Kembangkan Potensi, Insan Kreatif Sambut Antusias Gelaran IILS 2020
Jum'at, 30 Oktober 2020 - 12:12 WIB
loading...
IILS 2020 yang digelar secara virtual membuka kesempatan bagi siapa saja untuk ikut hadir secara virtual. / Foto: ist
A
A
A
JAKARTA - Indonesia bukan hanya negara terbesar di Asia Tenggara dan mempunyai alam yang indah, namun juga merupakan negara yang tingkat kreativitasnya sangat tinggi. Tak sedikit anak muda Indonesia yang bekerja untuk rumah produksi tingkat dunia. Setiap harinya pun kita kerap disuguhi konten-konten kreatif karya anak bangsa. Ide kreatif yang berlimpah ini merupakan sumber daya yang tanpa batas dan memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi.
(Baca juga: Libur Panjang di Rumah Saja? Jangan Khawatir, Lakukan 10 Cara Asyik Berikut Ini )
Melihat potensi yang besar ini, Amara Pameran Internasional berkolaborasi dengan Danumaya Dipa, dan didukung penuh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar perhelatan industri kekayaan intelektual pertama dan terbesar di Asia Tenggara yang diberi tajuk Indonesia International Licensing Show 2020. Acara yang digelar secara daring pada 20-22 Oktober 2020 ini mendapat animo yang sangat tinggi baik dari insan kreatif maupun pelaku bisnis kekayaan intelektual. Tak kurang dari 1.700 peserta menghadiri webinar dengan antusias.
Webinar IILS 2020 menghadirkan para pembicara yang berkompeten di industri lisensi kekayaan intelektual, salah satunya General Manager Warner Bros Consumer Products, Vikram Sharma, yang memaparkan perencanaan mereka ke depannya dan IP apa saja yang mereka tangani. Sesi seperti ini sangat ditunggu para peserta, sebab bisa memberi informasi dan inspirasi bagi para kreator IP khususnya, dalam mengembangkan karya mereka.
Staf Ahli Bidang Inovasi dan Kreativitas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif , Joshua Simandjuntak dalam sesinya menuturkan bahwa IP adalah kunci dalam menggerakkan roda ekonomi kreatif. Dia juga memberikan contoh Kumamon yang dari sebuah maskot bisa memberikan andil yang sangat besar dalam pemasukan daerah Kumamoto, Jepang.
"Sejak kemunculannya di tahun 2011, nilai penjualan Kumamon sudah mencapai USD25 juta. Dan di tahun 2015, angka penjualan Kumamon meroket hingga US$ 1 Miliar," ujar Joshua.
"Jika dilihat secara global, industri lisensi pada 2019 sebesar USD292,8 miliar. Ini setara dengan Rp4.279 triliun atau 2 kali APBN Indonesia. Contoh lain bisa dilihat dari maskot ASEAN Games 2018, yang mana trio Bhin-Bhin, Eka, dan Atung menyumbangkan pendapatan sebesar Rp56 Miliar dalam waktu yang singkat. Ini membuktikan bahwa dengan penggarapan dan pengelolaan yang tepat, IP-IP karya anak bangsa berpotensi untuk maju ke kancah dunia," tutur Joshua.
(Baca juga: Libur Panjang di Rumah Saja? Jangan Khawatir, Lakukan 10 Cara Asyik Berikut Ini )
Melihat potensi yang besar ini, Amara Pameran Internasional berkolaborasi dengan Danumaya Dipa, dan didukung penuh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar perhelatan industri kekayaan intelektual pertama dan terbesar di Asia Tenggara yang diberi tajuk Indonesia International Licensing Show 2020. Acara yang digelar secara daring pada 20-22 Oktober 2020 ini mendapat animo yang sangat tinggi baik dari insan kreatif maupun pelaku bisnis kekayaan intelektual. Tak kurang dari 1.700 peserta menghadiri webinar dengan antusias.
Webinar IILS 2020 menghadirkan para pembicara yang berkompeten di industri lisensi kekayaan intelektual, salah satunya General Manager Warner Bros Consumer Products, Vikram Sharma, yang memaparkan perencanaan mereka ke depannya dan IP apa saja yang mereka tangani. Sesi seperti ini sangat ditunggu para peserta, sebab bisa memberi informasi dan inspirasi bagi para kreator IP khususnya, dalam mengembangkan karya mereka.
Staf Ahli Bidang Inovasi dan Kreativitas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif , Joshua Simandjuntak dalam sesinya menuturkan bahwa IP adalah kunci dalam menggerakkan roda ekonomi kreatif. Dia juga memberikan contoh Kumamon yang dari sebuah maskot bisa memberikan andil yang sangat besar dalam pemasukan daerah Kumamoto, Jepang.
"Sejak kemunculannya di tahun 2011, nilai penjualan Kumamon sudah mencapai USD25 juta. Dan di tahun 2015, angka penjualan Kumamon meroket hingga US$ 1 Miliar," ujar Joshua.
"Jika dilihat secara global, industri lisensi pada 2019 sebesar USD292,8 miliar. Ini setara dengan Rp4.279 triliun atau 2 kali APBN Indonesia. Contoh lain bisa dilihat dari maskot ASEAN Games 2018, yang mana trio Bhin-Bhin, Eka, dan Atung menyumbangkan pendapatan sebesar Rp56 Miliar dalam waktu yang singkat. Ini membuktikan bahwa dengan penggarapan dan pengelolaan yang tepat, IP-IP karya anak bangsa berpotensi untuk maju ke kancah dunia," tutur Joshua.
Lihat Juga :