Tembus Cetakan ke-100, Buku Filosofi Teras Resmi Diadaptasi Jadi Film Layar Lebar!
Kamis, 16 Juli 2026 - 19:43 WIB
loading...
Foto: Doc. Istimewa
A
A
A
Buku fenomenal karya Henry Manampiring, Filosofi Teras, resmi melangkah ke layar lebar. MD Pictures baru saja merilis teaser poster dan trailer perdana film tersebut di CGV Grand Indonesia, beberapa waktu lalu.
Momen ini terasa kian spesial karena bertepatan dengan perayaan cetakan ke-100 buku tersebut. Sejak dirilis pada 2018, Filosofi Teras telah terjual lebih dari 500 ribu eksemplar, menjadi "kitab suci" bagi banyak orang yang ingin belajar mengelola emosi melalui ajaran Stoikisme.
Mengadaptasi buku non-fiksi menjadi sebuah film drama bukanlah perkara mudah. Namun, MD Pictures berhasil meramu inti ajaran Stoik ke dalam cerita orisinal yang sangat dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia.
Penulis buku, Henry Manampiring, mengungkapkan rasa syukurnya atas adaptasi ini.
"MD Pictures berhasil menangkap esensi dan semangat Filosofi Teras dalam konteks keluarga. Kami terus berkonsultasi untuk memastikan film ini tidak mengecewakan jutaan pembaca setianya," ujar Henry.
Film ini disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman, sosok di balik kesuksesan Negeri 5 Menara. Affandi mengaku menggunakan pendekatan personal dalam menggarap film ini.
"Saya bertanya pada diri sendiri, pelajaran apa yang paling membekas setelah membaca buku ini? Dari sana, saya mencoba menerjemahkannya menjadi cerita yang jujur dan relevan," imbuhnya.
Aktris berbakat Sherina Munaf didapuk sebagai pemeran utama bernama Nea. Sherina mengaku memiliki kedekatan pribadi dengan materi film ini.
"Dari Stoicism, aku banyak belajar tentang meregulasi emosi. Begitu tahu buku ini akan difilmkan, aku langsung penasaran dan ikut screen test untuk peran Nea," ucap Sherina.
Didapuk sebagai salah satu pemeran utama, Sherina blak-blakan mengenai proses personalnya dalam mendalami pesan mendalam yang diusung oleh film ini, khususnya mengenai konsep Amor Fati atau mencintai takdir.
Bagi Sherina, menerima takdir hidup bukanlah perkara instan. Dia mengaku harus melewati berbagai proses dan dinamika hidup yang tidak mudah sebelum akhirnya bisa berdamai dengan keadaan.
"Oke Amor Fati yaa, mencintai takdir kan yaa, jadi apakah aku langsung menerima takdir? Enggak langsung saya terima ya teman-teman. Kalau aku secara personal di hidup aku, itu adalah ordeal yang harus dijalankan. Jadi pada akhirnya untuk belajar berdisiplin hati semacam itu memang butuh proses,"ucapnya.
Pemeran karakter Alinea ini menambahkan bahwa salah satu hal yang membantunya melewati masa-masa sulit adalah berbagi cerita dengan orang-orang terdekat, termasuk Henry Manampiring, penulis buku mega-bestseller Filosofi Teras yang menjadi inspirasi film ini.
"Aku butuh ngobrol-ngobrol dengan orang-orang yang juga mengalami obstacles dalam hidupnya. Contohnya, mungkin aku sudah sering cerita, aku sama Henry di sini itu sudah cukup lama temenan. Even before Henry nulis Filosofi Teras gitu ya," katanya.
"Jadi cukup sering ngobrol soal hardships dan juga checking up on each other, apalagi pas zaman COVID ya. Dan di situlah aku rasa life taught me so many lessons dan di-confirm juga dengan filosofi Stoicism juga gitu ya, dengan apa yang Henry tulis dalam Filosofi Teras," lanjutnya.
Saat ditanya mengenai keterkaitan pengalaman pribadinya dengan konflik yang ada di dalam film, Sherina memilih untuk merahasiakannya demi memberi kejutan kepada penonton.
"Dan ketika ada di film ini, aku enggak bisa spill kalau soal ini ya, belum boleh. Tapi of course it's something that I went through, tapi I'm not gonna go into details about that. But yeah, aku rasa itu merupakan proses dan it's okay,"tutur Sherina.
Nea dikisahkan sebagai tulang punggung keluarga yang terjebak dalam beban berat: utang ratusan juta peninggalan almarhum ayahnya yang harus lunas dalam dua bulan.
Sebagai sosok yang perfeksionis, Nea berusaha mengendalikan segalanya sendirian, hingga akhirnya ia tersadar bahwa ada hal-hal di dunia ini yang memang berada di luar kendalinya.
Selain Sherina, film ini bertabur bintang lintas generasi, mulai dari Zee Asadel, Lydia Kandou, Ge Pamungkas, hingga Putri Ayudya.
Kedalaman emosi film ini semakin diperkuat dengan official soundtrack berjudul "Menipu Diri" yang dinyanyikan oleh Ashilla Zahrantiara.
Lagu karya produser Jerrico Escondore ini menggambarkan kontradiksi batin seseorang yang berpura-pura tegar meski hatinya sedang rapuh, sebuah refleksi jujur yang sangat selaras dengan tema film.
Tak hanya berhenti di layar bioskop, Filosofi Teras membawa misi sosial. MD Entertainment berkolaborasi dengan Casio Indonesia merilis 300 unit jam tangan edisi terbatas.Menariknya, 50 unit di antaranya akan dilelang melalui program Bid for Charity.
"Hasil pelelangan akan disalurkan sepenuhnya ke Yayasan Pulih untuk mendukung kampanye kesehatan mental di Indonesia. Kami ingin film ini memberikan aksi nyata, bukan sekadar hiburan," kata Astrid Suryatenggara, Chief Communications Officer MD Entertainment.
Film Filosofi Teras bukan hanya sebuah tontonan drama keluarga yang emosional, tetapi juga sebuah ajakan bagi penonton untuk "pulang" dan menemukan cara baru dalam memandang kehidupan.
Momen ini terasa kian spesial karena bertepatan dengan perayaan cetakan ke-100 buku tersebut. Sejak dirilis pada 2018, Filosofi Teras telah terjual lebih dari 500 ribu eksemplar, menjadi "kitab suci" bagi banyak orang yang ingin belajar mengelola emosi melalui ajaran Stoikisme.
Mengadaptasi buku non-fiksi menjadi sebuah film drama bukanlah perkara mudah. Namun, MD Pictures berhasil meramu inti ajaran Stoik ke dalam cerita orisinal yang sangat dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia.
Penulis buku, Henry Manampiring, mengungkapkan rasa syukurnya atas adaptasi ini.
"MD Pictures berhasil menangkap esensi dan semangat Filosofi Teras dalam konteks keluarga. Kami terus berkonsultasi untuk memastikan film ini tidak mengecewakan jutaan pembaca setianya," ujar Henry.
Film ini disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman, sosok di balik kesuksesan Negeri 5 Menara. Affandi mengaku menggunakan pendekatan personal dalam menggarap film ini.
"Saya bertanya pada diri sendiri, pelajaran apa yang paling membekas setelah membaca buku ini? Dari sana, saya mencoba menerjemahkannya menjadi cerita yang jujur dan relevan," imbuhnya.
Aktris berbakat Sherina Munaf didapuk sebagai pemeran utama bernama Nea. Sherina mengaku memiliki kedekatan pribadi dengan materi film ini.
"Dari Stoicism, aku banyak belajar tentang meregulasi emosi. Begitu tahu buku ini akan difilmkan, aku langsung penasaran dan ikut screen test untuk peran Nea," ucap Sherina.
Didapuk sebagai salah satu pemeran utama, Sherina blak-blakan mengenai proses personalnya dalam mendalami pesan mendalam yang diusung oleh film ini, khususnya mengenai konsep Amor Fati atau mencintai takdir.
Bagi Sherina, menerima takdir hidup bukanlah perkara instan. Dia mengaku harus melewati berbagai proses dan dinamika hidup yang tidak mudah sebelum akhirnya bisa berdamai dengan keadaan.
"Oke Amor Fati yaa, mencintai takdir kan yaa, jadi apakah aku langsung menerima takdir? Enggak langsung saya terima ya teman-teman. Kalau aku secara personal di hidup aku, itu adalah ordeal yang harus dijalankan. Jadi pada akhirnya untuk belajar berdisiplin hati semacam itu memang butuh proses,"ucapnya.
Pemeran karakter Alinea ini menambahkan bahwa salah satu hal yang membantunya melewati masa-masa sulit adalah berbagi cerita dengan orang-orang terdekat, termasuk Henry Manampiring, penulis buku mega-bestseller Filosofi Teras yang menjadi inspirasi film ini.
"Aku butuh ngobrol-ngobrol dengan orang-orang yang juga mengalami obstacles dalam hidupnya. Contohnya, mungkin aku sudah sering cerita, aku sama Henry di sini itu sudah cukup lama temenan. Even before Henry nulis Filosofi Teras gitu ya," katanya.
"Jadi cukup sering ngobrol soal hardships dan juga checking up on each other, apalagi pas zaman COVID ya. Dan di situlah aku rasa life taught me so many lessons dan di-confirm juga dengan filosofi Stoicism juga gitu ya, dengan apa yang Henry tulis dalam Filosofi Teras," lanjutnya.
Saat ditanya mengenai keterkaitan pengalaman pribadinya dengan konflik yang ada di dalam film, Sherina memilih untuk merahasiakannya demi memberi kejutan kepada penonton.
"Dan ketika ada di film ini, aku enggak bisa spill kalau soal ini ya, belum boleh. Tapi of course it's something that I went through, tapi I'm not gonna go into details about that. But yeah, aku rasa itu merupakan proses dan it's okay,"tutur Sherina.
Nea dikisahkan sebagai tulang punggung keluarga yang terjebak dalam beban berat: utang ratusan juta peninggalan almarhum ayahnya yang harus lunas dalam dua bulan.
Sebagai sosok yang perfeksionis, Nea berusaha mengendalikan segalanya sendirian, hingga akhirnya ia tersadar bahwa ada hal-hal di dunia ini yang memang berada di luar kendalinya.
Selain Sherina, film ini bertabur bintang lintas generasi, mulai dari Zee Asadel, Lydia Kandou, Ge Pamungkas, hingga Putri Ayudya.
Kedalaman emosi film ini semakin diperkuat dengan official soundtrack berjudul "Menipu Diri" yang dinyanyikan oleh Ashilla Zahrantiara.
Lagu karya produser Jerrico Escondore ini menggambarkan kontradiksi batin seseorang yang berpura-pura tegar meski hatinya sedang rapuh, sebuah refleksi jujur yang sangat selaras dengan tema film.
Tak hanya berhenti di layar bioskop, Filosofi Teras membawa misi sosial. MD Entertainment berkolaborasi dengan Casio Indonesia merilis 300 unit jam tangan edisi terbatas.Menariknya, 50 unit di antaranya akan dilelang melalui program Bid for Charity.
"Hasil pelelangan akan disalurkan sepenuhnya ke Yayasan Pulih untuk mendukung kampanye kesehatan mental di Indonesia. Kami ingin film ini memberikan aksi nyata, bukan sekadar hiburan," kata Astrid Suryatenggara, Chief Communications Officer MD Entertainment.
Film Filosofi Teras bukan hanya sebuah tontonan drama keluarga yang emosional, tetapi juga sebuah ajakan bagi penonton untuk "pulang" dan menemukan cara baru dalam memandang kehidupan.
(unt)