Kemandirian Jadi Warisan Baru, Tren Perencanaan Masa Depan Masyarakat Indonesia Kian Bergeser
Senin, 27 Juli 2026 - 13:35 WIB
loading...
Makna warisan di kalangan masyarakat Indonesia mulai mengalami perubahan.
A
A
A
JAKARTA - Makna warisan di kalangan masyarakat Indonesia mulai mengalami perubahan. Jika sebelumnya identik dengan aset atau harta yang ditinggalkan kepada generasi berikutnya, kini semakin banyak orang memandang kemandirian, baik dari sisi kesehatan maupun finansial, sebagai warisan paling berharga bagi keluarga.
Perubahan pola pikir ini sejalan dengan meningkatnya usia harapan hidup yang mendorong masyarakat untuk mempersiapkan masa depan secara lebih matang. Hidup lebih lama tidak lagi hanya dipandang sebagai kesempatan menikmati masa tua, tetapi juga sebagai tanggung jawab untuk tetap mandiri dan tidak membebani orang-orang terdekat.
Temuan tersebut tergambar dalam survei yang melibatkan lebih dari 9.000 responden di sembilan negara Asia, termasuk 1.000 responden di Indonesia. Sebanyak 93% responden Indonesia menyatakan bahwa kemandirian dan kebebasan finansial merupakan "warisan" baru yang ingin mereka berikan kepada keluarga. Angka ini melampaui rata-rata kawasan Asia yang mencapai 82%.
Selain itu, responden di Indonesia rata-rata berencana mengalokasikan sekitar 60% aset finansial untuk mendukung kebutuhan kesehatan dan perawatan diri di masa depan, sedangkan 40% sisanya dipersiapkan sebagai warisan bagi anak dan keluarga.
Presiden Direktur & CEO PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia Lauren Sulistiawati mengatakan, hasil survei menunjukkan masyarakat semakin memahami pentingnya mempersiapkan diri menghadapi usia lanjut.
"Temuan Manulife Asia Care Survey 2026 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin menyadari bahwa hidup lebih lama perlu diiringi dengan persiapan yang lebih matang. Kemandirian di usia lanjut kini dipandang sebagai salah satu bentuk kepedulian terbesar yang dapat diberikan kepada keluarga. Ketika seseorang mampu menjaga kesehatan dan kesiapan finansialnya, ia tidak hanya melindungi dirinya sendiri, tetapi juga membantu generasi berikutnya melangkah lebih ringan," ujar Lauren.
Kesehatan dan Keuangan Menjadi Prioritas
Survei juga menunjukkan bahwa 71% responden lebih mengutamakan kesehatan dan kualitas hidup dibandingkan meninggalkan harta sebagai warisan. Kesadaran terhadap pentingnya pencegahan penyakit juga cukup tinggi, dengan 89% responden percaya pemeriksaan kesehatan rutin dapat membantu mempertahankan kemandirian saat memasuki masa pensiun.
Meski demikian, masih terdapat kesenjangan antara kesadaran dan praktik. Sebanyak 56% responden mengaku menjalani pemeriksaan kesehatan setidaknya sekali dalam setahun, sementara 16% belum pernah melakukannya. Hanya sekitar sepertiga responden yang rutin melakukan pemeriksaan dini maupun langkah preventif untuk mencegah penyakit kronis.
Dari sisi finansial, mayoritas masyarakat mulai mengandalkan kemampuan sendiri dalam mempersiapkan masa pensiun. Sebanyak 87% responden berencana menggunakan tabungan pribadi, sedangkan 73% mengandalkan investasi. Sebaliknya, hanya sekitar sepertiga yang masih berharap memperoleh dukungan finansial dari anak pada masa tua.
CEO & Presiden Direktur PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Afifa menilai, perubahan ini menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perencanaan jangka panjang.
"Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin menyadari pentingnya mempersiapkan kemandirian agar tidak menjadi beban generasi berikutnya. Namun, mengandalkan tabungan saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup di masa pensiun yang kian panjang, biaya kesehatan yang terus meningkat, dan kebutuhan akan pendapatan yang berkelanjutan. Karena itu, rencana investasi yang cermat, sesuai profil risiko dan dijalankan dengan disiplin, menjadi sebuah keharusan," katanya.
Generasi Sandwich Hadapi Tantangan Lebih Berat
Survei turut menyoroti besarnya tantangan yang dihadapi kelompok generasi sandwich. Sebanyak 62% responden Indonesia memiliki tanggung jawab merawat anggota keluarga, sementara 68% juga menanggung kebutuhan finansial keluarga. Kondisi ini paling banyak dialami kelompok usia produktif 35–44 tahun.
Lebih dari 69% responden yang memiliki tanggung jawab tersebut mengaku kondisi tersebut memengaruhi kemampuan mereka dalam membangun kemandirian finansial jangka panjang.
Lauren menilai, tantangan tersebut membuat perencanaan kesehatan dan keuangan perlu dimulai sedini mungkin.
"Bagi banyak keluarga Indonesia, tantangan saat ini bukan hanya mempersiapkan masa depan mereka sendiri, tetapi juga mendukung kebutuhan orang tua dan anak-anak di saat yang bersamaan. Temuan ini menunjukkan bahwa membangun kemandirian menjadi semakin penting, sekaligus semakin menantang. Karena itu, perencanaan perawatan kesehatan dan finansial jangka panjang perlu dimulai sedini mungkin," ujarnya.
Selain kesiapan finansial, komunikasi dalam keluarga juga dinilai menjadi faktor penting. Sebanyak 82% responden percaya bahwa percakapan terbuka mengenai rencana pensiun dapat meningkatkan kesejahteraan di masa depan, sedangkan 78% mengaku telah mulai mendiskusikan kebutuhan dan harapan mereka ketika memasuki usia pensiun.
Afifa menambahkan, membangun kemandirian membutuhkan sinergi antara kesadaran individu, dukungan keluarga, dan perencanaan keuangan yang tepat.
"Kemandirian sebagai warisan baru membutuhkan kolaborasi antara kesadaran individu, dukungan keluarga, serta akses terhadap solusi keuangan yang tepat. Dengan literasi dan perencanaan yang baik, masyarakat dapat lebih percaya diri dalam mempersiapkan masa depan, menjaga martabat di usia lanjut, dan pada saat yang sama memberikan ruang bagi generasi berikutnya untuk tumbuh tanpa beban finansial yang berlebihan," pungkasnya.
Perubahan pola pikir ini sejalan dengan meningkatnya usia harapan hidup yang mendorong masyarakat untuk mempersiapkan masa depan secara lebih matang. Hidup lebih lama tidak lagi hanya dipandang sebagai kesempatan menikmati masa tua, tetapi juga sebagai tanggung jawab untuk tetap mandiri dan tidak membebani orang-orang terdekat.
Temuan tersebut tergambar dalam survei yang melibatkan lebih dari 9.000 responden di sembilan negara Asia, termasuk 1.000 responden di Indonesia. Sebanyak 93% responden Indonesia menyatakan bahwa kemandirian dan kebebasan finansial merupakan "warisan" baru yang ingin mereka berikan kepada keluarga. Angka ini melampaui rata-rata kawasan Asia yang mencapai 82%.
Selain itu, responden di Indonesia rata-rata berencana mengalokasikan sekitar 60% aset finansial untuk mendukung kebutuhan kesehatan dan perawatan diri di masa depan, sedangkan 40% sisanya dipersiapkan sebagai warisan bagi anak dan keluarga.
Presiden Direktur & CEO PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia Lauren Sulistiawati mengatakan, hasil survei menunjukkan masyarakat semakin memahami pentingnya mempersiapkan diri menghadapi usia lanjut.
"Temuan Manulife Asia Care Survey 2026 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin menyadari bahwa hidup lebih lama perlu diiringi dengan persiapan yang lebih matang. Kemandirian di usia lanjut kini dipandang sebagai salah satu bentuk kepedulian terbesar yang dapat diberikan kepada keluarga. Ketika seseorang mampu menjaga kesehatan dan kesiapan finansialnya, ia tidak hanya melindungi dirinya sendiri, tetapi juga membantu generasi berikutnya melangkah lebih ringan," ujar Lauren.
Kesehatan dan Keuangan Menjadi Prioritas
Survei juga menunjukkan bahwa 71% responden lebih mengutamakan kesehatan dan kualitas hidup dibandingkan meninggalkan harta sebagai warisan. Kesadaran terhadap pentingnya pencegahan penyakit juga cukup tinggi, dengan 89% responden percaya pemeriksaan kesehatan rutin dapat membantu mempertahankan kemandirian saat memasuki masa pensiun.
Meski demikian, masih terdapat kesenjangan antara kesadaran dan praktik. Sebanyak 56% responden mengaku menjalani pemeriksaan kesehatan setidaknya sekali dalam setahun, sementara 16% belum pernah melakukannya. Hanya sekitar sepertiga responden yang rutin melakukan pemeriksaan dini maupun langkah preventif untuk mencegah penyakit kronis.
Dari sisi finansial, mayoritas masyarakat mulai mengandalkan kemampuan sendiri dalam mempersiapkan masa pensiun. Sebanyak 87% responden berencana menggunakan tabungan pribadi, sedangkan 73% mengandalkan investasi. Sebaliknya, hanya sekitar sepertiga yang masih berharap memperoleh dukungan finansial dari anak pada masa tua.
CEO & Presiden Direktur PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Afifa menilai, perubahan ini menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perencanaan jangka panjang.
"Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin menyadari pentingnya mempersiapkan kemandirian agar tidak menjadi beban generasi berikutnya. Namun, mengandalkan tabungan saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup di masa pensiun yang kian panjang, biaya kesehatan yang terus meningkat, dan kebutuhan akan pendapatan yang berkelanjutan. Karena itu, rencana investasi yang cermat, sesuai profil risiko dan dijalankan dengan disiplin, menjadi sebuah keharusan," katanya.
Generasi Sandwich Hadapi Tantangan Lebih Berat
Survei turut menyoroti besarnya tantangan yang dihadapi kelompok generasi sandwich. Sebanyak 62% responden Indonesia memiliki tanggung jawab merawat anggota keluarga, sementara 68% juga menanggung kebutuhan finansial keluarga. Kondisi ini paling banyak dialami kelompok usia produktif 35–44 tahun.
Lebih dari 69% responden yang memiliki tanggung jawab tersebut mengaku kondisi tersebut memengaruhi kemampuan mereka dalam membangun kemandirian finansial jangka panjang.
Lauren menilai, tantangan tersebut membuat perencanaan kesehatan dan keuangan perlu dimulai sedini mungkin.
"Bagi banyak keluarga Indonesia, tantangan saat ini bukan hanya mempersiapkan masa depan mereka sendiri, tetapi juga mendukung kebutuhan orang tua dan anak-anak di saat yang bersamaan. Temuan ini menunjukkan bahwa membangun kemandirian menjadi semakin penting, sekaligus semakin menantang. Karena itu, perencanaan perawatan kesehatan dan finansial jangka panjang perlu dimulai sedini mungkin," ujarnya.
Selain kesiapan finansial, komunikasi dalam keluarga juga dinilai menjadi faktor penting. Sebanyak 82% responden percaya bahwa percakapan terbuka mengenai rencana pensiun dapat meningkatkan kesejahteraan di masa depan, sedangkan 78% mengaku telah mulai mendiskusikan kebutuhan dan harapan mereka ketika memasuki usia pensiun.
Afifa menambahkan, membangun kemandirian membutuhkan sinergi antara kesadaran individu, dukungan keluarga, dan perencanaan keuangan yang tepat.
"Kemandirian sebagai warisan baru membutuhkan kolaborasi antara kesadaran individu, dukungan keluarga, serta akses terhadap solusi keuangan yang tepat. Dengan literasi dan perencanaan yang baik, masyarakat dapat lebih percaya diri dalam mempersiapkan masa depan, menjaga martabat di usia lanjut, dan pada saat yang sama memberikan ruang bagi generasi berikutnya untuk tumbuh tanpa beban finansial yang berlebihan," pungkasnya.
(dra)
Lihat Juga :