Indonesia Fashion Week 2026, Angkat Budaya dan Industri Kreatif Indonesia
Senin, 27 Juli 2026 - 17:20 WIB
loading...
Industri fesyen nasional kembali mendapat panggung besar melalui Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 yang akan berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC).
A
A
A
JAKARTA - Industri fesyen nasional kembali mendapat panggung besar melalui Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 yang akan berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2026.
Memasuki penyelenggaraan ke-14, ajang ini mengusung tema Ulos Simetria sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya Indonesia yang dipadukan dengan sentuhan desain modern yang memiliki potensi besar untuk berkembang di panggung fesyen internasional.
Tidak hanya itu, lewat BTN Indonesia Fashion Week (IFW) 2026, ajang ini menjadi panggung bagi para desainer untuk menampilkan kreativitas sekaligus membuktikan bahwa kekayaan budaya Indonesia dapat terus berkembang melalui inovasi di dunia fesyen. Ajang ini juga mempertemukan desainer, pelaku usaha kreatif, UMKM, hingga institusi pendidikan.
Ketua Umum Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) sekaligus Presiden BTN Indonesia Fashion Week, Poppy Dharsono mengatakan tema Ulos Simetria dipilih untuk menunjukkan potensi besar budaya Indonesia agar terus berkembang melalui inovasi dan menjadi bagian dari percakapan fesyen dunia.
Panggung fashion ini mendapat dukungan Kementerian Pariwisata sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia sekaligus mendorong sektor pariwisata melalui penyelenggaraan event berbasis fesyen dan budaya.
Selama lima hari penyelenggaraan, IFW 2026 akan menghadirkan rangkaian peragaan busana yang menampilkan koleksi dari para desainer dan fashion label, serta partisipasi Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), institusi pendidikan, hingga UMKM dari berbagai daerah di Indonesia.
Setiap harinya, pengunjung akan disuguhkan beragam karya dengan karakter yang berbeda, mulai dari busana siap pakai hingga koleksi yang terinspirasi dari wastra nusantara. Keikutsertaan berbagai peserta tersebut menghadirkan keberagaman karya yang mencerminkan dinamika industri fesyen Indonesia.
Koleksi yang ditampilkan mengangkat kain ulos melalui pendekatan desain yang disesuaikan dengan karakter masing-masing peserta. Selain karya para desainer, pengunjung juga dapat melihat koleksi dari Dekranasda berbagai daerah, pemerintah daerah, sekolah mode, serta institusi pendidikan. Ragam koleksi tersebut menunjukkan beragam cara dalam mengolah wastra Indonesia ke dalam karya fesyen.
Ada juga sejumlah desainer dan fashion label mancanegara, seperti Sadaf by Papri Basak dari India, Rajarezza dari Malaysia, serta Michalis Pantelidis Studio dari Cyprus. Kehadiran mereka memperkaya ragam koleksi di atas runway sekaligus membuka kesempatan bagi para desainer untuk saling bertukar pengalaman dan memperluas jaringan profesional di industri fesyen.
Kehadiran ribuan pengunjung selama penyelenggaraan acara turut mendorong aktivitas di berbagai sektor, seperti perdagangan, transportasi, akomodasi, kuliner, serta layanan pendukung lainnya. Aktivitas tersebut memberikan manfaat bagi pelaku usaha yang terlibat selama acara berlangsung.
Dampak tersebut telah terlihat pada penyelenggaraan sebelumnya. Berdasarkan hasil survei pengunjung yang dihimpun Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, IFW 2025 diperkirakan menghasilkan dampak ekonomi sebesar Rp63,88 miliar. Nilai tersebut dihitung berdasarkan total pengeluaran pengunjung selama mengikuti acara, mulai dari belanja produk, konsumsi, transportasi, hingga akomodasi.
Hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa sektor pakaian jadi, perdagangan, tekstil, penyediaan makan dan minum, serta jasa persewaan dan jasa penunjang usaha menjadi sektor yang memperoleh manfaat terbesar selama penyelenggaraan acara.
Tahun ini, dampak ekonomi dan sosial yang dihasilkan diharapkan semakin meningkat sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh pelaku usaha dan masyarakat.
Apalagi, IFW 2026 ini memanjakan pengunjung. Mereka bisa melanjutkan eksplorasi dunia seni dan kreativitas dengan mengunjungi Nadi Gallery, salah satu galeri seni kontemporer yang secara rutin menghadirkan pameran karya seniman Indonesia melalui program yang dikurasi secara bergantian.
Salah satu pameran yang tengah berlangsung adalah Tropical Aliens, pameran tunggal perupa Indonesia Eko Nugroho yang dibuka untuk umum hingga 2 Agustus 2026. Pameran ini menghadirkan 34 karya terbaru Eko Nugroho yang dibuat sepanjang 2024–2026 dalam berbagai medium, seperti lukisan, bordir, patung, mural, dan instalasi.
Sementara, Love and Flair menghadirkan lebih dari 20 label fesyen. Koleksinya meliputi atasan, bawahan, dress, outer, sepatu, tas, hingga aksesori.
Selain itu, ada beragam pilihan kuliner yang dapat ditemukan di Lucy Curated Compound. Pengunjung dapat menikmati kopi, pastry, dan menu brunch di Sejiwa Coffee, aneka steak dan burger di Lucy Steak & Buns, hidangan khas Hong Kong seperti dimsum dan mi di T1 Cha Chaan Teng, hingga pho khas Vietnam di Pho Thin To-Go.
Memasuki penyelenggaraan ke-14, ajang ini mengusung tema Ulos Simetria sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya Indonesia yang dipadukan dengan sentuhan desain modern yang memiliki potensi besar untuk berkembang di panggung fesyen internasional.
Tidak hanya itu, lewat BTN Indonesia Fashion Week (IFW) 2026, ajang ini menjadi panggung bagi para desainer untuk menampilkan kreativitas sekaligus membuktikan bahwa kekayaan budaya Indonesia dapat terus berkembang melalui inovasi di dunia fesyen. Ajang ini juga mempertemukan desainer, pelaku usaha kreatif, UMKM, hingga institusi pendidikan.
Ketua Umum Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) sekaligus Presiden BTN Indonesia Fashion Week, Poppy Dharsono mengatakan tema Ulos Simetria dipilih untuk menunjukkan potensi besar budaya Indonesia agar terus berkembang melalui inovasi dan menjadi bagian dari percakapan fesyen dunia.
Panggung fashion ini mendapat dukungan Kementerian Pariwisata sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia sekaligus mendorong sektor pariwisata melalui penyelenggaraan event berbasis fesyen dan budaya.
Selama lima hari penyelenggaraan, IFW 2026 akan menghadirkan rangkaian peragaan busana yang menampilkan koleksi dari para desainer dan fashion label, serta partisipasi Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), institusi pendidikan, hingga UMKM dari berbagai daerah di Indonesia.
Setiap harinya, pengunjung akan disuguhkan beragam karya dengan karakter yang berbeda, mulai dari busana siap pakai hingga koleksi yang terinspirasi dari wastra nusantara. Keikutsertaan berbagai peserta tersebut menghadirkan keberagaman karya yang mencerminkan dinamika industri fesyen Indonesia.
Koleksi yang ditampilkan mengangkat kain ulos melalui pendekatan desain yang disesuaikan dengan karakter masing-masing peserta. Selain karya para desainer, pengunjung juga dapat melihat koleksi dari Dekranasda berbagai daerah, pemerintah daerah, sekolah mode, serta institusi pendidikan. Ragam koleksi tersebut menunjukkan beragam cara dalam mengolah wastra Indonesia ke dalam karya fesyen.
Ada juga sejumlah desainer dan fashion label mancanegara, seperti Sadaf by Papri Basak dari India, Rajarezza dari Malaysia, serta Michalis Pantelidis Studio dari Cyprus. Kehadiran mereka memperkaya ragam koleksi di atas runway sekaligus membuka kesempatan bagi para desainer untuk saling bertukar pengalaman dan memperluas jaringan profesional di industri fesyen.
Kehadiran ribuan pengunjung selama penyelenggaraan acara turut mendorong aktivitas di berbagai sektor, seperti perdagangan, transportasi, akomodasi, kuliner, serta layanan pendukung lainnya. Aktivitas tersebut memberikan manfaat bagi pelaku usaha yang terlibat selama acara berlangsung.
Dampak tersebut telah terlihat pada penyelenggaraan sebelumnya. Berdasarkan hasil survei pengunjung yang dihimpun Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, IFW 2025 diperkirakan menghasilkan dampak ekonomi sebesar Rp63,88 miliar. Nilai tersebut dihitung berdasarkan total pengeluaran pengunjung selama mengikuti acara, mulai dari belanja produk, konsumsi, transportasi, hingga akomodasi.
Hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa sektor pakaian jadi, perdagangan, tekstil, penyediaan makan dan minum, serta jasa persewaan dan jasa penunjang usaha menjadi sektor yang memperoleh manfaat terbesar selama penyelenggaraan acara.
Tahun ini, dampak ekonomi dan sosial yang dihasilkan diharapkan semakin meningkat sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh pelaku usaha dan masyarakat.
Apalagi, IFW 2026 ini memanjakan pengunjung. Mereka bisa melanjutkan eksplorasi dunia seni dan kreativitas dengan mengunjungi Nadi Gallery, salah satu galeri seni kontemporer yang secara rutin menghadirkan pameran karya seniman Indonesia melalui program yang dikurasi secara bergantian.
Salah satu pameran yang tengah berlangsung adalah Tropical Aliens, pameran tunggal perupa Indonesia Eko Nugroho yang dibuka untuk umum hingga 2 Agustus 2026. Pameran ini menghadirkan 34 karya terbaru Eko Nugroho yang dibuat sepanjang 2024–2026 dalam berbagai medium, seperti lukisan, bordir, patung, mural, dan instalasi.
Sementara, Love and Flair menghadirkan lebih dari 20 label fesyen. Koleksinya meliputi atasan, bawahan, dress, outer, sepatu, tas, hingga aksesori.
Selain itu, ada beragam pilihan kuliner yang dapat ditemukan di Lucy Curated Compound. Pengunjung dapat menikmati kopi, pastry, dan menu brunch di Sejiwa Coffee, aneka steak dan burger di Lucy Steak & Buns, hidangan khas Hong Kong seperti dimsum dan mi di T1 Cha Chaan Teng, hingga pho khas Vietnam di Pho Thin To-Go.
(dra)
Lihat Juga :