Kiat-kiat Liburan Sehat Ala New Normal
Sabtu, 17 Oktober 2020 - 07:45 WIB
loading...
A
A
A
Raymond menuturkan, dalam masa pandemi seperti ini ada beberapa contoh liburan yang mulai dilakukan masyarakat seperti memilih untuk staycation dan roadtrip atau wisata jarak dekat. Bahkan, di 2021 nanti, yakni Januari hingga Maret, masyarakat belum terlalu berani bepergian jauh. Wisata jarak dekat, alam terbuka dan kuliner mungkin jadi pilihan terbaik.
“Sebelum vaksin ditemukan, saya yakin masih belum 100% merasa aman (berlibur). April hingga Juni baru mulai berani sedikit, melakukan domestik tour yang agak jauh. Untuk wisata yang aman untuk sementara disarankan pakai mobil atau wisata jarak dekat,” papar Raymond. (Baca juga: Kemendikbud akan Kembangkan SMK untuk Membangun Desa)
Selanjutnya di bulan Juli hingga September akan mulai regional tour dan internasional, karena penerbangan akan banyak dibuka. Sementara Oktober hingga Desember, diprediksi akan normal kembali ketika protokol kesehatan diperlonggar dan semua destinasi dibuka.
“Yang dilakukan setelah pandemi diperlonggar, domestik tur harus jadi prioritas, tidak hanya di Indonesia, banyak negara juga semua melakukan domestik tur. Kita harus bersyukur di Indonesia destinasi begitu banyak dan luas,” terang Raymond.
Ia pun menambahkan, bahwa ke depannya pebisnis pariwisata sangat penting memiliki sertifikat CHSE yaitu clear, health, safety and environnment, di mana sertifikasi ini adalah standar dunia untuk pariwisata. Ia menuturkan yang harus memiliki sertifikat ini diantaranya hotel, restoran, pondok wisata, homestay, destinasi alam dan semua yang berhubungan dengan sektor pariwisata. (Baca juga: Perkuat Imunitas agar Tetap Sehat Selama Pandemi)
“CHSE adalah sertifikasi kebersihan kesehatan keselamatan dan kelestarian lingkungan. Jika kita mau wisata, adanya label ini tentu sangat penting. Bagi pelaku usaha yang punya sertifikat ini berarti mereka sudah diaudit oleh Kemenparekraf yang menyatakan sudah memenuhi standar kesehatan,” imbuh Raymond.
“Sebelum vaksin ditemukan, saya yakin masih belum 100% merasa aman (berlibur). April hingga Juni baru mulai berani sedikit, melakukan domestik tour yang agak jauh. Untuk wisata yang aman untuk sementara disarankan pakai mobil atau wisata jarak dekat,” papar Raymond. (Baca juga: Kemendikbud akan Kembangkan SMK untuk Membangun Desa)
Selanjutnya di bulan Juli hingga September akan mulai regional tour dan internasional, karena penerbangan akan banyak dibuka. Sementara Oktober hingga Desember, diprediksi akan normal kembali ketika protokol kesehatan diperlonggar dan semua destinasi dibuka.
“Yang dilakukan setelah pandemi diperlonggar, domestik tur harus jadi prioritas, tidak hanya di Indonesia, banyak negara juga semua melakukan domestik tur. Kita harus bersyukur di Indonesia destinasi begitu banyak dan luas,” terang Raymond.
Ia pun menambahkan, bahwa ke depannya pebisnis pariwisata sangat penting memiliki sertifikat CHSE yaitu clear, health, safety and environnment, di mana sertifikasi ini adalah standar dunia untuk pariwisata. Ia menuturkan yang harus memiliki sertifikat ini diantaranya hotel, restoran, pondok wisata, homestay, destinasi alam dan semua yang berhubungan dengan sektor pariwisata. (Baca juga: Perkuat Imunitas agar Tetap Sehat Selama Pandemi)
“CHSE adalah sertifikasi kebersihan kesehatan keselamatan dan kelestarian lingkungan. Jika kita mau wisata, adanya label ini tentu sangat penting. Bagi pelaku usaha yang punya sertifikat ini berarti mereka sudah diaudit oleh Kemenparekraf yang menyatakan sudah memenuhi standar kesehatan,” imbuh Raymond.
Lihat Juga :