58 Desainer Ramaikan Malang Fashion Runway 2026 lewat Koleksi Bertema Fantastisca
Selasa, 14 Juli 2026 - 14:56 WIB
loading...
58 desainer dari Kota Malang, berbagai daerah di Jawa Timur, hingga kota di Indonesia menampilkan koleksi terbaiknya dalam Malang Fashion Runway Series 7.
A
A
A
JAKARTA - Sebanyak 58 desainer dari Kota Malang, berbagai daerah di Jawa Timur, hingga sejumlah kota di Indonesia menampilkan koleksi terbaiknya dalam Malang Fashion Runway Series 7. Peragaan busana bertema Fantastisca tersebut digelar pada 11–12 Juli 2026 di Grand Hall Malang Town Square.
Memasuki tahun ketujuh penyelenggaraan, Malang Fashion Runway 2026 menghadirkan eksplorasi mode yang memadukan imajinasi tanpa batas dengan keindahan estetika. Tema Fantastisca diterjemahkan para desainer melalui permainan siluet, warna, material, dan detail yang mencerminkan karakter masing-masing koleksi.
Fantastisca dibangun melalui tiga filosofi utama. The Unbound Imagination menempatkan mode sebagai ruang ekspresi bebas yang dapat mengambil inspirasi dari mitologi, mimpi, hingga gambaran masa depan.
Sementara itu, The Refined Beauty menekankan pentingnya keseimbangan, nilai estetika, dan kualitas artistik dalam setiap karya. Adapun The Sacred Seven menjadi simbol perjalanan peragaan busana tersebut yang telah memasuki tahun ketujuh, sekaligus menggambarkan kedewasaan, harmoni, dan keberagaman kreativitas.
Kehadiran puluhan desainer dalam satu panggung memperlihatkan perkembangan industri mode Indonesia yang semakin beragam. Koleksi yang ditampilkan tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga membawa identitas, sudut pandang, serta interpretasi personal terhadap tema besar yang diusung.
Wastra Bertemu Gaya Kontemporer
Nuansa mode juga terasa melalui pilihan busana para tamu dan pengunjung. Penyelenggara menetapkan tema pakaian Fantastica Wastra dan Aesthetica in Blue, yang mendorong pengunjung mengeksplorasi kain tradisional dengan sentuhan modern.
Penggunaan wastra dalam gaya kontemporer menunjukkan bahwa kekayaan tekstil Indonesia dapat terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Kain tradisional tidak lagi terbatas pada busana formal, tetapi dapat dipadukan dengan potongan modern, aksesori eksperimental, dan gaya personal.
Penampilan terbaik dari para pengunjung mendapatkan apresiasi melalui kategori Best Dress Code. Kehadiran penghargaan tersebut turut menjadikan area acara sebagai ruang ekspresi mode, tidak hanya bagi desainer dan model di atas panggung, tetapi juga bagi masyarakat yang hadir.
Rangkaian acara dibuka dengan penampilan tari yang menggabungkan unsur teatrikal dan hiburan. Sesi khusus anak turut dihadirkan melalui peragaan busana anak yang dipandu penyanyi dan pembawa acara cilik.
Seluruh penampilan model di atas panggung berada di bawah arahan koreografer Agoeng Soedir Poetra. Penataan koreografi menjadi salah satu bagian penting dalam peragaan busana karena membantu menerjemahkan karakter koleksi melalui gerakan, tempo, dan formasi model.
Ruang Kolaborasi bagi Pelaku Mode
Regional Mall Director Lippo Malls Jawa Timur, Fifi Trijanti, mengatakan peragaan busana tersebut tidak hanya menjadi tempat untuk memperkenalkan koleksi, tetapi juga ruang pertemuan berbagai pelaku industri kreatif.
“Malang Fashion Runway bukan sekadar peragaan busana, tetapi merupakan wadah kolaborasi yang mempertemukan desainer, pelaku industri kreatif, brand, UMKM, dan masyarakat dalam satu ekosistem yang saling mendukung,” ujar Fifi.
Menurutnya, industri mode memiliki peran dalam memperkuat identitas budaya Indonesia melalui karya yang inovatif dan memiliki daya saing.
“Kami percaya industri fashion memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif sekaligus memperkuat identitas budaya Indonesia melalui karya-karya yang inovatif dan berdaya saing,” tuturnya.
Ia berharap panggung tersebut dapat memperkenalkan talenta baru sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas bagi desainer dan pelaku industri mode.
“Melalui MFR, kami ingin menghadirkan panggung yang mampu melahirkan talenta-talenta baru serta memperluas peluang kolaborasi bagi para pelaku industri fashion,” kata Fifi.
Selain peragaan busana, rangkaian acara turut dilengkapi bazar mode yang berlangsung pada 8–12 Juli 2026. Bazar tersebut menghadirkan produk fesyen, kosmetik, koleksi desainer, hingga karya pelaku usaha lokal.
Kehadiran bazar memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk melihat produk secara lebih dekat sekaligus memperluas akses pasar bagi para kreator. Interaksi langsung antara desainer, pelaku usaha, dan pencinta mode juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem industri yang berkelanjutan.
Penyelenggaraan Malang Fashion Runway Series 7 turut memperkuat posisi Kota Malang sebagai salah satu pusat aktivitas kreatif di Jawa Timur. Dengan melibatkan desainer dari berbagai daerah, ajang ini menjadi ruang pertukaran gagasan sekaligus tempat untuk melihat arah perkembangan mode Indonesia yang terus bergerak dinamis.
Memasuki tahun ketujuh penyelenggaraan, Malang Fashion Runway 2026 menghadirkan eksplorasi mode yang memadukan imajinasi tanpa batas dengan keindahan estetika. Tema Fantastisca diterjemahkan para desainer melalui permainan siluet, warna, material, dan detail yang mencerminkan karakter masing-masing koleksi.
Fantastisca dibangun melalui tiga filosofi utama. The Unbound Imagination menempatkan mode sebagai ruang ekspresi bebas yang dapat mengambil inspirasi dari mitologi, mimpi, hingga gambaran masa depan.
Sementara itu, The Refined Beauty menekankan pentingnya keseimbangan, nilai estetika, dan kualitas artistik dalam setiap karya. Adapun The Sacred Seven menjadi simbol perjalanan peragaan busana tersebut yang telah memasuki tahun ketujuh, sekaligus menggambarkan kedewasaan, harmoni, dan keberagaman kreativitas.
Kehadiran puluhan desainer dalam satu panggung memperlihatkan perkembangan industri mode Indonesia yang semakin beragam. Koleksi yang ditampilkan tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga membawa identitas, sudut pandang, serta interpretasi personal terhadap tema besar yang diusung.
Wastra Bertemu Gaya Kontemporer
Nuansa mode juga terasa melalui pilihan busana para tamu dan pengunjung. Penyelenggara menetapkan tema pakaian Fantastica Wastra dan Aesthetica in Blue, yang mendorong pengunjung mengeksplorasi kain tradisional dengan sentuhan modern.
Penggunaan wastra dalam gaya kontemporer menunjukkan bahwa kekayaan tekstil Indonesia dapat terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Kain tradisional tidak lagi terbatas pada busana formal, tetapi dapat dipadukan dengan potongan modern, aksesori eksperimental, dan gaya personal.
Penampilan terbaik dari para pengunjung mendapatkan apresiasi melalui kategori Best Dress Code. Kehadiran penghargaan tersebut turut menjadikan area acara sebagai ruang ekspresi mode, tidak hanya bagi desainer dan model di atas panggung, tetapi juga bagi masyarakat yang hadir.
Rangkaian acara dibuka dengan penampilan tari yang menggabungkan unsur teatrikal dan hiburan. Sesi khusus anak turut dihadirkan melalui peragaan busana anak yang dipandu penyanyi dan pembawa acara cilik.
Seluruh penampilan model di atas panggung berada di bawah arahan koreografer Agoeng Soedir Poetra. Penataan koreografi menjadi salah satu bagian penting dalam peragaan busana karena membantu menerjemahkan karakter koleksi melalui gerakan, tempo, dan formasi model.
Ruang Kolaborasi bagi Pelaku Mode
Regional Mall Director Lippo Malls Jawa Timur, Fifi Trijanti, mengatakan peragaan busana tersebut tidak hanya menjadi tempat untuk memperkenalkan koleksi, tetapi juga ruang pertemuan berbagai pelaku industri kreatif.
“Malang Fashion Runway bukan sekadar peragaan busana, tetapi merupakan wadah kolaborasi yang mempertemukan desainer, pelaku industri kreatif, brand, UMKM, dan masyarakat dalam satu ekosistem yang saling mendukung,” ujar Fifi.
Menurutnya, industri mode memiliki peran dalam memperkuat identitas budaya Indonesia melalui karya yang inovatif dan memiliki daya saing.
“Kami percaya industri fashion memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif sekaligus memperkuat identitas budaya Indonesia melalui karya-karya yang inovatif dan berdaya saing,” tuturnya.
Ia berharap panggung tersebut dapat memperkenalkan talenta baru sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas bagi desainer dan pelaku industri mode.
“Melalui MFR, kami ingin menghadirkan panggung yang mampu melahirkan talenta-talenta baru serta memperluas peluang kolaborasi bagi para pelaku industri fashion,” kata Fifi.
Selain peragaan busana, rangkaian acara turut dilengkapi bazar mode yang berlangsung pada 8–12 Juli 2026. Bazar tersebut menghadirkan produk fesyen, kosmetik, koleksi desainer, hingga karya pelaku usaha lokal.
Kehadiran bazar memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk melihat produk secara lebih dekat sekaligus memperluas akses pasar bagi para kreator. Interaksi langsung antara desainer, pelaku usaha, dan pencinta mode juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem industri yang berkelanjutan.
Penyelenggaraan Malang Fashion Runway Series 7 turut memperkuat posisi Kota Malang sebagai salah satu pusat aktivitas kreatif di Jawa Timur. Dengan melibatkan desainer dari berbagai daerah, ajang ini menjadi ruang pertukaran gagasan sekaligus tempat untuk melihat arah perkembangan mode Indonesia yang terus bergerak dinamis.
(dra)
Lihat Juga :