Filosofi Monster dalam Drama dan Film Korea, dari 'Sweet Home' hingga 'Train to Busan'
Selasa, 16 Februari 2021 - 19:20 WIB
loading...
A
A
A
Drama lainnya yang menerapkan konsep serupa adalah "The Uncanny Counter" yang bercerita tentang monster-monster yang siap memangsa jiwa-jiwa yang lemah.
Sementara untuk layar lebar , ada “Train to Busan” (2016). Ini adalah kisah bertahan hidup di ‘kereta zombi’ sepanjang perjalanan menuju Busan. Dengan genre laga, film yang dibintangi Gong Yoo ini memadukan ketegangan, kesedihan, humor, hingga satire. Dalam film ini, kritik terselubung terhadap tindakan pemerintah mengatasi kejadian darurat juga mengemuka, tepat dua tahun setelah tragedi tenggelamnya Sewol Ferry yang menewaskan 250 anak-anak.
Sebagai informasi, jika dilihat dari sejarahnya, sudah jadi ciri khas Korea dalam mengangkat isu-isu dan narasi yang tak terlepas dari sejarah dan politik (pemerintahan) ke dalam sebuah karya film. Konflik politik serta kebijakan pemerintah dan militer adalah dua hal yang cukup sering memengaruhi industri perfilman lokal negara tersebut, mulai dari urusan pengawasan konten hingga penjualan.
Baca Juga: 5 Drama Korea Sageuk Komedi Terbaik pada 2018-2020
Saat ini, tampaknya ada sedikit perubahan terkait penyampaian satire atau kritik dalam film, salah satunya dengan menghadirkan mahkluk-makhluk fiksi, seperti monster dan setan.
Fazjri Abdillah
Kontributor GenSINDO
Politeknik Negeri Jakarta
Instagram: @rana.warta
Sementara untuk layar lebar , ada “Train to Busan” (2016). Ini adalah kisah bertahan hidup di ‘kereta zombi’ sepanjang perjalanan menuju Busan. Dengan genre laga, film yang dibintangi Gong Yoo ini memadukan ketegangan, kesedihan, humor, hingga satire. Dalam film ini, kritik terselubung terhadap tindakan pemerintah mengatasi kejadian darurat juga mengemuka, tepat dua tahun setelah tragedi tenggelamnya Sewol Ferry yang menewaskan 250 anak-anak.
Sebagai informasi, jika dilihat dari sejarahnya, sudah jadi ciri khas Korea dalam mengangkat isu-isu dan narasi yang tak terlepas dari sejarah dan politik (pemerintahan) ke dalam sebuah karya film. Konflik politik serta kebijakan pemerintah dan militer adalah dua hal yang cukup sering memengaruhi industri perfilman lokal negara tersebut, mulai dari urusan pengawasan konten hingga penjualan.
Baca Juga: 5 Drama Korea Sageuk Komedi Terbaik pada 2018-2020
Saat ini, tampaknya ada sedikit perubahan terkait penyampaian satire atau kritik dalam film, salah satunya dengan menghadirkan mahkluk-makhluk fiksi, seperti monster dan setan.
Fazjri Abdillah
Kontributor GenSINDO
Politeknik Negeri Jakarta
Instagram: @rana.warta
(ita)
Lihat Juga :