Cerita 20 Hari Perjuangan SA, Mahasiswi yang Sembuh dari COVID-19
Senin, 11 Mei 2020 - 12:07 WIB
loading...
A
A
A
Saat itu SA penasaran, lalu menelusuri penyebabnya di internet dan menemukan artikel yang menjelaskan bahwa indra penciuman tidak berfungsi merupakan salah satu gejala COVID-19.
“Penciuman gue ilang, gue nyium sabun, hampir gue gosok ke hidung dan gak ada baunya. Pas itu gue antara panik dan gak, kepo lah gue dan cari di Google,” ungkap SA saat diwawancara via telepon, pekan lalu.
Akhirnya, SA melakukan tes swab lewat petugas medis yang datang ke rumahnya. Seminggu kemudian hasil tes menyatakan bahwa SA positif COVID-19. Oleh karenanya, SA segera dibawa ke rumah sakit rujukan pada 18 April untuk menjalani isolasi.
Bukan cuma melawan sakit, selama dirawat di rumah sakit SA mengaku juga berjuang melawan pikiran-pikiran negatif yang membuatnya jadi tidak bersemangat dan lemah. Padahal, gejala yang dialaminya cuma gejala ringan. SA mencoba ikhlas dan sabar mengikuti prosedur perawatan.
“Di sini (RS) kami diperlakukan baik. Pasien harus nurut ke dokter dan perawat. Menurut gue kami di sini juga harus saling ngerti karena mereka (tenaga medis) kalo masuk harus pake APD dan jumlah APD terbatas, mereka juga pasti punya perhitungan untuk masuk dan keluar ruangan,” kenang SA.
SA juga bercerita bahwa antara pasien dan tenaga medis di sana saling menyemangati. Banyak perawat yang lelah dan bersandar untuk beristirahat. Bahkan, SA pernah melihat ada perawat yang menuliskan bahwa ia rindu keluarga di seragam APD-nya.
![Cerita 20 Hari Perjuangan SA, Mahasiswi yang Sembuh dari COVID-19]()
Foto: Dok. SA
“Penciuman gue ilang, gue nyium sabun, hampir gue gosok ke hidung dan gak ada baunya. Pas itu gue antara panik dan gak, kepo lah gue dan cari di Google,” ungkap SA saat diwawancara via telepon, pekan lalu.
Akhirnya, SA melakukan tes swab lewat petugas medis yang datang ke rumahnya. Seminggu kemudian hasil tes menyatakan bahwa SA positif COVID-19. Oleh karenanya, SA segera dibawa ke rumah sakit rujukan pada 18 April untuk menjalani isolasi.
Bukan cuma melawan sakit, selama dirawat di rumah sakit SA mengaku juga berjuang melawan pikiran-pikiran negatif yang membuatnya jadi tidak bersemangat dan lemah. Padahal, gejala yang dialaminya cuma gejala ringan. SA mencoba ikhlas dan sabar mengikuti prosedur perawatan.
“Di sini (RS) kami diperlakukan baik. Pasien harus nurut ke dokter dan perawat. Menurut gue kami di sini juga harus saling ngerti karena mereka (tenaga medis) kalo masuk harus pake APD dan jumlah APD terbatas, mereka juga pasti punya perhitungan untuk masuk dan keluar ruangan,” kenang SA.
SA juga bercerita bahwa antara pasien dan tenaga medis di sana saling menyemangati. Banyak perawat yang lelah dan bersandar untuk beristirahat. Bahkan, SA pernah melihat ada perawat yang menuliskan bahwa ia rindu keluarga di seragam APD-nya.

Foto: Dok. SA
Lihat Juga :