Matinya Kepakaran dan Munculnya Para Ahli Dadakan
Kamis, 07 Mei 2020 - 21:00 WIB
loading...
A
A
A
Akibatnya, gak sedikit informasi yang tersebar, tapi substansinya gak terjamin benar. Bisa jadi dangkal, kurang tepat konteksnya, atau kurang menyeluruh penyampaiannya.
Efek Dunning-Kruger ini diamplifikasi dengan kecenderungan manusia untuk melakukan bias konfirmasi. Pada era banjir informasi, mayoritas orang bakal memilih untuk lebih peduli dan percaya pada informasi yang mereka sukai aja atau sesuai dengan yang mereka pikirkan dan yakini, tanpa peduli bukti-bukti empiris yang ada.
Orang-orang ini kemudian berbondong-bondong menyampaikan persetujuannya dan melipatgandakan pengaruh dari orang-orang yang terjangkit efek Dunning-Kruger.
Hal tersebut bikin orang-orang dengan efek Dunning-Kruger, dengan segala pemikiran dan pendapatnya yang belum terjamin substansinya, menjadi terkenal dan menjelma menjadi seorang pakar dadakan.
![Matinya Kepakaran dan Munculnya Para Ahli Dadakan]()
Foto: JamesClear.com
Para pakar dadakan ini muncul dengan pengaruh yang besar, misalnya kalau di media sosialnya banyak follower-nya, yang akhirnya bikin mereka perlahan-lahan menggeser para pakar sungguhan yang telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk mempelajari pengetahuan dan melakukan penelitian.
Nah, di sinilah pendidikan seharusnya bisa berperan untuk meminimalisir fenomena tersebut. Caranya dengan memberi gambaran akan luasnya ilmu pengetahuan yang bisa terus dikembangkan, dan memberi pemahaman bahwa setiap informasi harus disikapi dengan kritis.
Sayangnya, boro-boro membentuk seorang pembelajar yang kritis dan punya semangat untuk terus belajar seumur hidupnya, menurut Tom Nichols, pendidikan saat ini malah menghasilkan orang-orang yang merasa pintar dan percaya diri meski cuma modal gelar aja.
![Matinya Kepakaran dan Munculnya Para Ahli Dadakan]()
Foto: worldbank.org
Selain pendidikan, pers juga seharusnya bisa berperan dalam menyikapi fenomena tersebut. Media massa mestinya bisa jadi jembatan antara ketidaktahuan dengan pengetahuan lewat penyampaian informasi tepercaya yang disampaikannya.
Efek Dunning-Kruger ini diamplifikasi dengan kecenderungan manusia untuk melakukan bias konfirmasi. Pada era banjir informasi, mayoritas orang bakal memilih untuk lebih peduli dan percaya pada informasi yang mereka sukai aja atau sesuai dengan yang mereka pikirkan dan yakini, tanpa peduli bukti-bukti empiris yang ada.
Orang-orang ini kemudian berbondong-bondong menyampaikan persetujuannya dan melipatgandakan pengaruh dari orang-orang yang terjangkit efek Dunning-Kruger.
Hal tersebut bikin orang-orang dengan efek Dunning-Kruger, dengan segala pemikiran dan pendapatnya yang belum terjamin substansinya, menjadi terkenal dan menjelma menjadi seorang pakar dadakan.

Foto: JamesClear.com
Para pakar dadakan ini muncul dengan pengaruh yang besar, misalnya kalau di media sosialnya banyak follower-nya, yang akhirnya bikin mereka perlahan-lahan menggeser para pakar sungguhan yang telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk mempelajari pengetahuan dan melakukan penelitian.
Nah, di sinilah pendidikan seharusnya bisa berperan untuk meminimalisir fenomena tersebut. Caranya dengan memberi gambaran akan luasnya ilmu pengetahuan yang bisa terus dikembangkan, dan memberi pemahaman bahwa setiap informasi harus disikapi dengan kritis.
Sayangnya, boro-boro membentuk seorang pembelajar yang kritis dan punya semangat untuk terus belajar seumur hidupnya, menurut Tom Nichols, pendidikan saat ini malah menghasilkan orang-orang yang merasa pintar dan percaya diri meski cuma modal gelar aja.

Foto: worldbank.org
Selain pendidikan, pers juga seharusnya bisa berperan dalam menyikapi fenomena tersebut. Media massa mestinya bisa jadi jembatan antara ketidaktahuan dengan pengetahuan lewat penyampaian informasi tepercaya yang disampaikannya.
Lihat Juga :