaria 520 ribu, ini per tahun, dengue itu 151 ribu. Jadi kalau dari sisi penyakit penular, di mata Kemenkes, nomor 1 TBC, nomor 2 HIV, nomor 3 malaria, nomor 4 dengue, keempat ini vaksinnya belum diproduksi di Indonesia, sudah ada vaksinnya itu malaria dan dengue, tapi itu diproduksi negara lain," tuturnya.
Baca juga: Jangan Cuma Cek Suhu Saat Anak Demam, Segera Bawa ke Dokter Jika Ada Gejala Berikut
"Dari sisi kematian, paling tinggi TBC 126 ribu, HIV 25 ribu, dengue di atas malaria, dengue kan rankingnya kalau insiden 150 ribu, malaria 500 ribu, tapi kematian dengue itu 630 pertahun yang dicatat, malaria 132 orang, HIV 25 ribu, TBC 126 ribu. Jadi keempat vaksin ini kalau ditanya tadi mau jadi vaksin program apa enggak, memang prioritas kita dari yang besar dulu," jelas Budi lagi.
Dia menambahkan, pihaknya pun ke depan akan memprioritaskan proses vaksinasi pada penyakit yang paling tinggi angka kematiannya.
Sementara itu, Wamen Diktisaintek, Stella Christie mengungkap, pihaknya menggandeng universitas asal China itu lantaran kerja sama penelitian vaksin tersebut telah dilakukan sejak 2023 lalu. Lalu, dari sisi keahlian, Profesor di universitas China tersebut merupakan salah satu ahli vaksin top di China dan dunia.
"Alasan kedua, waktu itu memang ada anggaran dari Ministry of Science and Technology untuk memulainya. Sehingga waktu itu kita memetakan kebutuhan Indonesia dan kemampuan China untuk mensupport. Alasan ketiga, prime Industry dari Etana, saya sebagai profesor waktu itu menemani para industri kita ke Indonesia tahun 2023 untuk ke UI untuk melihat fasilitas di UI dan bagaimana kita sungguh bisa bekerjasama," katanya.
Dia menekankan, sejatinya kebanyakan vaksin manjur di dunia itu datangnya dari resep di universitas. Maka itu, penting sekali melakukan resep vaksin tersebut, yang prosesnya tidak dimulai dengan penandatanganan MoU dahulu, tapi justru dari bekerjasama dahulu.
"Ini kerja sama antara UI, Tsinghua, dan Etana, tiga institusi ini melakukan penelitian untuk vaksin dengue dengan teknologi terbaru, namanya teknologi mRNA. Mudah-mudahan kalau ini bisa selesai, bisa menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia," ujarnya pada wartawan, Rabu (8/7/2026).
Baca juga: Kasus DBD Anak Meningkat saat El Nino, Ini Gejala yang Wajib Diwaspadai
Menurutnya, Indonesia membutuhkan 15 antigen, yang mana saat ini baru 4 yang bisa diproduksi dari awal di Indonesia. Sehingga saat vaksin itu selesai akan menjadi antigen ke-16 dengan teknologi paling baru.
Dia menerangkan, LPDP menjadi pendonor dana sehingga peneliti Indonesia bisa bekerja sama dengan peneliti China pada vaksin berbasis teknologi mRNA. Penelitian tersebut masih baru dalam tahap awal dan belum masuk pada tahap clinical trial.
"Soal penyakit, ini ada contekannya, kalau tuberculosis setahun itu 1 juta yang kena kita. HIV 570 ribu, malaria 520 ribu, ini per tahun, dengue itu 151 ribu. Jadi kalau dari sisi penyakit penular, di mata Kemenkes, nomor 1 TBC, nomor 2 HIV, nomor 3 malaria, nomor 4 dengue, keempat ini vaksinnya belum diproduksi di Indonesia, sudah ada vaksinnya itu malaria dan dengue, tapi itu diproduksi negara lain," tuturnya.
Baca juga: Jangan Cuma Cek Suhu Saat Anak Demam, Segera Bawa ke Dokter Jika Ada Gejala Berikut
"Dari sisi kematian, paling tinggi TBC 126 ribu, HIV 25 ribu, dengue di atas malaria, dengue kan rankingnya kalau insiden 150 ribu, malaria 500 ribu, tapi kematian dengue itu 630 pertahun yang dicatat, malaria 132 orang, HIV 25 ribu, TBC 126 ribu. Jadi keempat vaksin ini kalau ditanya tadi mau jadi vaksin program apa enggak, memang prioritas kita dari yang besar dulu," jelas Budi lagi.
Dia menambahkan, pihaknya pun ke depan akan memprioritaskan proses vaksinasi pada penyakit yang paling tinggi angka kematiannya.
Sementara itu, Wamen Diktisaintek, Stella Christie mengungkap, pihaknya menggandeng universitas asal China itu lantaran kerja sama penelitian vaksin tersebut telah dilakukan sejak 2023 lalu. Lalu, dari sisi keahlian, Profesor di universitas China tersebut merupakan salah satu ahli vaksin top di China dan dunia.
"Alasan kedua, waktu itu memang ada anggaran dari Ministry of Science and Technology untuk memulainya. Sehingga waktu itu kita memetakan kebutuhan Indonesia dan kemampuan China untuk mensupport. Alasan ketiga, prime Industry dari Etana, saya sebagai profesor waktu itu menemani para industri kita ke Indonesia tahun 2023 untuk ke UI untuk melihat fasilitas di UI dan bagaimana kita sungguh bisa bekerjasama," katanya.
Dia menekankan, sejatinya kebanyakan vaksin manjur di dunia itu datangnya dari resep di universitas. Maka itu, penting sekali melakukan resep vaksin tersebut, yang prosesnya tidak dimulai dengan penandatanganan MoU dahulu, tapi justru dari bekerjasama dahulu.
(nnz)
Lihat Juga :