Dimas Aditya Syok Temui Langsung Orang Dipasung saat Syuting Juminten Edan
Jum'at, 17 Juli 2026 - 17:30 WIB
loading...
Dimas Aditya.
A
A
A
JAKARTA - Aktor kenamaan Dimas Aditya membagikan pengalaman mengejutkan saat menjalani proses syuting film terbarunya, Juminten Edan. Ia mengaku berhadapan langsung dengan realitas pahit di lokasi syuting yang berkaitan dengan tema film tersebut, yakni praktik pasung.
Ia mengungkapkan bahwa suasana mencekam di lokasi syuting bukan berasal dari gangguan mistis, melainkan dari suara teriakan manusia yang dipasung sungguhan di sebuah rumah tepat di sebelah lokasi mereka bekerja.
Hal ini sempat membuatnya terkejut dan bertanya-tanya mengenai relevansi praktik tersebut di zaman modern.
"Itu di lokasi kita ada yang dipasung. Jadi menurut gue ya ini relate. Tapi pertanyaannya kayak bertanya-tanya tiba-tiba pas kita lagi lokasi, beneran Bos itu ada yang dipasung di rumah sebelah gitu. Jadi hampir tiap malam dia teriak-teriak," ujar Dimas Aditya saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan baru-baru ini.
Baca Juga : Trailer Perumahan Laddaland Dirilis, Horor Paling Sedih Awi Suryadi
Aktor berusia 41 tahun ini menceritakan emosi yang keluar dari balik tembok rumah tersebut sangat beragam dan menyayat hati, mulai dari suara tertawa hingga tangisan minta tolong terdengar jelas setiap malam.
Kejadian ini pun memberikan ambience nyata sekaligus menyedihkan bagi para kru dan pemain.
"Teriaknya tuh mulai dari marah, sampe minta tolong, sampe ketawa. Jadi pertama-tama ada yang teriak-teriak gue pikir orang lagi nonton bola. Nggak taunya ternyata nih kok tiba-tiba dia nangis, kok tiba-tiba dia marah, tiba-tiba dia ketawa, minta tolong, 'Ampun, tolong'... Jadi kayak semua emosi kayaknya campur aduk, Bos," tuturnya lagi.
Meski merinding, Dimas mengaku lebih merasa sedih melihat kondisi orang tak dikenal itu. Baginya, praktik pasung menjadi potret miris dari cara keluarga menangani anggota yang sakit demi keamanan bersama, meski di sisi lain terasa sangat tidak manusiawi.
"Lebih ke sedih sih. Lebih ke sedih tapi ya gimana ya, pasti sebenarnya itu kan salah satu cara yang dilakukan untuk mengamankan. Baik untuk diri yang sedang sakit entah atau orang sekitarnya gitu supaya tidak berbahaya buat diri dia dan orang lain," kata suami Ratu Tika Bravani ini.
Baca Juga : Sinopsis dan 5 Fakta Film The Odyssey Karya Christopher Nolan yang Lagi Viral
Selain itu, Dimas juga menghadapi tantangan teknis tak mudah selama menjalani proses syuting. Ia harus mempelajari bahasa isyarat hanya dalam waktu tiga hari demi perannya sebagai Manto.
Hal ini dikarenakan adanya perubahan karakter mendadak dari sang sutradara, Dedi Mercy, di saat-saat terakhir menjelang syuting dimulai.
"Wah, gila sih kalau belajarnya tiga hari saya. Tiba-tiba pas mau last minute dia berubah nih, 'Kayaknya kita bikin dia sedikit tunarungu deh Mas Dimas karakternya.' Jadi Mas Dimas harus belajar bahasa isyarat. Akhirnya belajar dengan cepat ya mau enggak mau ya, instan," ungkapnya.
Menariknya, di film ini Dimas secara tegas menolak melakukan adegan action yang berbahaya. Ia mengaku kini lebih selektif dalam memilih peran yang menuntut fisik berat karena merasa faktor usia yang sudah tidak lagi muda untuk melakukan adegan ekstrem.
"Gue ngerasa udah mulai tua sih. He-eh, gue dulu mungkin pas zaman-zaman 20 tahun yang lalu oke lah. Nah sekarang gue udah kayak ngerasa untuk badan gue agak kurang worth it gue harus dibanting-banting ya gitu, dipukul-pukul. Jadi ya kalau ada yang terlalu sulit, gue pasti akan menolak," pungkasnya.
Selain Dimas Aditya, film Juminten Edan juga dibintangi oleh sederet aktor ternama seperti Meisya Amira, Sharon Jovian, Anne J. Cotto, hingga Kukuh Prasetya. Film garapan Mercusuar Film dan Digital Frame Production ini dijadwalkan tayang pada 23 Juli mendatang.
Ia mengungkapkan bahwa suasana mencekam di lokasi syuting bukan berasal dari gangguan mistis, melainkan dari suara teriakan manusia yang dipasung sungguhan di sebuah rumah tepat di sebelah lokasi mereka bekerja.
Hal ini sempat membuatnya terkejut dan bertanya-tanya mengenai relevansi praktik tersebut di zaman modern.
"Itu di lokasi kita ada yang dipasung. Jadi menurut gue ya ini relate. Tapi pertanyaannya kayak bertanya-tanya tiba-tiba pas kita lagi lokasi, beneran Bos itu ada yang dipasung di rumah sebelah gitu. Jadi hampir tiap malam dia teriak-teriak," ujar Dimas Aditya saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan baru-baru ini.
Baca Juga : Trailer Perumahan Laddaland Dirilis, Horor Paling Sedih Awi Suryadi
Aktor berusia 41 tahun ini menceritakan emosi yang keluar dari balik tembok rumah tersebut sangat beragam dan menyayat hati, mulai dari suara tertawa hingga tangisan minta tolong terdengar jelas setiap malam.
Kejadian ini pun memberikan ambience nyata sekaligus menyedihkan bagi para kru dan pemain.
"Teriaknya tuh mulai dari marah, sampe minta tolong, sampe ketawa. Jadi pertama-tama ada yang teriak-teriak gue pikir orang lagi nonton bola. Nggak taunya ternyata nih kok tiba-tiba dia nangis, kok tiba-tiba dia marah, tiba-tiba dia ketawa, minta tolong, 'Ampun, tolong'... Jadi kayak semua emosi kayaknya campur aduk, Bos," tuturnya lagi.
Meski merinding, Dimas mengaku lebih merasa sedih melihat kondisi orang tak dikenal itu. Baginya, praktik pasung menjadi potret miris dari cara keluarga menangani anggota yang sakit demi keamanan bersama, meski di sisi lain terasa sangat tidak manusiawi.
"Lebih ke sedih sih. Lebih ke sedih tapi ya gimana ya, pasti sebenarnya itu kan salah satu cara yang dilakukan untuk mengamankan. Baik untuk diri yang sedang sakit entah atau orang sekitarnya gitu supaya tidak berbahaya buat diri dia dan orang lain," kata suami Ratu Tika Bravani ini.
Baca Juga : Sinopsis dan 5 Fakta Film The Odyssey Karya Christopher Nolan yang Lagi Viral
Selain itu, Dimas juga menghadapi tantangan teknis tak mudah selama menjalani proses syuting. Ia harus mempelajari bahasa isyarat hanya dalam waktu tiga hari demi perannya sebagai Manto.
Hal ini dikarenakan adanya perubahan karakter mendadak dari sang sutradara, Dedi Mercy, di saat-saat terakhir menjelang syuting dimulai.
"Wah, gila sih kalau belajarnya tiga hari saya. Tiba-tiba pas mau last minute dia berubah nih, 'Kayaknya kita bikin dia sedikit tunarungu deh Mas Dimas karakternya.' Jadi Mas Dimas harus belajar bahasa isyarat. Akhirnya belajar dengan cepat ya mau enggak mau ya, instan," ungkapnya.
Menariknya, di film ini Dimas secara tegas menolak melakukan adegan action yang berbahaya. Ia mengaku kini lebih selektif dalam memilih peran yang menuntut fisik berat karena merasa faktor usia yang sudah tidak lagi muda untuk melakukan adegan ekstrem.
"Gue ngerasa udah mulai tua sih. He-eh, gue dulu mungkin pas zaman-zaman 20 tahun yang lalu oke lah. Nah sekarang gue udah kayak ngerasa untuk badan gue agak kurang worth it gue harus dibanting-banting ya gitu, dipukul-pukul. Jadi ya kalau ada yang terlalu sulit, gue pasti akan menolak," pungkasnya.
Selain Dimas Aditya, film Juminten Edan juga dibintangi oleh sederet aktor ternama seperti Meisya Amira, Sharon Jovian, Anne J. Cotto, hingga Kukuh Prasetya. Film garapan Mercusuar Film dan Digital Frame Production ini dijadwalkan tayang pada 23 Juli mendatang.
(wur)
Lihat Juga :