Citra Art Studio Terpilih Ikuti Pendampingan untuk Perkuat Ekosistem Seni Pertunjukan
Selasa, 21 Juli 2026 - 16:00 WIB
loading...
Keberlanjutan sanggar seni tidak hanya bergantung pada kualitas karya, tetapi juga kemampuan mengelola organisasi secara profesional.
A
A
A
JAKARTA - Keberlanjutan sanggar seni tidak hanya bergantung pada kualitas karya, tetapi juga kemampuan mengelola organisasi secara profesional. Penguatan tata kelola, pengembangan sumber daya manusia, dokumentasi karya, hingga perluasan jejaring menjadi bagian penting agar sanggar dapat terus bertumbuh dan menjangkau masyarakat lebih luas.
Upaya tersebut diwujudkan melalui program Sanggar Bakti BCA yang resmi dimulai pada Senin, 20 Juli 2026. Program ini dirancang untuk menjawab berbagai tantangan yang masih dihadapi komunitas seni pertunjukan di Indonesia, mulai dari keterbatasan pendanaan, minimnya kapasitas pengelolaan organisasi, hingga terbatasnya akses terhadap pendampingan dan jejaring pengembangan.
Citra Art Studio terpilih sebagai sanggar pertama yang mengikuti program pendampingan jangka menengah tersebut. Pembinaan tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas artistik dan pertunjukan, tetapi juga penguatan organisasi, pengelolaan kegiatan, dokumentasi karya, serta pengembangan sumber daya manusia.
Melalui pendampingan tersebut, sanggar diharapkan dapat tumbuh lebih profesional, mandiri, dan berkelanjutan.
Citra Art Studio merupakan komunitas seni tari dan musik yang didirikan oleh Armen Suwandi dan Siti Suryani pada 2006. Sanggar ini mengembangkan beragam jenis kesenian, mulai dari tari tradisional Nusantara, tari kontemporer, hingga berbagai karya kreasi.
Komunitas tersebut juga aktif mengikuti beragam pertunjukan dan festival musik maupun tari, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya mereka mengembangkan sekaligus melestarikan seni budaya Indonesia.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn berharap pendampingan dapat memperkuat peran sanggar sebagai ruang pelestarian dan pengembangan budaya. Sanggar juga diharapkan terus melahirkan karya serta membuka kesempatan belajar bagi generasi muda.
“Kami berharap sanggar yang terpilih dapat memanfaatkan program ini untuk mengembangkan potensi, memperluas peluang, dan memperkuat keberlanjutan sanggar. Pendampingan yang kami berikan diharapkan menjadi bekal bagi mereka untuk terus bertumbuh dan menjangkau audiens yang lebih luas,” kata Hera.
Program tersebut dilaksanakan bersama Titimangsa, organisasi yang memiliki pengalaman lebih dari 15 tahun dalam mengembangkan seni pertunjukan, memproduksi berbagai karya, dan menyelenggarakan program pelatihan.
Pelaksanaan program dibagi dalam dua tahap. Tahap pertama berupa asesmen dan pemetaan komunitas seni untuk mengidentifikasi sanggar potensial berdasarkan aktivitas kesenian, kapasitas organisasi, kualitas proses berkesenian, dan komitmen untuk berkembang.
Tahap selanjutnya berupa pendampingan intensif yang mencakup penguatan kualitas artistik, peningkatan kapasitas organisasi, serta pengembangan karya pertunjukan.
Sebanyak 10 sanggar sebelumnya mengikuti proses penilaian yang dilakukan oleh maestro sekaligus koreografer tari tradisi Elly Luthan serta aktor dan pelaku seni Joned Suryatmoko.
Dari proses tersebut, lima sanggar terbaik dipilih untuk mengikuti sesi presentasi dan pertunjukan secara langsung di hadapan panelis ahli. Panelis terdiri atas Pendiri Titimangsa Happy Salma, akademisi seni pertunjukan Nungki Kusumastuti, produser dan stage manager Teater Koma Sari Madjid, serta budayawan dan dalang Nanang Hape.
Happy Salma menilai kolaborasi tersebut menjadi ruang belajar bagi sanggar seni untuk memperkaya perspektif dalam mengelola dan mengembangkan kegiatan kesenian. Program ini juga diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan ekosistem seni pertunjukan Indonesia.
“Senang sekali dapat berkolaborasi dengan Bakti BCA dalam program ini. Kolaborasi ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi Titimangsa. Kami bertemu dengan banyak pegiat seni yang bekerja dengan penuh konsistensi dan kecintaan terhadap tradisi,” ujar Happy.
Ia berharap sanggar yang terpilih dapat menggunakan kesempatan tersebut untuk bertukar pengetahuan, mengembangkan gagasan baru, serta semakin percaya diri dalam menjalani perjalanan berkesenian.
“Harapan kami, sanggar yang terpilih dapat menjadikan program ini sebagai kesempatan untuk bertukar pengetahuan, mengembangkan gagasan baru, dan semakin yakin melangkah dalam perjalanan berkesenian mereka,” lanjutnya.
Sementara itu, Nungki Kusumastuti mengingatkan bahwa terpilih sebagai peserta program bukan hanya menjadi pencapaian, tetapi juga membawa tanggung jawab bagi sanggar untuk memperkuat pengelolaan dan program yang akan dijalankan.
“Terpilih sebagai Sanggar Bakti BCA tentu menjadi sebuah pencapaian sekaligus tanggung jawab. Saya berharap sanggar yang terpilih dapat memanfaatkan program ini untuk semakin memperkuat pengelolaan sanggar, mengembangkan potensi yang dimiliki, dan menyiapkan langkah-langkah agar sanggar dapat terus tumbuh secara mandiri,” ujar Nungki.
Pendampingan terhadap sanggar dinilai penting karena komunitas seni memiliki peran strategis sebagai ruang belajar, regenerasi seniman, pelestarian tradisi, sekaligus tempat lahirnya berbagai karya baru.
Dengan tata kelola yang semakin baik, sanggar seni diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan aktivitasnya, tetapi juga memperluas jangkauan pertunjukan dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
Upaya tersebut diwujudkan melalui program Sanggar Bakti BCA yang resmi dimulai pada Senin, 20 Juli 2026. Program ini dirancang untuk menjawab berbagai tantangan yang masih dihadapi komunitas seni pertunjukan di Indonesia, mulai dari keterbatasan pendanaan, minimnya kapasitas pengelolaan organisasi, hingga terbatasnya akses terhadap pendampingan dan jejaring pengembangan.
Citra Art Studio terpilih sebagai sanggar pertama yang mengikuti program pendampingan jangka menengah tersebut. Pembinaan tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas artistik dan pertunjukan, tetapi juga penguatan organisasi, pengelolaan kegiatan, dokumentasi karya, serta pengembangan sumber daya manusia.
Melalui pendampingan tersebut, sanggar diharapkan dapat tumbuh lebih profesional, mandiri, dan berkelanjutan.
Citra Art Studio merupakan komunitas seni tari dan musik yang didirikan oleh Armen Suwandi dan Siti Suryani pada 2006. Sanggar ini mengembangkan beragam jenis kesenian, mulai dari tari tradisional Nusantara, tari kontemporer, hingga berbagai karya kreasi.
Komunitas tersebut juga aktif mengikuti beragam pertunjukan dan festival musik maupun tari, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya mereka mengembangkan sekaligus melestarikan seni budaya Indonesia.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn berharap pendampingan dapat memperkuat peran sanggar sebagai ruang pelestarian dan pengembangan budaya. Sanggar juga diharapkan terus melahirkan karya serta membuka kesempatan belajar bagi generasi muda.
“Kami berharap sanggar yang terpilih dapat memanfaatkan program ini untuk mengembangkan potensi, memperluas peluang, dan memperkuat keberlanjutan sanggar. Pendampingan yang kami berikan diharapkan menjadi bekal bagi mereka untuk terus bertumbuh dan menjangkau audiens yang lebih luas,” kata Hera.
Program tersebut dilaksanakan bersama Titimangsa, organisasi yang memiliki pengalaman lebih dari 15 tahun dalam mengembangkan seni pertunjukan, memproduksi berbagai karya, dan menyelenggarakan program pelatihan.
Pelaksanaan program dibagi dalam dua tahap. Tahap pertama berupa asesmen dan pemetaan komunitas seni untuk mengidentifikasi sanggar potensial berdasarkan aktivitas kesenian, kapasitas organisasi, kualitas proses berkesenian, dan komitmen untuk berkembang.
Tahap selanjutnya berupa pendampingan intensif yang mencakup penguatan kualitas artistik, peningkatan kapasitas organisasi, serta pengembangan karya pertunjukan.
Sebanyak 10 sanggar sebelumnya mengikuti proses penilaian yang dilakukan oleh maestro sekaligus koreografer tari tradisi Elly Luthan serta aktor dan pelaku seni Joned Suryatmoko.
Dari proses tersebut, lima sanggar terbaik dipilih untuk mengikuti sesi presentasi dan pertunjukan secara langsung di hadapan panelis ahli. Panelis terdiri atas Pendiri Titimangsa Happy Salma, akademisi seni pertunjukan Nungki Kusumastuti, produser dan stage manager Teater Koma Sari Madjid, serta budayawan dan dalang Nanang Hape.
Happy Salma menilai kolaborasi tersebut menjadi ruang belajar bagi sanggar seni untuk memperkaya perspektif dalam mengelola dan mengembangkan kegiatan kesenian. Program ini juga diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan ekosistem seni pertunjukan Indonesia.
“Senang sekali dapat berkolaborasi dengan Bakti BCA dalam program ini. Kolaborasi ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi Titimangsa. Kami bertemu dengan banyak pegiat seni yang bekerja dengan penuh konsistensi dan kecintaan terhadap tradisi,” ujar Happy.
Ia berharap sanggar yang terpilih dapat menggunakan kesempatan tersebut untuk bertukar pengetahuan, mengembangkan gagasan baru, serta semakin percaya diri dalam menjalani perjalanan berkesenian.
“Harapan kami, sanggar yang terpilih dapat menjadikan program ini sebagai kesempatan untuk bertukar pengetahuan, mengembangkan gagasan baru, dan semakin yakin melangkah dalam perjalanan berkesenian mereka,” lanjutnya.
Sementara itu, Nungki Kusumastuti mengingatkan bahwa terpilih sebagai peserta program bukan hanya menjadi pencapaian, tetapi juga membawa tanggung jawab bagi sanggar untuk memperkuat pengelolaan dan program yang akan dijalankan.
“Terpilih sebagai Sanggar Bakti BCA tentu menjadi sebuah pencapaian sekaligus tanggung jawab. Saya berharap sanggar yang terpilih dapat memanfaatkan program ini untuk semakin memperkuat pengelolaan sanggar, mengembangkan potensi yang dimiliki, dan menyiapkan langkah-langkah agar sanggar dapat terus tumbuh secara mandiri,” ujar Nungki.
Pendampingan terhadap sanggar dinilai penting karena komunitas seni memiliki peran strategis sebagai ruang belajar, regenerasi seniman, pelestarian tradisi, sekaligus tempat lahirnya berbagai karya baru.
Dengan tata kelola yang semakin baik, sanggar seni diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan aktivitasnya, tetapi juga memperluas jangkauan pertunjukan dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
(dra)