Film Pendek Hari ke-40, Mahasiswa Demonstran dan Kebaikan yang Diwariskan

Jum'at, 03 September 2021 - 17:00 WIB
loading...
A A A
Pergerakan cerita pun berada dalam kisaran isu yang sensitif, yaitu kekerasan pada demonstran. Tindakan represif aparat yang dimunculkan dalam beberapa detik durasi film ini, laksana berkas lama dalam tumpukan arsip masa lalu yang dibuka kembali. Sebagai alat pemerintah dalam menegakkan ketertiban umum, aparat tanpa segan menggunakan kekuatannya untuk menjalankan fungsi tersebut.

Dalam beberapa kasus, agresivitas diklaim sebagai pemicu tindakan represif aparat. Tindakan intimidatif verbal berupa ejekan atau hinaan yang berkembang menjadi agresi fisik, seperti mendorong, memukul, melempar, atau menendang menjadi pemicu atas tindakan aparat tersebut. Bentrok kepentingan antara aparat yang bertujuan menciptakan keadaan aman dan kondusif, berseberangan dengan demonstran yang ingin menyampaikan aspirasinya secara bebas dan terbuka.

Ketidakmampuan suatu kelompok untuk menyalurkan aspirasinya secara lugas dan bebas, dalam film ini diwakili oleh sosok Ilham. Ilham menanggung sakit, melihat rekan-rekannya diinjak dan dipukuli, tanpa bisa melakukan apa-apa, karena nasibnya pun tak jauh berbeda dari mereka.

Film Pendek

Foto: Maxstream

Pilihan berani penulis skenario memilih diksi seperti, "Bahkan mungkin udah ada yang mati. Atau seperti biasa, mayatnya disembunyikan, lalu dibuang entah ke mana," menjadi begitu istimewa dan membekas. Sosok Ilham seolah memang sengaja diciptakan untuk mengingatkan, betapa gelombang aksi mahasiswa sebagai pengawal reformasi pernah demikian mashur, sekalipun menyisakan pilu bagi sejarah kehidupan demokrasi bangsa.

Karakter Ilham yang peduli terhadap sesamanya, dan keinginannya turun berdemonstrasi, rupanya terinspirasi dari Mahatma Gandhi dan Wiji Tukul. Gandhi dikenal sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan India yang mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan untuk melawan kolonialisme. Sementara Wiji Thukul adalah seorang penyair dan aktivis hak asasi manusia yang dinyatakan hilang pada 1998 yang penuh gejolak.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jenia Short Movie Competition...
Jenia Short Movie Competition 2025 Dorong Karya Inspiratif Generasi Muda
Film Pendek #KitaBerkebaya...
Film Pendek #KitaBerkebaya Ajak Generasi Muda Lestarikan Identitas Perempuan Indonesia
Film Pendek Kebaya Kala...
Film Pendek Kebaya Kala Kini Meriahkan Hari Kebaya Nasional 2024
Rekomendasi
Komisi IX DPR Cecar...
Komisi IX DPR Cecar BGN usai Pamer Dapat WTP dari BPK: Jangan-jangan Dibikin-bikin
Prabowo: Anggaran Pertahanan...
Prabowo: Anggaran Pertahanan dan Polri jika Perlu Dikurangi untuk Hapus Kemiskinan
Palapa di Pundak Sang...
Palapa di Pundak Sang Jenderal: Gajah Mada, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Siklus 7 Abad Nusantara
Berita Terkini
Berawal dari Iseng Main...
Berawal dari Iseng Main TikTok, Ini Perjalanan Sukses Kreator Konten Nickysya
Obat Kuat dengan Efek...
Obat Kuat dengan Efek hingga 3 Hari, Amankah? Yuk Kenali Faktanya Sebelum Mengkonsumsi
Bring Back My Heart...
Bring Back My Heart Jadi Pilihan Microdrama Romantis yang Seru di V+Short
Terinspirasi Rafathar,...
Terinspirasi Rafathar, Nagita Slavina Gelar Kompetisi Basket SMA
Nathalie Holscher Ungkap...
Nathalie Holscher Ungkap Alasan Mantap Nikahi Arief Fadli
Sinopsis Hotter Than...
Sinopsis Hotter Than Hate, Microdrama Revenge Plot yang Tayang di V+Short
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved