Cerita Mahasiswa-mahasiswa Indonesia Hadapi Pandemi di Luar Negeri
Selasa, 05 Mei 2020 - 16:00 WIB
loading...
A
A
A

Jerman pascapelonggaran pembatasan. Foto: Telegraph
Sementara untuk kampus masih ditutup dan kegiatan perkuliahan dilakukan dari tempat tinggal masing-masing melalui daring hingga akhir semester. Perkuliahan dan ujian pun dilakukan lewat video conference atau platform belajar daring yang dimiliki kampus.
Bedanya dengan di Indonesia, mahasiswa diberikan pilihan untuk cuti kuliah kalau kondisi mereka gak memungkinkan untuk mengikuti perkuliahan secara daring, tanpa konsekuensi.
Selain itu, kampus-kampus di Jerman juga memperhatikan betul mahasiswanya. Adrio bercerita, kampusnya mengirimkan email berisi perkembangan pandemi di Jerman dan status belajar mengajar di kampus secara rutin. Bahkan, dekan di kampus Adrio sampai bikin playlist di YouTube dan mengirimkannya ke seluruh mahasiswa untuk menyemangati mereka.
"Mahasiswa yang kesulitan ekonomi juga diberikan bantuan dana. Pemerintah Jerman sekarang juga sedang menyiapkan dana untuk memberikan laptop kepada mahasiswa yang gak punya laptop untuk mendukung sistem pembelajaran daring," jelas Adrio.
KOREA SELATAN: BOLEH KE MANA-MANA DAN ADA RAPID TEST DI MANA-MANA
Pemerintah Korea Selatan lebih longgar dalam pembuatan aturan pembatasan berkegiatan. Nabilla Rizky, mahasiswa Institut Pertanian Bogor yang lagi menjalani program pertukaran pelajar di Jeonbuk National University mengatakan bahwa pemerintah di sana memperbolehkan warganya untuk berkegiatan, dengan beberapa aturan.
Di antaranya wajib memakai masker ke mana pun, menjaga jarak sejauh dua meter, gak boleh berkerumun lebih dari 10 orang, menutup beberapa tempat wisata dan kampus, serta peniadaan kegiatan festival dan konser musik.

Rapid test secara drive thru di Korea Selatan. Foto: The Korea Herald
Meski dibuat longgar, tapi pemerintah Korea Selatan juga menyediakan berbagai fasilitas yang bisa membantu warganya tetap terdeteksi kesehatannya, di antaranya dengan penyediaan rapid test, baik di rumah sakit maupun secara drive-thru, penyediaan hand sanitizer di berbagai tempat, dan pembaruan informasi pasien positif COVID-19 beserta keterangan tempat yang udah dikunjunginya melalui notifikasi telepon genggam.
Pemerintah di sana juga sangat tegas mengambil tindakan kalau ada pelanggaran aturan. Walau begitu, pemerintah tetap melakukan penutupan terhadap kampus dan segala fasilitasnya.
Lihat Juga :