Rumah Tapak Masih Jadi Primadona Pilihan Masyarakat
Sabtu, 14 Agustus 2021 - 12:31 WIB
loading...
A
A
A
Demografi pasar pencari properti turut memperlihatkan perubahan yang menarik. Jawa Timur memegang posisi pertama sebagai daerah dengan pertumbuhan minat pembelian properti tertinggi. Berdasarkan statistik 99 Group pada kuartal II/2021, minat properti di Jawa Timur bahkan melebihi Banten, Jawa Barat, dan Jabodetabek.
Dari segi harga, properti dengan yang dipasarkan di bawah Rp400 juta sampai Rp1 miliar masih menjadi yang paling diminati oleh lebih dari 50 persen konsumen saat ini. Meskipun demand properti di kisaran harga ini mencapai hampir 60 persen, suplai yang ada hanya 40 persen, sehingga ini masih belum dapat memenuhi kebutuhan konsumen.
Selain harga, survei konsumen 99 Group membuktikan bahwa faktor lokasi dan fasilitas masih jadi prioritas utama konsumen saat membeli properti. Pembelian properti dengan metode kredit bank atau KPR masih jadi pilihan utama konsumen, dengan cash keras jadi alternatif lain yang cukup diminati.
Berbanding lurus dengan data tersebut, potongan harga merupakan promosi yang paling diharapkan konsumen dari developer.
CEO Leads Property Services Indonesia, Hendra Hartono mengutarakan, untuk menarik perhatian konsumen, pihak developer bisa fokus untuk memberikan promo harga dan KPR, baik berupa diskon maupun cashback. "Sementara konsumen bisa memanfaatkan promo KPR dari developer yang bekerja sama dengan bank," lanjutnya.
Di sisi lain, tren suplai properti terbesar masih terkonsentrasi di 3 lokasi utama, yakni DKI Jakarta sebesar 38,6 persen, Jawa Barat (23,1 persen), dan Jawa Timur (16,2 persen). Dengan jumlah demand (32 persen) yang melebihi supply (23,1 persen), Jawa Barat memiliki peluang menjanjikan bagi pengembang yang ingin meningkatkan jumlah properti di daerah tersebut.
Berbanding terbalik, kondisi sebaliknya justru terjadi di Jawa Timur. Meskipun pertumbuhan jumlah pencari properti di daerah ini sangat baik, tren supply and demand di Jawa Timur masih belum seimbang. Rekam data Tim Analis 99 Group mencatat demand yang hanya berada di angka 7.7 persen dengan suplai sebesar 16.2 persen.
Dari segi harga, properti dengan yang dipasarkan di bawah Rp400 juta sampai Rp1 miliar masih menjadi yang paling diminati oleh lebih dari 50 persen konsumen saat ini. Meskipun demand properti di kisaran harga ini mencapai hampir 60 persen, suplai yang ada hanya 40 persen, sehingga ini masih belum dapat memenuhi kebutuhan konsumen.
Selain harga, survei konsumen 99 Group membuktikan bahwa faktor lokasi dan fasilitas masih jadi prioritas utama konsumen saat membeli properti. Pembelian properti dengan metode kredit bank atau KPR masih jadi pilihan utama konsumen, dengan cash keras jadi alternatif lain yang cukup diminati.
Berbanding lurus dengan data tersebut, potongan harga merupakan promosi yang paling diharapkan konsumen dari developer.
CEO Leads Property Services Indonesia, Hendra Hartono mengutarakan, untuk menarik perhatian konsumen, pihak developer bisa fokus untuk memberikan promo harga dan KPR, baik berupa diskon maupun cashback. "Sementara konsumen bisa memanfaatkan promo KPR dari developer yang bekerja sama dengan bank," lanjutnya.
Di sisi lain, tren suplai properti terbesar masih terkonsentrasi di 3 lokasi utama, yakni DKI Jakarta sebesar 38,6 persen, Jawa Barat (23,1 persen), dan Jawa Timur (16,2 persen). Dengan jumlah demand (32 persen) yang melebihi supply (23,1 persen), Jawa Barat memiliki peluang menjanjikan bagi pengembang yang ingin meningkatkan jumlah properti di daerah tersebut.
Berbanding terbalik, kondisi sebaliknya justru terjadi di Jawa Timur. Meskipun pertumbuhan jumlah pencari properti di daerah ini sangat baik, tren supply and demand di Jawa Timur masih belum seimbang. Rekam data Tim Analis 99 Group mencatat demand yang hanya berada di angka 7.7 persen dengan suplai sebesar 16.2 persen.
Lihat Juga :