Penyebab Orang Masih Sering Kemakan dan Menyebar Hoaks
Rabu, 20 Mei 2020 - 20:40 WIB
loading...
A
A
A
Maksud dari pemikiran termotivasi ini adalah gagasan bahwa proses kognitif orang cenderung bias mempercayai hal-hal yang sesuai dengan pandangan dunia mereka.
Misalnya, seseorang memiliki pandangan A, maka orang tersebut akan lebih mudah mempercayai berita-berita yang belum dipastikan kebenarannya, tapi sejalan dengan pandangan A.
Selain itu, sebuah riset yang dilakukan oleh Rand dan rekan-rekan dari behavioral science University of Regina di Canada, menunjukkan bahwa orang-orang yang memercayai berita palsu adalah mereka yang gak berpikir dengan cermat dan teliti.
Dengan kata lain, riset ini menunjukkan kerentanan seseorang dalam memercayai berita palsu lebih berkaitan dengan kemampuan bernalar mereka.
![Penyebab Orang Masih Sering Kemakan dan Menyebar Hoaks]()
Foto: Freepik
Rand dan kawan-kawan menemukan bahwa orang-orang dengan skor yang lebih tinggi pada tes nalar punya kemampuan lebih baik dalam membedakan berita palsu dan berita yang benar.
Walau begitu, seorang ilmuwan kognisi asal Brown University, Steven Sloman, menunjukkan sebuah poin yang menarik dari penelitian Rand dan kawan-kawan. Sloman berkata, ada pengaturan yang berbeda antara studi yang dilakukan Rand dengan kondisi di dunia nyata.
Partisipan dalam studi Rand secara gak langsung berada dalam kondisi pikiran yang lebih kritis karena mereka sadar bahwa mereka sedang ditempatkan dalam pengujian kemampuan membedakan hoaks dengan berita yang benar.
Misalnya, seseorang memiliki pandangan A, maka orang tersebut akan lebih mudah mempercayai berita-berita yang belum dipastikan kebenarannya, tapi sejalan dengan pandangan A.
Selain itu, sebuah riset yang dilakukan oleh Rand dan rekan-rekan dari behavioral science University of Regina di Canada, menunjukkan bahwa orang-orang yang memercayai berita palsu adalah mereka yang gak berpikir dengan cermat dan teliti.
Dengan kata lain, riset ini menunjukkan kerentanan seseorang dalam memercayai berita palsu lebih berkaitan dengan kemampuan bernalar mereka.

Foto: Freepik
Rand dan kawan-kawan menemukan bahwa orang-orang dengan skor yang lebih tinggi pada tes nalar punya kemampuan lebih baik dalam membedakan berita palsu dan berita yang benar.
Walau begitu, seorang ilmuwan kognisi asal Brown University, Steven Sloman, menunjukkan sebuah poin yang menarik dari penelitian Rand dan kawan-kawan. Sloman berkata, ada pengaturan yang berbeda antara studi yang dilakukan Rand dengan kondisi di dunia nyata.
Partisipan dalam studi Rand secara gak langsung berada dalam kondisi pikiran yang lebih kritis karena mereka sadar bahwa mereka sedang ditempatkan dalam pengujian kemampuan membedakan hoaks dengan berita yang benar.
Lihat Juga :