Penyebab Orang Masih Sering Kemakan dan Menyebar Hoaks

Rabu, 20 Mei 2020 - 20:40 WIB
loading...
Penyebab Orang Masih...
Hoaks atau berita palsu banyak tersebar, tapi kita sering tak menyadarinya dan menganggapnya benar. Foto/Freepik
A A A
JAKARTA - Seberapa sering kamu melihat teman atau keluarga kamu menyebar berita palsu alias hoaks? Atau kamu sendiri secara gak sadar pernah ikut menyebarnya?

Menurut penelitian David Rand, seorang ilmuwan kognisi di Massachusetts Institute of Technology (MIT), orang rata-rata cenderung percaya hoaks setidaknya 20 persen dari waktu yang ada.

Penyebab Orang Masih Sering Kemakan dan Menyebar Hoaks

Foto: Shutterstock

Kenapa begitu? Salah satunya ternyata karena banyak orang yang kesulitan membedakan berita palsu dengan berita yang benar.

Kesulitan ini bukan gak berdasar. Sebuah studi oleh Soroush Vosoughi dan rekan-rekan ilmuwan komputer di Darmouth University menunjukkan bahwa hoaks mencapai lebih banyak orang dan menyebar lebih cepat dibanding kebenaran. Jadi, bukan gak mungkin kalo kita lebih sering mendengar hoaks dibanding berita yang benar.

Lantas, apa, sih, sebenarnya penyebab kita masih sering kemakan hoaks?

Melansir dari situs web American Psychological Association, salah satu penjelasan yang paling sering muncul adalah pemikiran termotivasi.

Penyebab Orang Masih Sering Kemakan dan Menyebar Hoaks

Foto: wexnermedical.osu.edu

Maksud dari pemikiran termotivasi ini adalah gagasan bahwa proses kognitif orang cenderung bias mempercayai hal-hal yang sesuai dengan pandangan dunia mereka.

Misalnya, seseorang memiliki pandangan A, maka orang tersebut akan lebih mudah mempercayai berita-berita yang belum dipastikan kebenarannya, tapi sejalan dengan pandangan A.

Selain itu, sebuah riset yang dilakukan oleh Rand dan rekan-rekan dari behavioral science University of Regina di Canada, menunjukkan bahwa orang-orang yang memercayai berita palsu adalah mereka yang gak berpikir dengan cermat dan teliti.

Dengan kata lain, riset ini menunjukkan kerentanan seseorang dalam memercayai berita palsu lebih berkaitan dengan kemampuan bernalar mereka.

Penyebab Orang Masih Sering Kemakan dan Menyebar Hoaks

Foto: Freepik

Rand dan kawan-kawan menemukan bahwa orang-orang dengan skor yang lebih tinggi pada tes nalar punya kemampuan lebih baik dalam membedakan berita palsu dan berita yang benar.

Walau begitu, seorang ilmuwan kognisi asal Brown University, Steven Sloman, menunjukkan sebuah poin yang menarik dari penelitian Rand dan kawan-kawan. Sloman berkata, ada pengaturan yang berbeda antara studi yang dilakukan Rand dengan kondisi di dunia nyata.

Partisipan dalam studi Rand secara gak langsung berada dalam kondisi pikiran yang lebih kritis karena mereka sadar bahwa mereka sedang ditempatkan dalam pengujian kemampuan membedakan hoaks dengan berita yang benar.

Sementara itu, kondisi di dunia nyata jauh berbeda. Sering kali, kita menemui hoaks ketika sedang bersantai sambil scrolling media sosial atau berbincang santai dengan seorang teman.

Penyebab Orang Masih Sering Kemakan dan Menyebar Hoaks

Foto:Sean Gallup/Getty Images

Saat itu, kondisi pikiran kita bukanlah kondisi pikiran seseorang yang siap mengkritisi segala informasi yang masuk ke sistem pikiran.

Jadi, alasan kita masih sering kemakan hoaks cukup beragam. Kita mungkin gak punya banyak kuasa untuk menghentikan orang lain dalam membuat dan menyebarkan hoaks. Tapi, kita punya kuasa atas diri kita sendiri.

Kita bisa belajar untuk lebih kritis membedakan informasi hoaks dan fakta. Kita juga bisa belajar untuk lebih kritis sebelum menekan tombol share di media sosial.

Intinya, kalau kamu mau, penyebaran hoaks bisa berhenti dari kamu. Yuk, mulailah berpikir kritis!

Fauziatun Nabila Sudarko
Kontributor GenSINDO
Universitas Indonesia
Instagram: @fauziatunnabila
(it)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tumbuhkan Asa Jurnalis...
Tumbuhkan Asa Jurnalis Muda di Era Disruspi Digital, IJTI Gelar Konferensi Jurnalis Kampus se-Indonesia
Serangan ke Prabowo...
Serangan ke Prabowo di Medsos Tak Organik, Pengamat Curigai Pola yang Tidak Biasa
Polemik Paskibraka Sulsel,...
Polemik Paskibraka Sulsel, Pengamat Wanti-wanti Tidak Jadi Ajang Politik Praktis
Rekomendasi
Silmy Karim Dicopot...
Silmy Karim Dicopot dari Komisaris Telkom usai Tersangka KPK
Tarif Transjabodetabek...
Tarif Transjabodetabek Blok M-Bandara Soetta Disesuaikan, Pramono: Naik Transportasi Lain di Atas Rp100 Ribu
Perjuangkan Nasib Dokter...
Perjuangkan Nasib Dokter Muda, PDMI Minta Pemerintah Buka Kembali Akses Ujian Kompetensi
Berita Terkini
Dari Iran ke Indonesia,...
Dari Iran ke Indonesia, Pesepeda Arezoo Tampil Memukau Lewat Sentuhan Ade Fitri Kirana
Nonton Gratis hingga...
Nonton Gratis hingga VIP, Ini Beragam Cara Menikmati Microdrama di V+Short
Ruben Onsu Tak Lagi...
Ruben Onsu Tak Lagi Harapkan Permintaan Maaf Sarwendah, Hanya Ingin Bertemu Anak
Liburan Mewah Tanpa...
Liburan Mewah Tanpa Menguras Anggaran: Hotel Bintang 4 dan 5 Mulai Rp300.000
Potret Alyssa Daguise...
Potret Alyssa Daguise dan Baby Soleil Jadi Sorotan, Perhiasan yang Dipakai Tembus Rp1,2 Miliar
Pembuktian Irish Bella...
Pembuktian Irish Bella jadi Produser di Film Horor Dosa, Tayang 11 Juni
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved