Benarkah Penyitas Covid-19 Tak Akan Terinfeksi Lagi?
Selasa, 03 November 2020 - 14:15 WIB
loading...
A
A
A
Dalam penelitian lain yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine, peneliti di Islandia meneliti 1.070 penyintas Covid-19 dan memeriksa antibodi yang dimiliki responden. Setelah empat bulan berselang, mereka menemukan antibodi antivirus tersebut yang melawan Covid-19 masih ada dan tidak menurun.
Akan tetapi, Dr. Steven Sperber kepala divisi penyakit infeksi dari Hackensack University Medical Center menegaskan bahwa masih banyak yang peneliti tidak tahu dari SARS-CoV-2 karena virus ini masih baru. Ada beberapa pertanyaan yang masih perlu dijawab seperti apakah kita akan terlindung setelah terinfeksi dan berapa lama?, apakah faktor usia berpengaruh terhadap imunitas?, apa cara terbaik untuk mengukur imunitas, apakah dengan mengukur antibodi?, apakah ada tipe spesifik antibodi yang bisa diukur?,dan berapa lama proteksi setelah divaksin?.
Speber menyarankan, sampai kita tahu jawabannya sebaiknya tetap berhati-hati walau sudah terinfeksi sekalipun dengan patuh terhadap protokol kesehatan. Ia melanjutkan, sampai saat ini tidak diketahui apakah jika memiliki antibodi positid itu berarti kebal terhadap virus. Kehadiran antibodi hanya menandakan bahwa inividu bersangkutan sudah pernah terinfeksi. (Lihat videonya: Gubernur DKI Umumkan kenaikan UMP 2021 di Tengah Pandemi)
Sperber juga mengatakan, beberapa infeksi membuat tubuh memproduksi antibodi yang bisa melawan reinfeksi. Bagi orang lain bisa saja tidak terjadi reinfeksi tapi keluhan lebih ringan.
Bahkan dalam kasus lain, antibodi tidak melindungi sama sekali. Sebagai tambahan, beberapa hasil tes menunjukkan positif palsu. Yakni seseorang mungkin terkena virus yang sama yang terdeteksi oleh alat tes. Namun antibodi yang terbentuk tentunya tidak melindungi dari virus corona. (Sri Noviarni)
Akan tetapi, Dr. Steven Sperber kepala divisi penyakit infeksi dari Hackensack University Medical Center menegaskan bahwa masih banyak yang peneliti tidak tahu dari SARS-CoV-2 karena virus ini masih baru. Ada beberapa pertanyaan yang masih perlu dijawab seperti apakah kita akan terlindung setelah terinfeksi dan berapa lama?, apakah faktor usia berpengaruh terhadap imunitas?, apa cara terbaik untuk mengukur imunitas, apakah dengan mengukur antibodi?, apakah ada tipe spesifik antibodi yang bisa diukur?,dan berapa lama proteksi setelah divaksin?.
Speber menyarankan, sampai kita tahu jawabannya sebaiknya tetap berhati-hati walau sudah terinfeksi sekalipun dengan patuh terhadap protokol kesehatan. Ia melanjutkan, sampai saat ini tidak diketahui apakah jika memiliki antibodi positid itu berarti kebal terhadap virus. Kehadiran antibodi hanya menandakan bahwa inividu bersangkutan sudah pernah terinfeksi. (Lihat videonya: Gubernur DKI Umumkan kenaikan UMP 2021 di Tengah Pandemi)
Sperber juga mengatakan, beberapa infeksi membuat tubuh memproduksi antibodi yang bisa melawan reinfeksi. Bagi orang lain bisa saja tidak terjadi reinfeksi tapi keluhan lebih ringan.
Bahkan dalam kasus lain, antibodi tidak melindungi sama sekali. Sebagai tambahan, beberapa hasil tes menunjukkan positif palsu. Yakni seseorang mungkin terkena virus yang sama yang terdeteksi oleh alat tes. Namun antibodi yang terbentuk tentunya tidak melindungi dari virus corona. (Sri Noviarni)
(ysw)
Lihat Juga :