Minat Baca Remaja Meningkat, tapi Cerita Romantisasi Perilaku Menyimpang juga Menjamur
Rabu, 21 Juli 2021 - 21:31 WIB
loading...
A
A
A
Cara membuat akun Wattpad pun sangatlah mudah meski pendaftar adalah anak di bawah umur. Tidak ada pula pertanyaan terkait usia ketika mendaftar.
Banyak Cerita Meromantisasi Perilaku Menyimpang (Posesif, Obsesif, Manipulatif, Kekerasan)
Cukup banyak cerita dengan alur yang meromantisasi perilaku menyimpang dari tokohnya, seperti posesif, obsesif, manipulatif dan atau kasar secara fisik. Padahal perilaku semacam itu bisa menyebabkan hubungan menjadi tidak sehat atau kerap disebut toxic relationship.
Misalnya, perilaku manipulatif dapat membuat seseorang tidak sadar sedang dimanfaatkan karena alasan cinta, serta mendapat tekanan fisik ataupun psikis. Dikutip dari hellosehat.com, perilaku posesif yang berlebihan pun dapat mengindikasikan gangguan mental Borderline Personality Disorder (BPD) yang jika dibiarkan bisa berkembang menjadi kasar secara verbal dan fisik. Bahkan, cinta yang berasal dari obsesi sebenarnya adalah bentuk dari masalah psikologis yang dapat membuat seseorang berperilaku kompulsif.
Meski perilaku semacam itu adalah perilaku menyimpang, tapi karena diromantisasi melalui cerita, ada pembaca yang berpikir perilaku penyimpangan itu adalah hal yang romantis . Bahkan karena tingginya peminat cerita jenis itu, terdapat pola yang sama pada cerita dengan karakter tokoh yang memiliki penyimpangan perilaku. Biasanya tokoh cerita tersebut adalah pria kaya dan sosok yang dominan.
Seorang pelajar SMP, Ananda Kurnia, merupakan salah satu anak di bawah umur yang suka membaca cerita dengan karakter berperilaku menyimpang di Wattpad. “Cerita kayak CEO-CEO gitu biasanya karakter cowoknya, tuh, posesif. Kalo menurut aku cerita kayak gitu romantis, tapi tergantung alurnya gimana, sih,” ucapnya.
Tapi meski Ananda suka membaca cerita semacam itu, ia menjelaskan bahwa ia tidak ingin memiliki pasangan dengan perilaku menyimpang. “Aku maunya cowok kayak gitu cuma di khayalan aku aja. Aku cuma suka sama ceritanya karena menurutku itu romantis,” katanya.
![Minat Baca Remaja Meningkat, tapi Cerita Romantisasi Perilaku Menyimpang juga Menjamur]()
Foto: Unsplash
Pemikiran Ananda sejalan dengan yang dituturkan Ranesha Naura, yang juga merupakan pelajar SMP. Ranesha mengungkapkan bahwa ia memang pernah membaca cerita dewasa maupun cerita dengan tokoh yang memiliki perilaku menyimpang, tapi baginya perilaku menyimpang semacam itu bukanlah perilaku yang dianggapnya romantis.
“Gue selalu memposisikan diri gue sebagai pemain cerita biar dapet feel-nya. Makanya kalo posesif gitu gue enggak suka,” jelasnya.
Ranesha menambahkan bahwa sebenarnya cerita semacam itu memang cukup banyak disukai. Secara umum mungkin sampai menyentuh ribuan pembaca, tapi pasti ada juga yang memiliki pembaca sampai jutaan.
Pandangan Psikolog Anak dan Remaja
Kemungkinan terburuk yang bisa terjadi karena banyaknya terpaaan cerita dewasa dan cerita yang meromantisasi perilaku menyimpang terhadap anak di bawah umur dijelaskan oleh psikolog anak dan remaja Stella Sriwulandari.
“Dari sisi psikologi, terlalu banyak melihat konten bermuatan pornografi dapat menjadi salah satu indikasi ketagihan atau addict. Kalau sudah addict dengan sesuatu, kehidupan sehari-hari bisa terganggu karena fokusnya terus pada hal tersebut. Emosi juga tidak terkendali terutama saat terhalang memenuhi keinginannya,” ujar Stella menjelaskan.
Banyak Cerita Meromantisasi Perilaku Menyimpang (Posesif, Obsesif, Manipulatif, Kekerasan)
Cukup banyak cerita dengan alur yang meromantisasi perilaku menyimpang dari tokohnya, seperti posesif, obsesif, manipulatif dan atau kasar secara fisik. Padahal perilaku semacam itu bisa menyebabkan hubungan menjadi tidak sehat atau kerap disebut toxic relationship.
Misalnya, perilaku manipulatif dapat membuat seseorang tidak sadar sedang dimanfaatkan karena alasan cinta, serta mendapat tekanan fisik ataupun psikis. Dikutip dari hellosehat.com, perilaku posesif yang berlebihan pun dapat mengindikasikan gangguan mental Borderline Personality Disorder (BPD) yang jika dibiarkan bisa berkembang menjadi kasar secara verbal dan fisik. Bahkan, cinta yang berasal dari obsesi sebenarnya adalah bentuk dari masalah psikologis yang dapat membuat seseorang berperilaku kompulsif.
Meski perilaku semacam itu adalah perilaku menyimpang, tapi karena diromantisasi melalui cerita, ada pembaca yang berpikir perilaku penyimpangan itu adalah hal yang romantis . Bahkan karena tingginya peminat cerita jenis itu, terdapat pola yang sama pada cerita dengan karakter tokoh yang memiliki penyimpangan perilaku. Biasanya tokoh cerita tersebut adalah pria kaya dan sosok yang dominan.
Seorang pelajar SMP, Ananda Kurnia, merupakan salah satu anak di bawah umur yang suka membaca cerita dengan karakter berperilaku menyimpang di Wattpad. “Cerita kayak CEO-CEO gitu biasanya karakter cowoknya, tuh, posesif. Kalo menurut aku cerita kayak gitu romantis, tapi tergantung alurnya gimana, sih,” ucapnya.
Tapi meski Ananda suka membaca cerita semacam itu, ia menjelaskan bahwa ia tidak ingin memiliki pasangan dengan perilaku menyimpang. “Aku maunya cowok kayak gitu cuma di khayalan aku aja. Aku cuma suka sama ceritanya karena menurutku itu romantis,” katanya.

Foto: Unsplash
Pemikiran Ananda sejalan dengan yang dituturkan Ranesha Naura, yang juga merupakan pelajar SMP. Ranesha mengungkapkan bahwa ia memang pernah membaca cerita dewasa maupun cerita dengan tokoh yang memiliki perilaku menyimpang, tapi baginya perilaku menyimpang semacam itu bukanlah perilaku yang dianggapnya romantis.
“Gue selalu memposisikan diri gue sebagai pemain cerita biar dapet feel-nya. Makanya kalo posesif gitu gue enggak suka,” jelasnya.
Ranesha menambahkan bahwa sebenarnya cerita semacam itu memang cukup banyak disukai. Secara umum mungkin sampai menyentuh ribuan pembaca, tapi pasti ada juga yang memiliki pembaca sampai jutaan.
Pandangan Psikolog Anak dan Remaja
Kemungkinan terburuk yang bisa terjadi karena banyaknya terpaaan cerita dewasa dan cerita yang meromantisasi perilaku menyimpang terhadap anak di bawah umur dijelaskan oleh psikolog anak dan remaja Stella Sriwulandari.
“Dari sisi psikologi, terlalu banyak melihat konten bermuatan pornografi dapat menjadi salah satu indikasi ketagihan atau addict. Kalau sudah addict dengan sesuatu, kehidupan sehari-hari bisa terganggu karena fokusnya terus pada hal tersebut. Emosi juga tidak terkendali terutama saat terhalang memenuhi keinginannya,” ujar Stella menjelaskan.
Lihat Juga :