Dibuat China, Efektifkah Vaksin Sinovac? Ini Penjelasannya!

Rabu, 09 Desember 2020 - 10:45 WIB
loading...
Dibuat China, Efektifkah...
Vaksin Sinovac buatan China ini tinggal menunggu satu fase pengujian lagi. Foto/bbc.com
A A A
JAKARTA - Harapan masyarakat untuk segera keluar dari pandemi COVID-19 mulai nyata di depan mata. Vaksin yang digadang-gadang bisa meningkatkan imunitas terhadap virus korona telah tiba. Ya vaksin besutan Sinovac Biotech Ltd ini bakal menjadi vaksin penangkal COVID-19 yang pertama di Indonesia. Di antara besarnya harapan masyrakat akan vaksin tersebut, sebagian masih bertanya-tanya bagaimana efektivitas vaksin ini?.

Vaksin yang diberi nama CoronaVac tentu saja ini tak asal dibuat begitu saja.Vaksin asal China ini dibuat dengan metode inactivated. Artinya virus ini dibuat dari versi tidak aktif dari virus korona. Meskipun ini adalah teknlogi lama, namun metode ini telah terbukti efektif dan pembuatannya juga mudah.

Baca juga : Biden Janjikan 100 Juta Vaksinasi Covid-19 dalam 100 Hari Pertama

Pengujian menjadi salah satu syarat utama pembuatan vaksin, begitu juga dengan CoronaVac yang telah melalui dua tahap ujian. Pada uji klinis tahap pertama dan kedua, vaksin ini mampu menghasilkan respon kekebalan tubuh yang cepat terhadap virus korona.

Hasil uji tersebut dijelaskan dalam jurnal medis The Lancet Infectious Diseases. Dalam jurnal tersebut dijelasan bahwa uji klinis tahap pertama dan kedua telah dilakukan di China dengan melibatkan lebih dari 700 peserta.

Salah satu peneliti, Zhu Fengcai mengatakan bahwa CoronaVac dapat memicu respons antibodi yang cepat. Antibodi terhadap COVID-19 akan muncul dalam waktu empat minggu setelah dua dosis vaksin yang diberikan dalam interval 14 hari. Zu Fengcai juga menambahkan bahwa belum ada kasus membahayakan yang muncul setelah vaksin ini disuntikkan. Kesimpula itu diperoleh berdasarkan hasil uji kepada 144 relawan di fase pertama dan 600 relawan di fase kedua.

Baca juga : Tahap Pertama, Vaksin Diprioritaskan untuk Tenaga Kesehatan di 7 Provinsi

Nah untuk tahap ketiga, uji klinis sudah dilakukan sejak Agustus lalu. Uji klinis saat ini masih dilaksanakan oleh PT Biofarma dan Sinovac Biotech yang menggandeng Tim Peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Lebih dari 1.600 relawan terlibat dalam uji klinis ini. Mereka telah disuntik dengan vaksin Sinovac. Saat ini BPOM tengah menunggu hasil uji tersebut.

Bila tahap ketiga ini hasilnya baik, maka vaksin ini bisa segera digunakan. Sesuai anjuran WHO, vaksin ini aman digunakan bila minimal ada data hasil uji klinis fase 1 dan fase 2, ditambah analisis sebagian (interim) fase 3, yang saat ini masih berlangsung di lima negara untuk mengeluarkan ijin penggunaan darurat (EUA).

Baca juga : Surabaya Butuh Dua Juta Vaksin COVID-19, Risma: Beli Pakai Dana CSR

Ada tiga unsur penting yang menjadi dasar pemilihan vaksin ini. Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir mengatakan bahwa vaksin harus memenuhi unsur keamanan, harus cepat, dan memenuhi aspek mandiri. Vaksin juga harus memenuhi unsur keamanan, berkhasiat , dan mutu. Unsur-unsur itu harus dibuktikan melalui serangkaian uji klinis yang dilakukan oleh lembaga yang berwenang.

“Dan dari 10 kandidat, vaksin Sinovac inilah yang paling cepat masuk uji klinis tahap tiga. Sementara dari sisi metode pembuatan vaksin, ini menggunakan metode virus yang dimatikan yang sudah terbukti pada jenis-jenis vaksin lainnya dan cara ini sudah dikuasai oleh Bio Farma," kata Honesti Basyir dalam jumpa pers yang disiarkan secara online melalui akun Youtube Kementerian Komunikasi dan Informatika, Selasa (08/12).
(wur)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Vaksin Flu saat Hamil,...
Vaksin Flu saat Hamil, Amankah? Ini Fakta Medis yang Perlu Diketahui
Kemenkes Tegaskan Vaksin...
Kemenkes Tegaskan Vaksin MR Aman, Stok Jutaan Dosis Disiapkan Hadapi Lonjakan Campak
Kasus Dengue Melonjak,...
Kasus Dengue Melonjak, Kalimantan Utara Mulai Program Vaksin DBD
Tak Perlu Panik, Ini...
Tak Perlu Panik, Ini Efek Samping Vaksin Flu yang Perlu Diketahui
WHO Bantah Rumor soal...
WHO Bantah Rumor soal Vaksin Akibatkan Autisme
Perlukah Indonesia Vaksin...
Perlukah Indonesia Vaksin TBC? Ini Penjelasan Siti Fadilah Supari dan Guru Besar FKUI
Untuk Pertama Kalinya...
Untuk Pertama Kalinya dalam Sejarah, Vaksin Buatan AI Diuji pada Manusia
Habis Covid-19, Muncul...
Habis Covid-19, Muncul Hantavirus: Ini Daftar 5 Perusahaan Vaksin yang Untung Besar-besaran
Krisis Kepercayaan Vaksin...
Krisis Kepercayaan Vaksin Anak, DPR: Pemerintah Harus Bergerak Cepat
Rekomendasi
Sidang Tuntutan Dalang...
Sidang Tuntutan Dalang Pembunuhan Kacab Bank Ditunda
Diperiksa Kejagung 9...
Diperiksa Kejagung 9 Jam Lebih, Sony Sonjaya Bungkam
Unair Tembus Peringkat...
Unair Tembus Peringkat 276 Dunia di QS WUR 2027, Raih Posisi Ketiga Nasional
Berita Terkini
Davina Karamoy Dicecar...
Davina Karamoy Dicecar 30 Pertanyaan Terkait Kasus Hanania Travel
Komunikasi Terbuka Jadi...
Komunikasi Terbuka Jadi Kunci Hubungan yang Lebih Sehat
Daya Tarik Menarik Thailand:...
Daya Tarik Menarik Thailand: Eksplorasi Kota Bangkok dan Keindahan Pesisir Pattaya
5 Alasan See You at...
5 Alasan See You at Work Tomorrow Jadi Drakor Romansa Kantor yang Dinantikan
Dituding Bergantung...
Dituding Bergantung pada Lesti Kejora, Rizky Billar Beberkan Rumah Cash dan Aset Miliknya
Kasus Hanania Group,...
Kasus Hanania Group, Awkarin Minta Tunda Pemeriksaan hingga 29 Juni 2026
Infografis
Jakarta Gencar Bersih-bersih...
Jakarta Gencar Bersih-bersih Ikan Sapu-sapu, Ini Alasannya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved