Fanomenon Coachella Versi K-Pop Resmi Diluncurkan, Target Raup Rp12 Triliun
Selasa, 28 Juli 2026 - 12:23 WIB
loading...
Park Jin-young, salah satu ketua Komite Kepresidenan untuk Pertukaran Budaya Populer, berbicara pada konferensi pers tentang kemajuan proyek Fanomenon di Museum Nasional Seni Modern dan Kontemporer, Korea, di pusat kota Seoul pada 27 Juli. Foto: Korea Jon
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah Korea Selatan tengah menyiapkan proyek ambisius bernama Fanomenon, sebuah festival K-pop berskala global yang digadang-gadang akan menjadi Coachella versi K-pop. Ajang ini diproyeksikan mampu menghasilkan dampak ekonomi hingga 1 triliun won atau setara Rp12 triliun.
Dikutip Korea JoongAng Daily, edisi perdana Fanomenon akan berlangsung selama 11 hari, mulai 2 hingga 12 Desember 2027. Selama hampir dua pekan, penggemar akan disuguhi rangkaian konser, ajang penghargaan, hingga pameran industri yang berkaitan dengan budaya K-pop.
Festival ini menjadi istimewa karena untuk pertama kalinya empat agensi hiburan terbesar Korea Selatan HYBE, JYP Entertainment, SM Entertainment, dan YG Entertainment bersatu dalam satu proyek bersama yang juga mendapat dukungan penuh dari pemerintah.
Acara utama akan digelar di Seoul Arena, gedung konser terbesar di Korea Selatan yang saat ini masih dalam tahap pembangunan dan dijadwalkan selesai pada Mei tahun depan. Arena berkapasitas sekitar 20.000 penonton itu akan menjadi pusat penyelenggaraan berbagai konser dan upacara penghargaan.
Baca Juga : Empat Agensi Besar K-Pop Bersatu Siapkan Festival Global Tandingi Coachella
Ke depannya, Fanomenon tidak hanya digelar di Korea Selatan. Mulai 2028, proyek ini direncanakan berkembang menjadi festival internasional dengan Los Angeles sebagai kota pertama di luar negeri yang akan menjadi tuan rumah.
Rencana Fanomenon diumumkan oleh Komite Kepresidenan untuk Pertukaran Budaya Populer dalam konferensi pers yang digelar di Museum Nasional Seni Modern dan Kontemporer Korea, Seoul.
Ketua bersama komite tersebut, Park Jin-young, pendiri JYP Entertainment, mengatakan bahwa proyek ini lahir dari keinginan untuk memastikan K-pop tetap menjadi kekuatan budaya dunia dalam jangka panjang.
"Kami memiliki satu tujuan, yaitu memanfaatkan momentum K-pop dan membuatnya bertahan selama mungkin. Saya yakin proyek ini bukan hanya menguntungkan industri K-pop, tetapi juga menjadi ruang bagi anak-anak muda dari berbagai negara untuk saling terhubung melalui budaya pop," ujar Park.
Baca Juga : Lisa BLACKPINK Bikin Heboh Coachella 2026, Tampil Bareng Anyma Bawakan 'Bad Angel'
Nama Fanomenon sendiri merupakan gabungan dari kata "fan" dan "phenomenon" (fenomena). Gagasan ini pertama kali diperkenalkan Park saat komite tersebut dibentuk pada Oktober tahun lalu. Saat itu, ia bahkan menyebut Fanomenon sebagai festival baru yang berpotensi melampaui popularitas Coachella Valley Music and Arts Festival.
Meski demikian, penyelenggaraan perdana pada 2027 belum sepenuhnya mengusung konsep festival musik terbuka seperti Coachella. Format awalnya merupakan kombinasi konser, ajang penghargaan, dan pameran industri K-pop.
Fanomenon akan dibuka dengan acara spesial pada 2 Desember 2027.Konser akan berlangsung dalam dua akhir pekan, yakni 3–5 Desember dan 10–12 Desember. Sementara itu, upacara penghargaan akan digelar selama empat hari dan berlangsung bersamaan dengan rangkaian konser. Tiket konser maupun penghargaan akan dijual secara terpisah.
Selain di Seoul Arena, konser tambahan juga akan digelar di Kintex, Ilsan, Provinsi Gyeonggi.
Selama 10 hari penyelenggaraan, pengunjung juga dapat menikmati pameran yang menghadirkan berbagai perusahaan dari industri pendukung K-pop, mulai dari teknologi, hiburan, merchandise, hingga sektor kreatif lainnya.
Hal paling mencolok adalah kerja sama yang belum pernah terjadi sebelumnya antara HYBE, JYP Entertainment, SM Entertainment, dan YG Entertainment.Keempat perusahaan tersebut bahkan membentuk perusahaan patungan (joint venture) khusus untuk menjalankan proyek ini.
"Empat agensi besar telah membentuk usaha bersama dan bekerja sebagai satu tim. Dengan dukungan pemerintah serta tujuan yang sama untuk kepentingan industri, proyek ini memperoleh momentum yang sangat kuat," kata Park.
Ia juga menegaskan bahwa Fanomenon tidak hanya menjadi panggung bagi artis dari empat agensi besar. Musisi dari agensi yang lebih kecil juga akan mendapatkan kesempatan tampil agar industri K-pop dapat berkembang secara lebih merata.
Salah satu konsep paling unik dari Fanomenon adalah sistem penghargaannya. Berbeda dengan ajang musik pada umumnya yang memberikan penghargaan kepada penyanyi, Fanomenon justru akan memberikan penghargaan kepada fandom atau komunitas penggemar.
Saat ini panitia sedang menyusun sistem penilaian berbasis data untuk memilih 10 fandom paling loyal. Dari sepuluh pemenang tersebut, satu fandom terbaik akan dinobatkan sebagai "Fandemonium", sebuah nama yang bahkan telah dipatenkan oleh penyelenggara.
Meski daftar artis yang akan tampil belum diumumkan, panitia menyebut respons dari musisi Korea maupun internasional terhadap undangan acara ini sangat positif.
Panitia memperkirakan Fanomenon akan menarik sekitar 520.000 pengunjung, termasuk 200.000 wisatawan mancanegara. Acara tersebut diproyeksikan menghasilkan dampak ekonomi hingga 1 triliun won.
Perhitungan itu mengacu pada keberhasilan konser comeback BTS di kawasan Gwanghwamun pada 21 Maret lalu yang berhasil menarik sekitar 104.000 pengunjung dan memberikan dampak ekonomi yang signifikan.
Dikutip Korea JoongAng Daily, edisi perdana Fanomenon akan berlangsung selama 11 hari, mulai 2 hingga 12 Desember 2027. Selama hampir dua pekan, penggemar akan disuguhi rangkaian konser, ajang penghargaan, hingga pameran industri yang berkaitan dengan budaya K-pop.
Festival ini menjadi istimewa karena untuk pertama kalinya empat agensi hiburan terbesar Korea Selatan HYBE, JYP Entertainment, SM Entertainment, dan YG Entertainment bersatu dalam satu proyek bersama yang juga mendapat dukungan penuh dari pemerintah.
Acara utama akan digelar di Seoul Arena, gedung konser terbesar di Korea Selatan yang saat ini masih dalam tahap pembangunan dan dijadwalkan selesai pada Mei tahun depan. Arena berkapasitas sekitar 20.000 penonton itu akan menjadi pusat penyelenggaraan berbagai konser dan upacara penghargaan.
Baca Juga : Empat Agensi Besar K-Pop Bersatu Siapkan Festival Global Tandingi Coachella
Ke depannya, Fanomenon tidak hanya digelar di Korea Selatan. Mulai 2028, proyek ini direncanakan berkembang menjadi festival internasional dengan Los Angeles sebagai kota pertama di luar negeri yang akan menjadi tuan rumah.
Rencana Fanomenon diumumkan oleh Komite Kepresidenan untuk Pertukaran Budaya Populer dalam konferensi pers yang digelar di Museum Nasional Seni Modern dan Kontemporer Korea, Seoul.
Ketua bersama komite tersebut, Park Jin-young, pendiri JYP Entertainment, mengatakan bahwa proyek ini lahir dari keinginan untuk memastikan K-pop tetap menjadi kekuatan budaya dunia dalam jangka panjang.
"Kami memiliki satu tujuan, yaitu memanfaatkan momentum K-pop dan membuatnya bertahan selama mungkin. Saya yakin proyek ini bukan hanya menguntungkan industri K-pop, tetapi juga menjadi ruang bagi anak-anak muda dari berbagai negara untuk saling terhubung melalui budaya pop," ujar Park.
Baca Juga : Lisa BLACKPINK Bikin Heboh Coachella 2026, Tampil Bareng Anyma Bawakan 'Bad Angel'
Nama Fanomenon sendiri merupakan gabungan dari kata "fan" dan "phenomenon" (fenomena). Gagasan ini pertama kali diperkenalkan Park saat komite tersebut dibentuk pada Oktober tahun lalu. Saat itu, ia bahkan menyebut Fanomenon sebagai festival baru yang berpotensi melampaui popularitas Coachella Valley Music and Arts Festival.
Meski demikian, penyelenggaraan perdana pada 2027 belum sepenuhnya mengusung konsep festival musik terbuka seperti Coachella. Format awalnya merupakan kombinasi konser, ajang penghargaan, dan pameran industri K-pop.
Fanomenon akan dibuka dengan acara spesial pada 2 Desember 2027.Konser akan berlangsung dalam dua akhir pekan, yakni 3–5 Desember dan 10–12 Desember. Sementara itu, upacara penghargaan akan digelar selama empat hari dan berlangsung bersamaan dengan rangkaian konser. Tiket konser maupun penghargaan akan dijual secara terpisah.
Selain di Seoul Arena, konser tambahan juga akan digelar di Kintex, Ilsan, Provinsi Gyeonggi.
Selama 10 hari penyelenggaraan, pengunjung juga dapat menikmati pameran yang menghadirkan berbagai perusahaan dari industri pendukung K-pop, mulai dari teknologi, hiburan, merchandise, hingga sektor kreatif lainnya.
Hal paling mencolok adalah kerja sama yang belum pernah terjadi sebelumnya antara HYBE, JYP Entertainment, SM Entertainment, dan YG Entertainment.Keempat perusahaan tersebut bahkan membentuk perusahaan patungan (joint venture) khusus untuk menjalankan proyek ini.
"Empat agensi besar telah membentuk usaha bersama dan bekerja sebagai satu tim. Dengan dukungan pemerintah serta tujuan yang sama untuk kepentingan industri, proyek ini memperoleh momentum yang sangat kuat," kata Park.
Ia juga menegaskan bahwa Fanomenon tidak hanya menjadi panggung bagi artis dari empat agensi besar. Musisi dari agensi yang lebih kecil juga akan mendapatkan kesempatan tampil agar industri K-pop dapat berkembang secara lebih merata.
Salah satu konsep paling unik dari Fanomenon adalah sistem penghargaannya. Berbeda dengan ajang musik pada umumnya yang memberikan penghargaan kepada penyanyi, Fanomenon justru akan memberikan penghargaan kepada fandom atau komunitas penggemar.
Saat ini panitia sedang menyusun sistem penilaian berbasis data untuk memilih 10 fandom paling loyal. Dari sepuluh pemenang tersebut, satu fandom terbaik akan dinobatkan sebagai "Fandemonium", sebuah nama yang bahkan telah dipatenkan oleh penyelenggara.
Meski daftar artis yang akan tampil belum diumumkan, panitia menyebut respons dari musisi Korea maupun internasional terhadap undangan acara ini sangat positif.
Panitia memperkirakan Fanomenon akan menarik sekitar 520.000 pengunjung, termasuk 200.000 wisatawan mancanegara. Acara tersebut diproyeksikan menghasilkan dampak ekonomi hingga 1 triliun won.
Perhitungan itu mengacu pada keberhasilan konser comeback BTS di kawasan Gwanghwamun pada 21 Maret lalu yang berhasil menarik sekitar 104.000 pengunjung dan memberikan dampak ekonomi yang signifikan.
(wur)
Lihat Juga :