Panduan Hadapi Quarter Life Crisis: dari Kesehatan Mental, Finansial, sampai Hubungan Sosial
Kamis, 19 Agustus 2021 - 18:08 WIB
loading...
A
A
A
4. UBAH KRISIS JADI PELUANG UNTUK BERSINAR
![Panduan Hadapi Quarter Life Crisis: dari Kesehatan Mental, Finansial, sampai Hubungan Sosial]()
Foto:Dok. AIESEC UNJ
Krisis tidak selamanya buruk. Hal ini bergantung pada sudut pandang kita. Bahkan krisis dapat menjadi pondasi awal yang membuat kita menjadi lebih kuat.
Putu Rarasati, Head of Medical Research Social Connect, memaparkan bahwa QLC membawa manfaat bagi kita. Mulai dari mendorong mencoba hal baru hingga membentuk pribadi yang lebih dewasa. Selain itu, QLC juga membantu membangun prioritas, mengenali potensi diri, dan membantu mengelola perubahan yang berdampak pada masa depan.
dalam masa krisis, takut akan suatu hal adalah hal yang sangat wajar. Raras menjelaskan terkadang kita harus merelakan sesuatu dan “It is okay not to be okay”
Terkadang menjadi realisitis lebih baik dibandingkan memaksakan menjadi sempurna. Sebab manusia adalah tempatnya salah dan lupa untuk selalu belajar dan berkembang.
Baca Juga: Inilah Soft Skill yang Bikin Pekerja Disenangi di Kantor
Apresiasi terhadap pencapaian sekecil mungkin adalah afirmasi positif dalam menghadapi QLC. Sekecil apa pun perkembangan yang dicapai harus tetap dihargai.
Selain itu, dukungan dari lingkungan sekitar (support system) yang paling utama adalah diri sendiri. Cobalah meyakinkam diri sendiri bahwa kamu adalah yang terbaik. Selanjutnya, pola pikir “I can do this!” mesti ditanamkan supaya lebih percaya diri.
Terakhir, kamu bisa mencoba mencari dukungan yang mampu membantu agar kamu bisa terus berkembang menjadi lebih baik.
Eka Sarmila
Kontributor GenSINDO
Universitas Negeri Jakarta
Instagram: @eka_sarmila_

Foto:Dok. AIESEC UNJ
Krisis tidak selamanya buruk. Hal ini bergantung pada sudut pandang kita. Bahkan krisis dapat menjadi pondasi awal yang membuat kita menjadi lebih kuat.
Putu Rarasati, Head of Medical Research Social Connect, memaparkan bahwa QLC membawa manfaat bagi kita. Mulai dari mendorong mencoba hal baru hingga membentuk pribadi yang lebih dewasa. Selain itu, QLC juga membantu membangun prioritas, mengenali potensi diri, dan membantu mengelola perubahan yang berdampak pada masa depan.
dalam masa krisis, takut akan suatu hal adalah hal yang sangat wajar. Raras menjelaskan terkadang kita harus merelakan sesuatu dan “It is okay not to be okay”
Terkadang menjadi realisitis lebih baik dibandingkan memaksakan menjadi sempurna. Sebab manusia adalah tempatnya salah dan lupa untuk selalu belajar dan berkembang.
Baca Juga: Inilah Soft Skill yang Bikin Pekerja Disenangi di Kantor
Apresiasi terhadap pencapaian sekecil mungkin adalah afirmasi positif dalam menghadapi QLC. Sekecil apa pun perkembangan yang dicapai harus tetap dihargai.
Selain itu, dukungan dari lingkungan sekitar (support system) yang paling utama adalah diri sendiri. Cobalah meyakinkam diri sendiri bahwa kamu adalah yang terbaik. Selanjutnya, pola pikir “I can do this!” mesti ditanamkan supaya lebih percaya diri.
Terakhir, kamu bisa mencoba mencari dukungan yang mampu membantu agar kamu bisa terus berkembang menjadi lebih baik.
Eka Sarmila
Kontributor GenSINDO
Universitas Negeri Jakarta
Instagram: @eka_sarmila_
(ita)
Lihat Juga :