Pengaruh COVID-19 pada Psikologi dan Kesehatan Jiwa di Masyarakat
Rabu, 14 Oktober 2020 - 16:06 WIB
loading...
A
A
A
Dr. Diah mengatakan, selama Oktober 2020, jumlah pengisian swaperiksa masyarakat di web PDSKJI berjumlah 5.661 buah, berasal dari 31 provinsi dengan temuan 32% mengalami masalah psikologis dan 68% tidak ada masalah psikologis.
"Dari 2606 swaperiksa, sebanyak 67,4% yang mengisi swaperiksa mengalami gejala cemas. Gejala Kecemasan terbanyak ditemukan pada kelompok usia kurang 30 tahun dengan uraian sebanyak 75,9% terjadi pada kategori usia kurang 20 tahun, 71,5% pada usia 20-29 tahun, 58,8% pada usia 30-39 tahun, 48,7% pada usia 40-49 tahun, 42% usia 50-59 tahun, dan 47,1% usia lebih 60 tahun," beber Dr. Diah.
Dari 2.294 swaperiksa, sebanyak 67,3% yang mengisi swaperiksa mengalami gejala depresi, di mana 48% dari responden berpikir lebih baik mati atau ingin melukai diri dengan cara apapun. Pikiran kematian terbanyak pada rentang usia 18-29 tahun. Temuan lain yakni sebanyak 761 swaperiksa, terdapat 74,2% yang mengisi swaperiksa mengalami gejala trauma psikologis.
Adapun gejala trauma psikologis terbanyak ditemukan pada kelompok usia kurang 30 tahun. Keluhan tersering berupa perasaan waspada terus-menerus dan merasa sendirian atau terisolasi dengan jumlah 90,6% terjadi pada kategori usia kurang 20 tahun, 73,4% pada usia 20-29 tahun, 76,5% pada usia 30-39 tahun, 55% pada usia 40-49 tahun, dan 38,9% pada usia lebih 50 tahun.
"Dengan 110 swaperiksa, 68% yang mengisi swaperiksa bunuh diri memiliki pemikiran tentang bunuh diri dan 5% di antaranya memiliki rencana matang dan telah mengambil tindakan dari hasil swaperiksa yang mengatakan memiliki pemikiran bunuh diri. Sementara 66% belum pernah mendapatkan pengobatan," jelas Dr. Diah.
"Dari 2606 swaperiksa, sebanyak 67,4% yang mengisi swaperiksa mengalami gejala cemas. Gejala Kecemasan terbanyak ditemukan pada kelompok usia kurang 30 tahun dengan uraian sebanyak 75,9% terjadi pada kategori usia kurang 20 tahun, 71,5% pada usia 20-29 tahun, 58,8% pada usia 30-39 tahun, 48,7% pada usia 40-49 tahun, 42% usia 50-59 tahun, dan 47,1% usia lebih 60 tahun," beber Dr. Diah.
Dari 2.294 swaperiksa, sebanyak 67,3% yang mengisi swaperiksa mengalami gejala depresi, di mana 48% dari responden berpikir lebih baik mati atau ingin melukai diri dengan cara apapun. Pikiran kematian terbanyak pada rentang usia 18-29 tahun. Temuan lain yakni sebanyak 761 swaperiksa, terdapat 74,2% yang mengisi swaperiksa mengalami gejala trauma psikologis.
Adapun gejala trauma psikologis terbanyak ditemukan pada kelompok usia kurang 30 tahun. Keluhan tersering berupa perasaan waspada terus-menerus dan merasa sendirian atau terisolasi dengan jumlah 90,6% terjadi pada kategori usia kurang 20 tahun, 73,4% pada usia 20-29 tahun, 76,5% pada usia 30-39 tahun, 55% pada usia 40-49 tahun, dan 38,9% pada usia lebih 50 tahun.
"Dengan 110 swaperiksa, 68% yang mengisi swaperiksa bunuh diri memiliki pemikiran tentang bunuh diri dan 5% di antaranya memiliki rencana matang dan telah mengambil tindakan dari hasil swaperiksa yang mengatakan memiliki pemikiran bunuh diri. Sementara 66% belum pernah mendapatkan pengobatan," jelas Dr. Diah.
Lihat Juga :